Tampilkan postingan dengan label HKBP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HKBP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Desember 2017

SIAPAKAH YESUS ?

Dalam ilmu kimia,
Dia mengubah air menjadi anggur;

Dalam ilmu biologi,
Dia dilahirkan tanpa pembuahan secara normal;

Dalam ilmu fisika,
Dia menentang hukum gravitasi ketika Dia terangkat ke surga;

Dalam ilmu ekonomi,
Dia menentang hukum hasil yang menurun melalui memberi makan 5000 laki-laki dengan 2 ikan dan 5 roti;

Dalam ilmu kedokteran,
Dia menyembuhkan yang sakit dan yang buta tanpa memberikan satu dosis obat apapun;

Dalam sejarah,
Dia adalah yang awal dan yang akhir;

Dalam pemerintahan,
Dia mengatakan bahwa Dia seharusnya disebut Penasihat Ajaib, Raja Damai;

Dalam agama,
Dia mengatakan tidak ada seorangpun yang datang pada Bapa kecuali melalui Dia;

Jadi, siapakah Dia? Dia adalah Yesus!

Manusia Terhebat dalam Sejarah

Yesus tidak mempunyai pelayan,
tetapi mereka memangil Dia Tuan.

Tidak memiliki gelar,
tetapi mereka memanggil Dia Guru.

Tidak mempunyai obat-obatan,
tetapi mereka menyebut-Nya Sang Penyembuh.

Tidak memiliki pasukan,
tetapi raja-raja gentar pada-Nya.

Dia tidak memenangkan pertempuran militer, tetapi Dia menaklukkan dunia.

Dia tidak melakukan kejahatan,
tetapi mereka menyalibkan Dia.

Dia dikubur dalam sebuah makam,
tetapi hari ini Dia hidup.

Saya merasa terhormat melayani Pemimpin yang sedemikian, pemimpin yang mengasihi kita.

Bergabunglah dengan saya dan marilah menyambut Dia; Dia layak.

Mata yang melihat pesan ini kiranya tidak melihat yang jahat.

Tangan yang mengirimkan pesan ini kepada setiap orang seharusnya tidak melayani dengan sia-sia,

dan mulut yang berkata Amin atas doa ini kiranya tersenyum selamanya.

Tinggallah dalam Allah dan carilah wajah-Nya selalu.Amin!

Dalam Allah saya telah menemukan segala sesuatu!

Kirimkan ini pada semua orang yang Anda pedulikan.

Biarlah orang mengenal pekerjaan Tuhan YESUS kita.

Biarlah seluruh dunia mengapresiasi Tuan di atas tuan.

Janganlah malu menyebarkan injil..😊

HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA
🙏 Tuhan memberkati Anda

Rabu, 20 Juni 2012

Etos Batak Kristen, Fraktal Batak, dan Kepemimpinan Gerejawi

Oleh JANSEN SINAMO Disampaikan pada Seminar Nasional bertajuk “Pasca Jubelium 150 Tahun HKBP dan Kepemimpinan Gerejawi”, di Aula STT HKBP Nommensen, Pematangsiantar, 8 Juni 2012 SECARA KULTURAL etos adalah sebab utama di balik keberhasilan suatu masyarakat: mencakup falsafahnya, ideal-idealnya, serta nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang memandu perjuangan hidup mereka. Secara sosial etos tersebut terutama tampil sebagai seperangkat perilaku positif, etika dan etiket antarmanusia, serta kebiasaan hidup produktif yang menjadi pondasi sekaligus instrumen keberhasilan mereka, yang juga sebagai penanda kelas sosial mereka. Dalam kaitan inilah lazim dibicarakan etos Protestan di Barat dan etos Bushido di Timur. Kedua bangsa pemilik etos tersebut—Jerman dan Jepang—juga selalu menjadi contoh klasik kemajuan bangsa yang berbasiskan etos.[1]
Sayangnya, hingga kini etos Batak Kristen belum pernah dipelajari dan dirumuskan orang secara Weberian, sebagaimana Max Weber dahulu (1905) mengkaji dampak keluhuran-keluhuran teologis yang diajarkan para reformator gereja sejak 1517 yang menjelma menjadi etos Protestan yang tersohor, yang secara koinsidental oleh Weber juga disebut sebagai semangat kapitalisme awal di Barat. Maka, demi memenuhi permintaan panitia seminar ini, saya berusaha merumuskan etos Batak Kristen secara non-Weberian—kemudian mengaitkannya dengan konsep kepemimpinan gerejawi—melalui penggunaan teori fraktal, yang beberapa dekade belakangan ini sangat luas dipakai untuk menjelaskan berbagai fenomena acak, nonlinier, dan kompleks.[2] Fraktal: Dari Matematika ke Sosiologi Fraktal (dari bahasa Latin “fractus” artinya patahan atau retakan) aslinya berarti sebuah besaran geometris berbentuk kurvatur di mana setiap bagiannya memiliki karakter yang sama pada berbagai dimensinya. Dikatakan sederhana: fraktal adalah bentuk primordial yang berulang terus menerus menuju skala yang lebih besar, dan sebaliknya. Dikatakan berbeda: fraktal adalah kuantitas yang memiliki sifat self-similarity yang berlangsung secara progresif ke semua penjuru. Fraktal banyak digunakan dalam pemodelan struktur-struktur yang tidak beraturan—sistem kompleks umumnya—seperti garis pantai, kontur pegunungan, atau hamparan awan di mana bentuk dasar yang amat mirip selalu berulang secara progresif. Fraktal memang ampuh menjelaskan berbagai fenomena acak seperti turbulensi arus sungai yang menukik, progres penyempurnaan jaringan saraf di otak, atau proses pembentukan galaksi di alam semesta ini. Dengan mengetahui fraktal sebuah fenomena, maka apa yang acak tidak lagi membingungkan, tetapi justu terlihat polanya, yang sesungguhnya juga teratur. Dengan teknologi fraktal kita bisa menemukan keteraturan dalam keacakan, dan menciptakan keteraturan dari kekacauan. Fraktal adalah sebuah sub-cabang matematika: geometri fraktal namanya. Fraktal tergolong ilmu yang relatif baru, bekembang pesat sejak 1975. Pengguna awalnya adalah fisika karena di alam ini gejala acak dan kompleks sangat banyak dijumpai seperti perubahan cuaca, peluruhan radioaktif, atau eskalasi gempa bumi. Belakangan, diikuti pula oleh kimia, biologi, dan ekonomi. Yang terakhir ini misalnya dalam prediksi harga-harga saham di pasar modal yang pergerakannya selalu acak alias tidak teratur. Menurut saya, fraktal juga cocok dipakai dalam sosiologi, karena fenomena sosial pun pada dasarnya bersifat non-deterministik, non-linier, dan serba acak, namun memiliki karakter self-similarity, perulangan faktor yang mirip. Dan dalam artian inilah etos Batak hendak dirumuskan melalui penemuan fraktal Batak, yaitu tema primordial yang selalu berulang dalam masyarakat Batak. Temanya memang sama (very similar) tetapi perwujudannya selalu unik pada masing-masing orang Batak yang secara keseluruhan menampilkan keberagaman (diversitas, kebhinekaan) masyarakat Batak itu sendiri. Fraktal Raja dalam Kebudayaan Batak Dengan analisis wacana sepintas saja, tampak jelas bahwa raja adalah fraktal orang Batak. Artinya, secara wacana konsep raja adalah pikiran utama dalam kebudayaan Batak. Ibarat as roda, seluruh hidup orang Batak berputar abadi mengelilingi konsep raja. Dalam struktur sosialnya semua orang Batak adalah raja: hula-hula, dongan tubu, dan boru. Dalam acara dan upacara adat Batak yang serba trilateral itu, selalu terdengar panggilan, misalnya: Raja Simanjuntak, Raja Panjaitan, dan Raja Tampubolon. Mereka pun saling menyapa: raja nami, raja bolon, amanta raja, atau horas di raja i, sambil menyebut diri mereka anak ni raja dan boru ni raja; sebab kalau bukan anak ni raja, seorang Batak pastilah anak ni hatoban. Secara tradisional, raja adalah orang merdeka, memiliki tanah leluhur, rumah adat bersama, dan kampung asal primordial (bona ni pasogit), di samping punya silsilah resmi (tarombo) yang bisa dirunut hingga ke leluhur perdana orang Batak, lazim disebut Si Raja Batak. Secara profesional, seorang raja adalah tokoh utama atau orang pertama. Maka kita mengenal gelar raja ihutan (kepala wilayah di masa kolonial), raja bondar (ketua yang mengurusi soal irigasi desa), raja parhata (juru bicara utama dalam sebuah acara adat), atau raja pahobas (pimpinan regu logistik dalam sebuah hajatan). Secara material, seorang raja ditandai dengan kemampuannya sebagai parbahul-bahul na bolon, paramak so balunon, parsangkalan so mahiang, artinya orang yang berkemakmuran. Dan lebih dari sekadar berkemakmuran: ia haruslah seseorang yang berjiwa kaya, murah hati, dan senang berbagi. Inheren dalam pengertian raja adalah perilaku sosio-kultural yang luhur: khususnya bersikap benar dan hormat (somba), saksama dan berlaku adil (manat), serta persuasif dan berbelas kasih (elek). Ketiganya adalah perilaku kardinal dalam adat budaya Batak yang masing-masing dapat diterjemahkan menjadi puluhan perilaku luhur lainnya. Sering pula perilaku luhur itu dinyatakan secara puitik-simbolik, misalnya dalam ungkapan parhatian sibola timbang, parninggala sibola tali; pamuro so marumbalang, parmahan so marbotahi (pemegang neraca yang setimbang, penarik bajak yang lurus; penjaga padi tanpa umban, gembala kerbau tanpa pecut). Seluruh perilaku ideal orang Batak, termasuk tri-kardinal tadi: somba, manat, elek; sesungguhnya dapat disublimasikan menjadi satu saja: raja! Artinya, setiap orang Batak wajib berperilaku rajani dan diraja (royal) terhadap hula-hula, dongan tubu, dan boru; termasuk dongan sahuta, bahkan terhadap semua orang. Mencuri pun, jika terpaksa, orang Batak haruslah bersikap rajani; istilah aslinya: tangko raja. Jadi, meskipun dalam sejarahnya bangso Batak tidak pernah formal berkerajaan seperti monarki Jawa, Inggris, atau Belanda, tetapi orang Batak umumnya sangat terobsesi menjadi raja, yakni menjadi tokoh utama yang tampil mulia, berperilaku secara diraja, dan ingin diperlakukan dengan rajani: mulia, agung, dan penuh kehormatan. Ketika semangat (spirit, ethos) rajani ini berkolaborasi dengan bakat dan talenta individual anak-anak Batak, umumnya disertai dengan munculnya kesempatan yang exploitable dan menjanjikan, maka lahirlah daya juang besar nan visioner: menjadi raja! Dan lewat proses panjang, orang-orang Batak itu pun akhirnya menjadi raja tekstil (misalnya TD Pardede), raja surat kabar (misalnya GM Panggabean), raja asuransi (misalnya KM Sinaga), raja sawit (misalnya DL Sitorus), atau raja fotografi (misalnya Edward Tigor Siahaan). Juga tentu: raja parhata, raja parlapo, bahkan raja napogos. Dalam konteks masyarakat global di abad ke-21 ini, kita tentu membutuhkan lahirnya ribuan raja Batak lainnya: raja catur, raja gitar, raja sulim, raja tinju, raja monsak, raja ban, raja solar, raja listrik, raja komputer, raja ikan, raja kapal, raja farmasi, raja real estate, raja parjamita, raja parende, raja parengge-rengge, raja panurat, raja panuturi, dan sebagainya dan seterusnya; tidak hanya pada tingkat lokal di Tanah Batak, tetapi juga level nasional bahkan internasional. Untuk itu, patutlah kita berdoa dan bekerja keras: kiranya raja-raja baru dari bangso Batak semakin bermunculan: yakni orang nomor wahid di bidangnya, berkemakmuran secara material, berbudi luhur nan rajani, serta berperilaku mulia nan diraja, di mana mereka pun berada. Universal diterima: raja seperti inilah yang dimaksud dengan pemimpin, termasuk pemimpin gerejawi. *** Orang Batak Kristen: Kawula Kerajaan Allah Kebetulan atau tidak, konsep utama agama Kristen adalah Kerajaan Allah. Inilah tema besar Perjanjian Baru, yaitu tujuan kedatangan Kristus ke dunia, seperti diungkapkan Yesus sendiri: Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus (Luk. 4:43).[3] Kerajaan Allah adalah ruang-waktu, keadaan atau kondisi pada mana kehendak Allah berlaku seratus persen, yaitu sebuah tata kehidupan dimana pemerintahan Allah berlangsung secara penuh, seperti yang diharapkan Yesus dalam doa yang diajarkan-Nya kepada para rasul: Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Jelas betul di sini, Yesus mau agar kehendak Bapa-Nya, Sang Raja Sorga, berlaku sepenuhnya di bumi. Dan selama masa pelayanan-Nya yang pendek di bumi, Yesus terus berbuat dan bekerja mewujudkan kehendak Bapa-Nya sehingga orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik; serta setan-setan diusir dengan kuasa Roh Allah (Mat. 11:5; 12:28). Kerajaan Allah sudah datang! Begitulah Yesus memaknai seluruh pekerjaan-Nya, sekaligus menjawab murid-murid Yohanes Pembaptis yang diutus menanyai ihwal kemesiasan-Nya. Sejarah menunjukkan, itu juga yang dikerjakan para pemberita Injil awal di Tanah Batak sekitar 150 tahun silam sehingga orang Batak kelak mengakui: mereka telah berpindah dari kegelapan kepada terang. Dan sesungguhnya , itu pula yang wajib dikerjakan HKBP (dan gereja apa pun) di dunia ini: mewujudkan Kerajaan Allah di bumi dengan format dan bentuk yang lebih relevan dan kontekstual. *** Datangnya Kerajaan Allah pertama kali diwartakan oleh Yohanes Pembaptis dengan seruan untuk segera bertobat dan memberi diri dibaptis. Kata Yohanes: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! (Mat. 3:2). Dalam Alkitab versi bahasa Indonesia sehari-hari (BIS) kalimat di atas diterjemahkan begini: Bertobatlah dari dosa-dosamu, karena Allah akan segera memerintah sebagai Raja! Seruan itu pula yang dikatakan Yesus sesegera Ia tuntas berpuasa 40 hari 40 malam dan memenangi pencobaan Iblis di gurun. Maka Yesus pun segera tampil di Galilea dan berseru dengan lantang: Bertobatlah dari dosa-dosamu, karena Allah akan segera memerintah sebagai Raja! (Mat. 4:17; BIS). Wujud Kerajaan Allah bagi Yesus—kita tahu lewat perumpamaan, pengajaran, dan perbuatan-Nya—ialah hadirnya kenyataan-kenyataan baru: orang lemah dikuatkan, orang lelah disegarkan, orang sengsara dihiburkan, orang lapar diberi makan, orang kusta ditahirkan, orang lumpuh diberdayakan, orang sakit disembuhkan, orang kerasukan dilepaskan, orang mati dibangkitkan, orang jahat bertobat kembali, orang buta dapat melihat, orang kecil diberi peranan, orang hina martabatnya dipulihkan, dan banyak lagi; semuanya oleh kuasa Roh Allah. Dan dengan meneliti ucapan-ucapan Yesus tentang bagaimana seharusnya kawula Kerajaan Allah bersikap dan berperilaku (baca: menampilkan etos baru dalam hidup mereka) maka paling sedikit kita dapat menemukan delapan kelompok etos sebagai berikut ini: (1) tulus dan berbelas kasih, (2) jujur dan bertanggung jawab, (3) serius dan bersungguh-sungguh, (4) gigih dan sepenuh hati, (5) penyayang dan penuh kasih, (6) cerdik dan penuh hikmat, (7) teliti dan berketekunan, serta (8) melayani dan rendah hati. Secara adjektiva, inilah yang saya sebut sebagai Delapan Etos Kerja Kristiani. Dan bila dinyatakan secara nomina, inilah delapan nilai utama (core values) Kerajaan Allah. Mudah memahami mengapa kita harus mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lain, sebab kedelapan nilai utama inilah sumber segala sesuatu bagi kehidupan yang penuh sukacita dan damai sejahtera. Dan kata Yesus tentang hal ini: bila Kerajaan Allah menjadi fokus utama dan prioritas pertama dalam seluruh perjuangan hidup orang Kristen—yaitu mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya—maka semua soal-soal lain, termasuk keuangan dan ekonomi, sandang dan pangan, sosial dan kultural, akan ditambahkan-Nya kepada semua kawula kerajaan-Nya (Mat. 6:33); dan tentu saja dengan berkelimpahan sesuai dengan kekayaan kemurahan-Nya: yakni suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaan mereka (Luk. 6:38a). Gereja dan Kerajaan Allah Gereja yang merupakan Tubuh Kristus adalah jemaat (assembly, conggregation) dalam Kerajaan Allah. Perlu pula ditegaskan bahwa gereja adalah satu-satunya institusi yang didirikan Kristus, yang untuk menjadi anggotanya seseorang perlu menyatakan iman secara formal kepada Yesus, memberi diri dibaptis (Mat. 28:19), serta aktif berpartisipasi dalam sebuah persekutuan iman dan kasih dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (1Yoh. 1:3; Ibr. 10:25). Kata Paulus kemudian: Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya (1Kor. 12:27). Sebelumnya, Yesus sendiri yang mendirikan jemaat itu ketika pada suatu kesempatan Ia berkata kepada Simon bin Yohanes, disaksikan murid-murid yang lain, ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Dan tidak hanya itu, Yesus yang sekaligus kepala jemaat itu, juga memberikan rasul-rasul maupun nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala, dan pengajar-pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus (baca: anggota jemaat) bagi pekerjaan pelayanan, yakni bagi pembangunan jemaat, sehingga semua mencapai kepenuhan Kristus, dan setiap anggota sesuai dengan kadar pekerjaannya menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih (Ef. 4:11-16). Dari dalam persekutuan iman inilah jemaat dipanggil ke luar (ekklesia) untuk mewartakan dan mengaktualisasikan Kerajaan Allah di dunia—dengan ora et labora—seperti yang ditegaskan Rasul Petrus: Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1Ptr. 2:9); sehingga sesudah menikmati seluruh berkat dan karunia Allah di dalam Kristus, orang Kristen wajib meneladankan semangat Kristus ketika melayani masyarakat, menampilkan diri sebagai duta Kerajaan Allah bagi dunia (1Ptr. 2:10-22), sehingga Kerajaan Allah berkembang semakin luas, baik cakupannya (scope, territory, area) maupun pengaruhnya (force, power, influence), bagi tegaknya kebenaran, terselenggaranya damai sejahtera, dan berlimpahnya sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17) bagi semua orang di dunia, termasuk warga HKBP di mana saja. Jelas sudah, demi perwujudan Kerajaan Allah inilah raja-raja Batak yang kawula Kerajaan Allah harus bekerja keras seraya menampilkan kepemimpinannya dengan berkualitas. *** TENTANG PENULIS JANSEN SINAMO sehari-hari lebih dikenal sebagai guru etos yang rajin menulis dan berbicara tentang etos kerja profesional sejak lebih dari sepuluh tahun silam. Pria kelahiran Sidikalang ini awalnya bekerja sebagai seismic engineer selepas menamatkan studinya dari Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung. Tetapi minatnya pada bidang kemasyarakatan kemudian mengubah karirnya dan bergabung dengan Dale Carnegie Training, sebuah lembaga sumber daya manusia yang berbasis di New York. Pada tahun 2000 ia mendirikan Institut Mahardika dan memulai debutnya sebagai guru etos di negeri ini. Kolomnis harian KOMPAS ini hingga kini telah menulis 12 buku: Teologi Kerja Modern dan Etos Kerja Kristiani; Sains, Etika, dan Keluhuran; 8 Etos Kerja Profesional; 8 Etos Keguruan; Kafe Etos; Kepemimpinan Kredibel Kepemimpinan Visioner; Mengubah Pasir Menjadi Mutiara; Strategi Adaptif Abad Ke-21; Berselancar di Atas Gelombang Perubahan; Dampak Operasi PT Inti Indorayon Utama terhadap Lingkungan Danau Toba; Dairi dalam Lintasan Sejarah; serta Dairi: The Hidden Prosperity; dan bermaksud menulis lebih banyak buku lagi di masa depan. Pria berkaca mata ini telah dikaruniai dua orang anak, Imanda Priskila Sinamo (22 tahun) dan Marco Antonio Carnegie Sinamo (20 tahun), buah pernikahannya dengan Tri Handayani Koosman. Mereka sekeluarga berjemaat di GKPPD Cililitan, dan bertempat tinggal di daerah Pulogebang, Jakarta Timur. Untuk keperluan profesional, ia bisa dihubungi melalui situsnya di www.8etos.com atau kantornya di 021-480-1514 dan 0811-940-709. ________________________________________ [1] Salah satu pengertian etos adalah seperti yang tertulis dalam http://dictionary.reference.com: “ethos (sociology) the fundamental character or spirit of a culture; the underlying sentiment that informs the beliefs, customs, or practices of a group or society; dominant assumptions of a people or period: In the Greek ethos the individual was highly valued.” [2] Istilah "fraktal" pertama kali digunakan oleh ahli matematika Prancis, Benoît Mandelbrot, pada tahun 1975. [3] Saya menduga, mudahnya orang Batak menerima agama Kristen yang diwartakan para misionaris Jerman sekitar 150 tahun silam, adalah karena afinitas konsep raja dan kerajaan ini dalam budaya Batak dan agama Kristen itu sendiri. Tentu hal ini masih harus diteliti oleh para sosiolog agama di masa depan.

Selasa, 25 Mei 2010

Sekjen : HKBP Membutuhkan Pelayan Berdedikasi Tinggi

Ini adalah sebuah refleksi dari Ebenezer Lumbangaol salah seorang peserta Latihan Persiapan Pelayan (LPP) I Calon Pelayan Pendeta, Guru Jemaat, Bibelvrouw dan Diakones yang diadakan tanggal 8-22 Pebruari 2010 di Seminarium Sipoholon.

Sekjen : HKBP Membutuhkan Pelayan Berdedikasi Tinggi

Salah satu kekurangan mendasar pelayan gereja adalah kesombongan dan kemunafikan. Kesombongan muncul dari perasaan lebih tahu dari orang lain. Sedangkan kemunafikan muncul akibat lunturnya idealisme oleh realitas medan pelayanan yang amat berbeda dengan gambaran ideal yang dibayangkan sebelumnya.

Demikian Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Ramlan Hutahaean, MTh saat menyampaikan pesan pemberangkatan kepada peserta Latihan Persiapan Pelayanan (LPP) I calon pelayan HKBP di Seminarium Sipoholon (20/1).

Di tangah-tengah dinamika pelayanan yang semakin kompleks itu HKBP membutuhkan pelayan-pelayan berdedikasi tinggi, memiliki integritas serta tidak mementingkan diri sendiri. Pelayan HKBP diharapkan mampu berhadapan dengan semua tantangan, tidak melarikan diri dari masalah dan tanggung jawabnya. Pelayan berdedikasi adalah mereka yang tidak cengeng, suka mengeluh dan mudah menyerah.





“Atasi kelemahan di masa lalu dan siapkan diri menjadi pelayan di masa depan. Tunjukkan bahwa anda sudah siap melayani dan bertekad menjadikan pelayanan HKBP lebih baik di masa depan. Anda adalah domba yang akan bertemu singa. Bukan sebaliknya,” pesan Sekjen.

Saat memulai pelayanan adalah saat yang sama dengan dimulainya interaksi dengan banyak pihak dengan berbagai kebutuhan dan kepentingan. Di sana para pelayan yang tidak berdedikasi seringkali mengalami pembusukan idealisme. Pelayan terjebak oleh penilaian-penilaian emosional, rasa suka tidak suka, terperosok dalam pengelompokan yang menganggap pihak lain sebagai musuh yang harus ditaklukkan.

”Saya ingin anda semua sudah siap. Di dalam pelayanan yang sesungguhnya anda akan bertemu dengan orang-orang yang belum tentu mendukung dan menyukai anda. Oleh sebab itu anda harus mampu berkomunikasi dengan semua pihak,” demikian Sekjen.
Menurut Sekjen komunikasi yang baik menghasilkan usaha pemecahan masalah yang dapat diterima semua pihak. Di sana pelayan tidak lagi berusaha menyebarluaskan masalah apalagi dengan cara-cara yang kontraproduktif.

Menurut Sekjen salah satu cara yang bijak dalam berkomunikasi secara efektif adalah dengan melakukan refleksi terhadap segala informasi yang diterima. Tidak menelan bulat-bulat. Seperti ajaran Yesus, pelayan harus cerdik dan bijak menguji semua informasi. “Manis jangan ditelan, pahit jangan dibuang,” pesan pendeta yang telah berpengalaman melayani lebih dari 25 tahun itu.

”Anda harus lebih baik dari yang sekarang. Kritisi dulu diri sendiri. Selebihnya adalah mendengar, memperhatikan dan mempelajari situasi di sekeliling jemaat. Jangan langsung mengkritik. Mata guru, roha sisean,” pesan Sekjen.

Penempatan adalah Pengutusan
Pada bagian lain, Sekretaris Jenderal HKBP menandaskan bahwa penempatan pelayan adalah pengutusan Tuhan melalui HKBP. Oleh sebab itu semua calon pelayan HKBP harus memahami bahwa penentuan tempat pelayanan tidak didasarkan kepada kedekatan relasi atau kepentingan tertentu. Pelayan diharapkan menerima dengan gembira penempatan itu.

”Buang curiga dan rasa tidak suka, tidak ada kolusi dalam penempatan pelayan di HKBP. Semua didasarkan semata-mata kepada kebutuhan pelayanan. Semua daerah pelayanan adalah sama sebagai wilayah pengutusan oleh Tuhan,” ujar Sekjen.

Dengan kesadaran sebagai pengutusan Tuhan maka pelayan harus memiliki kesadaran bahwa tugas pelayanan adalah tugas spiritual. Oleh karena itu semua pergumulan dalam pelayanan sejatinya menjadi pergumulan rohani yang tidak perlu dialihkan menjadi perdebatan dan tarik-menarik kepentingan duniawi.

Sebagai pengutusan maka tugas-tugas calon pelayan harus memiliki bekal utama yakni disiplin. Disiplin dimulai oleh sebuah kesadaran untuk menempatkan diri dengan tepat di dalam struktur organisasi pelayanan HKBP.

”Sesudah sampai di jemaat, segera pelajari dan pahami struktur pelayanan dan realitas jemaat setempat, hormati pendeta ressort yang menjadi mentormu dan berinteraksi dengan baik. Jangan justru menjelek-jelekkan dan menyebarluaskan ketidakpuasan anda ke semua orang. Pelajari dan pahami segala sesuatu dengan hati-hati dan pelan-pelan. Seperti mobil baru, jangan langsung dikebut,” kata Sekjen beranalogi.

Disiplin pribadi juga berarti loyalitas kepada organisasi HKBP. Loyalitas dimaksud dihasilkan melalui ketaatan kepada kaidah-kaidah administratif. Untuk itu Sekretaris Jenderal HKBP menekankan agar para calon pelayan melatih diri menjadi pribadi yang administratif.

”Jadilah pribadi yang terpercaya. Terpercaya berarti kemampuan menepati janji, memiliki integritas dan tidak mengenal kompromi terhadap penyimpangan administrasi yang terjadi di jemaat,” tegas Sekjen.

Penekanan Sekjen terhadap disiplin organisasi dan administrasi ini tidak terlepas dari usaha HKBP menjadikan diri sebagai organisasi yang tersusun dengan rapi. Di dalamnyaterkandung semangat menata diri dalam kaidah-kaidah organisasi yang transparan dan akuntabel. Semangat demikian adalah roh dari Tahun Penatalayanan HKBP 2010 yang telah diluncurkan baru-baru ini.
(Ebenezer L. Gaol)



HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP)

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah Gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat Batak, bahkan juga di antara Gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan resmi berdiri pada 7 Oktober 1861.
Saat ini, HKBP memiliki lebih dari 3 juta anggota di seluruh Indonesia. HKBP juga memunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. Meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.
Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) yang berjarak sekitar 2 km dari Tarutung, ibu kota kabupaten tersebut. Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Kompleks perkantoran HKBP, pusat administrasi organisasi HKBP, berada dalam area lebih kurang 20 hektar. Di kompleks ini juga Ephorus (uskup) sebagai pimpinan tertinggi HKBP berkantor.
HKBP adalah anggota PGI, anggota Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), dan anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD). Sebagai gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di Jenewa, Swiss.




SEJARAH SINGKAT HKBP
1824 Untuk pertama kalinya Misionaris bekerja di Tanah Bata, yaitu Pdt. Ward dan Pdt Burton yang diutus oleh Gereja Baptis Inggris.
1825 - 1829 Perang Bonjol. Tuanku Rao menyerang bangsa Batak
1834 Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman diutus Bandan Zending Boston, Amerika Serikat menginjili di tanah Batak. Kedua Missionaris tsb mati martir di Lobu Pining (Tapanuli Utara)
1840 Seorang ilmuwan, Junghun mengadakan ekspedisi ke tanah Batak. Melalui perjalananya kabar tentang tanah dan orang Batak sampai ke Eropa
1849 Van der Tuuk, yang diutus Lembaga Alkitab Belanda mempelajari Bahasa Batak. Sebagian dari Alkitab diterjemahkannya ke dalam Bahasa Batak dengan menggunakan aksara Batak
1853 Pdt DR Fabri, pemimpin Badan Zending Rheinshe (RMG) setelah melihat karya Van der Tuuk di Negeri Belanda, merasa tertarik untuk mengutus missionaris yang terhambat pekerjaannya di Kalimantan ke tanah Batak.
1857 Pdt Van Asselt yang diutus oleh Pdt Witteven dari Ermerlo Holland bekerja di Tapanuli Selatan
1861 31 Mar
7 Oktober


Orang Batak Pertama menerima Baptisan Kudus, yakni Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon yang dilayani oleh Pdt van Asselt di sipirok
Rapat 4 orang Missionaris di Sipirok membicarakan pembagian wilayah penginjilan. Keempat Missionaris tsb adalah : Pdt Heine, Pdt Klammer, Pdt Betz dan Pdt van Asselt. Tanggal 7 Oktober menjadi hari dimulaikan RMG bekerja di Tnah Batak dan sekaligus menjadi hari kelahiran HKBP
1862 Jemaat di Pangaloan dan Sigompulon Pahae (Tapanuli Utara) berdiri
1864 Mei
20 Mei
29 Mei


25 Desember


Berdiri jemaat di Sipirok
Pdt I.L. Nommensen mendirikan perkambungan Huta Dame di Saitnihuta Ompungsumurung (Tapanuli Utara)
Kebaktian Pertama di Hutadame. Hari ini menjadi hari jadi Jemaat di Dame di Saitnihuta dan Pearaja, dan sekaligus merupakan jemaat yang pertama didirikan Pdt I.L. Nommensen
Baptisan Kudus untuk pertama kalinya dilayankan di Gereja Sipirok. Mereka yang menerima Baptisan Kudus tsb adalah: Tomas Siregar, Pilipus Hutabarat dan Johannes Hutabarat
1865
27 Agustus 13 orang pertama dibaptis di lembah Silindung (Tapanuli Utara)
1867 29 Mar Jemaat HKBP Pansurnapitu berdiri
1868 Sekolah Pnedeta di Parausorat Sipirok dibuka. Murid yang pertama dari sekolah tsb adalah: Thomas, Paulus, markus, Johanes dan Epraim. Sedangkan guru sekolah pendeta tsb adalah : DR A. Screiber dan Leipold
1870 Jemaat di Sibolga dan Sipoholon berdiri
1872 Jemaat di Bahalbatu Humbang berdiri
1877 Seminarium Pansurnapitu berdiri dengan murid pertama sebanyak 12 orang
1878 Pdt I.L. Nommensen menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak dengan aksara latin dan Batak
1879 Diterjemahan Dr, A. Scrieber Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak angkola
1881

Jemaat di Balige (Tobasa) berdiri
Aturan Gereja (konstitusi) yang pertama diberlakukan
Pdt I.L. Nommensen terpilih menjadi Ephorus yang pertama
1883 Sekolah Pendeta dibuka untuk orang Batak. Murid yang pertama yakni : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution dan Johannes Sitompul. Johannes Sitompul meninggal dunia sebelum menyelesaikan pendidikan
1885
19 Juli Penahbisan Pendeta Batak yang pertama di HKBP Pearaja, yakni Johannes Siregar, Petrus Nasution dan Markus Siregar
1889
13 April Pelayanan terhadap Perempuan dimulai
Nn Hester Needham diutus RMG melayani di Silindung dibantu oleh Nn Tora dan Nn Nieman di Toba
1890
1 Januari

8 Januari

Terbit untuk pertama kalinya Surat Parsaoran Immanuel (Majalah Gereja)
Nn Hester Needham bekerja di Pansurnapitu melayani anak-anak dan perempuan serta membantuk di sekolah Pendeta Pansurnapitu
1893 Sekolah Zending menerima subsidi dari pemerintah
1894 Pdt P.H. Johannsen menterjemahkan Perjanjian Lama ke dalam Bahasa Batak
1895
16 Juli
Nn Hester Needham berangkat ke Muarasipongi Kotanopan bersama seorang putri Mandailing yang bernama Domi
1896

3 Mei - 26 Juli
Juli
Nn Hester Needham bekerja di Melintang mencoba untuk mengabarkan Injil kepada pemeluk agama yang lain dengan sangat hati-hati di Mandailing na Metmet
Nn Hester Needham bekerja di Maga dan meninggal dunia serta dikebumikan disana. Pada tahun 2002 tulang belulang Nn Hester Needham dipindahkan ke Kompleks Gereja HKBP Aek Bingke
1898 Kalender HKBP terbit untuk pertama kalinya
1899 Mission Batak yang dipimpin Pdt Henok Lumbantobing mulai bekerja di Pulau Samosir, Simalungun dan Dairi
1900


2 Juni

5 September
Berdiri Sekolah Anak Raja dengan bahasa pengantar Bahasa belanda di Narumonda. Guru Sekolah tsb adalah: Pohling dan Pdt Otto Marcks. Di tempat yang sama juga berdiri Sekolah Tukang
Rumah Sakit Pearaja dibuka, pada tahun 1928 pindah ke Tarutung
Perkampungan penderita Kusta berdiri di Huta Salem Laguboti
1901 Seminarium Pansurnapitu pindah ke Sipoholon
1903 Perkabaran Injil di Simalungun dimulai
1905

7 Oktober
Sekolah Anak Raja Narumonda berubah menjadi Seminarium
Perayaan Hari Jadi HKBP yang pertama kali dirayakan di seluruh HKBP
1907 HKBP Pematangsiantar berdiri
1908 27 April Hari lahirnya HKBP Sidikalang
1911 HIS berdiri di Sigumpulon Tarutung
Berdiri Distrik Angkola (Tapanuli Selatan), Silindung, Humbang, Toba Samosir (menjadi Toba) dan Simalungun-Ooskust (menjadi Sumatera Timur)
1912 Pendeta HKBP pertama melayani di Medan
1915 Tapanuli Menjadi kedemangan
1917 Berdiri Hatopan Christen Batak (HChB), ormas Batak di Tapanuli
1918
23 Mei Ompu i Pdt DR. I.L. Nommensen meninggal dunia di Sigumpar
1918-1920 Ds V Kessel menjadi Ephorus
1919 HIS Zending berdiri di Narumonda
1920 Pdt DR Johannes Warneck terpilih menjadi Ephorus
1922

20 Juni Zending Batak mengutus Pendeta ke Jakarta dan Guru ke Padang
Sinode Godang HKBP yang pertama
1923 3 Des Pelayanan Diakonia dimulai di Hepata yang ditangani oleh Zending Batak
1927

MULO berdiri di Tarutung
Pelayanan kepada kaum muda yang dipimpin oleh Pdt DR E Verwiebe. Pada Rapat Pemuda pada bulan Juni 1950 dibentuk wadah pelayanan kaum muda yakni : NHKBP (Naposo Bulung HKBP) dan menjadi permulaan kebangkitan Pemuda
1928 Rumah Sakit HKBP berdiri di Balige
1930 1 Mei Aturan TAHUN 1930 resmi diberlakukan
1931 11 Juni HKBP menjadi satu Badan Hukum (rechtperson) yang distujui Pemerintah Hindia Belanda
1932 Pdt P Landgrebe menjadi Ephorus
1934 Sekolah Tinggi Theologia (HTS) berdiri di Jakarta. Mahasiswa dari HKBP yang pertama adalah TS Shimbing, K. Sitompul, O Sihotang dan PT Sarumpaet
Pendeta HKBP mulai melayani di Kutacane (Aceh Tenggara)
Sekolah Bibelvrouw berdiri di Narumonda yang dipimpin oleh Elfrieda Harder
1935 15 Agt Penahbisan Bibelvrouw yang pertama
1936 Sekolah Bibelvrouw dipindahkan dari Narumonda ke Laguboti
Perayaan Jubileum 75 tahun HKBP dipusatkan di Sipirok
Pdt DR. E Verwiebe menjadi Ephorus
1940 10 Mei
Mei - Juli
10 - 11 Juli
Semua orang Jerman yang melayani di HKBP ditangkap Pemerintah Hindia Belanda
Pdt HF de Kliene menjadi Pejabat Ephorus
Sinode Godang - Pdt K. Sirait terpilih menjadi Voorzitter (Ephorus) yang pertama dari orang Batak. Hari tsb menjadi hari kemandirian HKBP
Distrik Jawa Kalimantan berdiri
1942

25 Nopember Sinode Godang - Pdt Justin Sihombing terpilih menjadi Ephorus.
Distrik Samosir berdiri
1945 17 Agt Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1946
Agustus Distrik Dairi berdiri
Sekolah Guru Huria dibuka kembali di Seminarium Sipoholon
1947 Sekolah Pendeta dibuka kembali di Seminarium Sipoholon
1950
4 Nopember

Sekolah Theologia Menengah (SThM) berdiri di Seminarium Sipoholon
Pdt Justin Sihombing terpilih kembali menjadi Ephorus dan Pdt Karimuda Sitompul menjadi Sekretaris Jenderal yang pertama.
1951
29 Oktober Penganugerahan gelar Doctor Hnoris Causa (Dr.Hc) kepada Ephorus Pdt Justin Sihombing oleh Universitas Bonn
Konfesi HKBP disahkan Sinode Godang
Distrik Sibolga dan Medan Aceh berdiri
1952
SMA dan SGA HKBP berdiri di Tarutung
HKBP menjadi anggota LWF
1954 7 Okt


15 Desember Pdt B Marpaung resmi melayani di Mentawai
Peresmian Universitas HKBP Nommensen di Pematangsianta. Sekolah Theologia Menengah dipindahkan ke Pematangsiantar
Distrik Toba Hasundutan berdiri
1955 13 Peb
25 Agustus Panti Asuhan Elim berdiri di Pematangsiantar
Sekolah Guru Puteri berdiri di Seminarium Sipoholon
1957 17 Mar
Kebaktian Raya (Kirchentag) di Pematangsiantar
Sidang Raya Dewan Gereja Asia (CCA) di Parapat
1959 Pdt Justin Sihombing terpilih kembali menjadi Ephorus dan Pdt TS Sihombing menjadi Sekretaris Jenderal
1961 7 Okt Berdiri Perguruan Tekhnik di Pematangsiantar
Perayaan Jubileum 100 HKBP dipusatkan di Tarutung
1962

3-7 Oktober
Sinode Godang mengesahkan Aturan HKBP 1962-1972

Sinode Godang Istimewa di Seminarium Sipoholon, Pdt TS Sihombing terpilih menjadi Ephorus dan Pdt GHM Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal
1963

1 September



Konfrensi Kerja HKBP yang pertama di Parapat
HKBP Simalungun dimandirikan (kemudian hari menjadi GKPS)
Kursus Perempuan yang pertama di Seminarium Sipoholon
Permulaan Pekabaran Injil kepada Orang Sakai di Kandis Riau
1965 7 Peb
9 April Peresmian Asrama Diakones Kapernaum di Rumah Sakit HKBP Balige
Asrama Bibelvrouw di Sinaksak Pematangsiantar diresmikan
1966
6 Pebruari Peresmian Perkampungan Pemuda (Youth Centre) di Jetun Silangit
1967 2 April Peresmian Asrama Pniel di Rumah Sakit HKBP Balige
1968
19 Pebruari Peresmian Gedung-gedung FKIP Universitas HKBP Nommensen
1971 17 Mei
11 Desember

Pendidikan Diakones HKBP dibuka
Peresmian Asrama Bethel dan Betania di Rumah Sakit HKBP Balige
Pembaptisan pertama kepada orang Rupat yang dilayani oleh Pdt AB Siahaan, sebanyak 136 orang
1972
28 Mei

30 Oktober Peresmian Perkampungan Pendeta Pensiun Patmos dan Kantor Departemen Diakoni Sosial di Pematangsiantar
Sinode Godang mensahkan Aturan 1972 - 1982
Distrik Tanah Alas diresmikan
1973
22 Maret Penyerahan Rumah Sakit Nainggolan dari Pemerintah kepada HKBP dan menjadi Public Health Centre
1974


Juli

2-3 Nopember Universitas Wittenberg menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Ephorus Pdt TS Sihombing
Sinode Godang - Pdt GHM Siahaan terpilih menjadi Ephorus dan Pdt Prof DR FH Sianipar menjadi Sekretaris Jenderal
Jubileum 75 tahun Pekabaran Injil HKBP
1976 27 Jan
2 Agustus
1-5 Desember Peresmian Kompleks Pendidikan Diakones
HKPA dimandirikan HKBP (kemudian menjadi GKPA)
Perayaan Jubileum 75 tahun Seminari Sipoholon
1977
1-2 Oktober
Perayaan Jubileum 50 tahun NHKBP
1978
23-27 Januari



Sinode Godang Istimewa HKBP di Seminarium Sipoholon
Fakultas Theologia Universitas HKBP diputuskan menjadi Sekolah Tinggi Theologia HKBP
Pdt P.M. Sihombing, MTh terpilih menjadi Sekretaris Jenderal
1979 24 Jun
7 Oktober Peresmian Distrik Simarkata Pakpak
Jubileum 25 tahun Universitas HKBP Nommensen
1980 11 Jun
6 Juli
11 Agustus Pusat Latihan Ketrampilan Pria berdiri di Parparean Porsea
Perayaan Syukur 40 tahun HKBP mandiri
Pusat Latihan Ketrampilan Wanita berdiri di Doloksanggul
1981 6 Agt HKBP Simarkata Pakpak Otonom berdiri
1983 24 Peb
28 Agustus Peresmian Distrik Tebing Tinggi Deli
Penahbisan Diakones yang pertama di HKBP
1984
1 Agustus

30 September
Perayaan Jubileum 50 tahun Sekolah Bibelvrouw

30 tahun Departemen Wanita (dirayakan tanggal 11 Nopember)
1985
Pebruari

25 Agustus
Persemian Distrik Sumatera Bagian Selatan

Perayaan Jubileum 100 tahun Pendidikan Theologia dan Kependetaan
1986
27 Juli
14 Agustus
Oktober Pentahbisan Pendeta Perempuan Pertama di HKBP, yakni Pdt Norce Lumbantoruan, STh
Peresmian Kantor Induk HKBP di Peraja Tarutung
Perayaan Jubileum 125 tahun HKBP di Tarutung, Pematangsiantar dan Jakarta
1987
27 Januari
27-31 Januari Peresmian Auditorum HKBP di Seminarium Sipoholon

Sinode Godang - Pdt DR S.A.E Nababan, LLD terpilih menjadi Ephorus dan Pdt O.P.T Simorangkir menjadi Sekretaris Jenderal
1988 23 Mei
10-15 Distrik Humbang Habisaran berdiri
Sinode Godang menetapkan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) HKBP
1990
20 Juni-9 Juli,
10-15 Juli
18-21 Juni Perkemahan Pemuda di Sipirok
Konfrensi Pemuda HKBP
Konsultasi Theologia di Parapat
1992
23-28 Nopember Sinode Godang di Seminarium Sipoholon, terjadi krisis. Mulai dari Sinode ini terjadi Krisis HKBP hingga tahun 1998
1993
11-13
Sinode Godang Istimewa - Pdt DR PWT Simanjuntak terpilih menjadi Ephorus, dan Pdt SM Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal
1994
29 Sep - 1 Okt
23 Okt Sinode Godang 52 - menetapkan Aturan dan Peraturan 1994-2004
Peresmian Distrik Indonesia Bagian Timur (IBT)
1995 16-17 Jun
6 Agustus
24 September
Sinode Penyatuan HKBP SPO dan GKPPD
GKPPD dimandirikan
Peresmian HKBP Distrik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta
199617-22 Nov Sinode Godang 53 menetapkan Konfesi HKBP 1996
1998
26 Okt - 1 Nop
17 Nopember


18-20 Desember
Sinode Godang 53, Pdt DR JR Hutauruk terpilih menjadi Pj Ephorus
Penandatangan pernyataan bersama antara Ephorus Pdt DR SAE Nababan dan Pj Ephorus Pdt DR JR Hutauruk untuk menyelenggarakan Sinode Rekonsiliasi]
Sinode Godang Rekonsilaiasi di Kompleks FKIP Univ Nommensen. Pdt DR JR Hutauruk terpilih menjadi Ephorus dan Pdt WTP Simarmata, MA menjadi Sekretaris Jenderal
1999 28 Nov Jubileum 100 tahun Sending HKBP
2000
26 Juli
5 Nopember
21-24 Nop
Konferensi Nasional HKBP di Senayan Convention Centre Jakarta
Perayaan Tahun Pendidikan HKBP ke 50 di Seminarium Sipoholon
Sinode Godang menetapkan Kebijaksanaan Dasar Pendidikan HKBP
2001
8 Mei

Desember Penandatanganan Convention of Interchange antara Evangelical Lutheran Church in America (ELCA) dan HKBP
Jubileum 100 tahun Seminarium Sipoholon
2002
30 September
30 Sep-4 Okt


Penandatanganan kerjasama Yasuma dan HKBP
Sinode Godang - menetapkan Aturan dan Peraturan HKBP 2002 dan 4 Distrik baru - Distrik Jakarta 2, Distrik Kepulauan Riau, Distrik Jakarta 3 dan Distrik Jambi
Peresmian Website HKBP - www.hkbp.or.id

2003
16 Juli

Kunjungan resmi Presiden RI Megawati Sukarno Putri ke HKBP di Seminarium Sipoholon, dan peletakan Batu Pertama Sipoholon Nommensen Christian Centre
2004
Januari
20 Juli

25 Juli

29 Juli
6-12 September




7 Oktober
Aturan dan Peraturan 2002 diberlakukan
Penandatanganan kemitraan antara Pusat Perkampungan Bibelvrouw dan Jemaat Niederkassel
Penandatangan kesepakatan kemitraan antara ELCA dan HKBP - Kentucky Sinode dan Distrik V Sumatera Timur
Penantanganan "Peraja Tarutung Agreement" antara HKBP dan EKiR
Sinode Godang 58 di Seminarium Sipoholon :
- Peluncuran Bibel terbitan HKBP dan Yasuma
- Penetapan Distrik Labuhan Batu
-Pdt Dr Bonar Napitupul terpilih menjadi Ephorus
-Pdt WTP Simarmata, MA menjadi Sekretaris Jenderal
-Pdt BM Siagian, STh menjadi Kepala Departemen Koinonia
-Pdt MH Sihite, STh menjadi Kepala Departemen Marturia
-Pdt Nelson Siregar, STh menjdi Kepala Departemen Diakonia
Jubelium 50 tahun Universitas HKBP Nommensen
Organisasi HKBP
HKBP ditata mengikuti sistem keuskupan, mirip dengan Gereja-gereja yang menganut sistem episkopal seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Anglikan, Gereja Methodis, dll. Pimpinan tertingginya disebut Ephorus. Ephorus HKBP yang pertama adalah Dr. I.L. Nommensen. Ephorus dibantu oleh seorang Sekretaris Jenderal dan
sejumlah Kepala Departemen. Di bawahnya adalah praeses yang memimpin distrik-distrik gereja, sementara di bawah distrik terdapat resort yang dipimpin oleh pendeta resort, dan di tingkat yang paling bawah adalah jemaat individual yang dipimpin oleh pendeta. Saat ini HKPB memunyai 26 praeses di seluruh Indonesia. Dalam pelayanannya, seorang pendeta HKBP biasanya dibantu oleh Guru Huria, sementara ada pula jabatan lain yaitu Bibelvrouw dan diakones. Pada tahun 1986, untuk pertama kalinya HKBP menahbiskan seorang pendeta perempuan yaitu Pdt. Norce P. Lumbantoruan, S.Th.
Sampai April 2003, HKBP memunyai 1.115 Pendeta, 250 Calon Pendeta, 550 Guru Jemaat, 28 Calon Guru Jemaat, 309 Bibelvrouw, 49 Calon Bibelvrouw, 193 Diakones, 38 Calon Diakones, dan 5 Evangelis. Keseluruhan pelayan dan calon pelayan berjumlah 2.537 orang.
Saat ini jabatan Ephorus HKBP dipegang oleh Pdt. Dr. B. Napitupulu yang melayani mulai tahun 2004.
Daftar Ephorus HKBP
• Pdt. Dr. I.L. Nommensen - Ephorus pertama (1881-1918)
• Pdt. Valentin Kessel - Pjs. Ephorus (1918-1920)
• Pdt. Dr. Johannes Warneck (1920-1932)
• Pdt. P. Landgrebe (1932-1936)
• Pdt. Dr. E. Verwiebe (1936-1940)
• Pdt. H.F. de Kleine - Penjabat Ephorus (1940)
• Pdt. K. Sirait - Ephorus Batak pertama (1940-1942)
• Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing (1942-1950)
• Pdt. Justin Sihombing (1950-1960)
• Pdt. Justin Sihombing (1960-1962)
• Pdt. Dr. (H.C.) T.S. Sihombing (1962-1974) terpilih dalam Sinode Godang Istimewa
• Pdt. G.H.M. Siahaan (1974-1981)
• Pdt. G.H.M. Siahaan (1981-1986)
• Pdt. Dr Dr. Hc. S.A.E Nababan, LLD (1986-1998)
• Pada masa kepemimpinan Pdt. Nababan, terjadi Krisis HKBP (1992-1998) yang menghasilkan dualisme kepemimpinan hingga 1998
• Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak (1993-1998) – terpilih dalam Sinode Godang Istimewa
• Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (1998) – terpilih sebagai Pjs. Ephorus dalam Sinode Godang ke-53
• Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (1998-2004) – terpilih dalam Sinode Godang Rekonsiliasi
• Pdt. Dr. Bonar Napitupulu (2004-sekarang)
Universitas HKBP Nommensen
KANTOR PUSAT HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP):
Pearaja Tarutung 22413, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia
Telp. 0633-21707, Fax. 0633-21596,
email: kantorpusat@hkbp.or.id
Menurut Ephorus HKBP, Bonar Napitupulu, jumlah jemaat HKBP di seluruh dunia saat ini mencapai 4 juta jiwa. Jemaat HKBP tersebut tersebar di 3.657 jemaat lokal (Sumatera Utara dan seluruh Indonesia) dan 8 jemaat Internasional. Jemaat dan gereja HKBP di luar negeri terdapat di Kuala Lumpur, Malaysia, 2 gereja, di Singapura 2 jemaat. Kemudian di USA 5 HKBP (New York, California, Denver Kolorado, Philadelphia).
Tahun 2007 menjadi Tahun Koinonia (Persekutuan) HKBP. Melalui tahun Koinonia ini, segenap jemaat HKBP di seluruh Tanah Air dan dunia semakin meningkatkan persekutuan, persatuan dan kebersamaan. HKBP akan terus menggugah kesadaran masyarakat untuk saling mengasihi, saling peduli dan saling membantu. HKBP memiliki potensi besar memasyarakatkan kasih, rasa peduli sosial, persatuan bangsa dan peningkatan solidaritas manusia karena Gereja HKBP semakin mendunia. Diharapkan HKBP dapat memberikan kontribusi untuk merajut kembali rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang semakin memudar di era reformasi dan Otonomi Daerah ini. Peningkatan rasa kebangsaan (national building) sangat penting agar roh pengelompokan etnis dan agama yang mulai merajalela di tengah iklim reformasi dan OTDA ini bisa dihalau. ”Bangsa Indonesia hanya bisa dibangun menjadi bangsa yang makmur sesuai cita-cita perjuangan bangsa oleh Putra-putri Bangsa Indonesia. Bangsa kita tidak bisa dibangun oleh orang-orang yang hanya mengandalkan fanatisme kedaerahan. Karena itu seluruh elemen bangsa termasuk HKBP harus mampu membangun rasa kebangsaan dan kepedulian sosial secara bersama-sama,” papar Ephorus.

Dikutip dari berbagai sumber


Senin, 24 Mei 2010

DOA SELAMAT PAGI YESUS, SELAMAT PAGI BAPA...

Hari minggu yang lalu (9 Mei 2010) seperti biasanya aku mengikuti kebaktian di Gereja HKBP Bandung. Saat itu tema kebaktiannya adalah Rogate yang berarti berdoa. Saat itu juga yang kotbah adalah Amang Lundu (Pdt. L.H.M.Simajuntak). Seperti biasanya kotbah amang ini selalu menyentak dan dalam bahasaku kusebut “keras” dan biasanya juga kotbahnya mengundang kontrofersi dari beberapa jemaat. Dan aku pribadi sebenarnya ada beberapa hal tentang isi kotbah amang ini yang kurang bisa kuterima. Tapi kali ini, pada kotbah Kebaktian Sore/Pemuda isi kotbahnya cukup bagus, bisa kuterima semua. Sangat sesuai dengan yang terjadi dalam kegiatan sehari-hari atau kontekstual.

Jadi pada kotbah itu, amang itu bilang gini... sebenarnya banyak sih yang di omongin dia tapi Cuma dua point penting aja yang ingin kujelaskan disini karena menurutku yang lain-lainnya sudah umum. Yang umum itu misalkan tentang bagaimana kehidupan kristen dalam bertindak, bagaiamana tentang keadaan iman kita, dll.




Dua point penting yang aku maksud adalah yang pertama ketika dia bilang bahwa; kalau kita berdoa gag boleh ngomong gini “Selamat pagi Yesus, Selamat pagi Bapa, Selamat pagi Roh Kudus, dst.... Biasanya dalam acara-acara kebaktian pemuda, Persekutuan Doa, Persekutuan PMK seringkali aku mendengar doa-doa seperti itu. Dan ketika pertama kali aku mendengar isi doa seperti itu, aku kira bagus karena kita menyapa Yesus gitu loh. Tapi setelah mendengar isi kotbah Amang itu ternyata isi doa seperti itu tidak dibenarkan. Beberapa alasannya adalah bahwa dalam diri Yesus tidak dikenal adanya siang malam pagi sore, dll. Kehidupan Yesus tidaklah dibatasi oleh ruang dan waktu. Bagi kita malam apakah dalam dunia Yesus juga malam? Di bumi ini saja waktu tidaklah sama, tapi terbagi-bagi berdasarkan letaknya. Gag usah jauh-jauh di seluruh bumi tapi di Indonesia sendiri aja ada 3 daerah waktu yaitu WIB, WIT dan WITA. Ketika di Bandung pukul 11 malam di Papua sudah pukul 1 pagi dan beda hari. Hal itu menunjukkan bahwa batasan waktu yang kita pakai tidaklah sama. Nah kalau kita datang kepada Yesus melalui doa dengan menyapa malam, artinya sapaan kita saja udah salah. Jadi mari kita perbaiki lagi lah tentang cara berdoa kita selama ini.


Kemudian point kedua yang penting dari kotbah Amang itu adalah, terkait isi doa yang menyatakan “Ya Allah Bapa kami masih banyak lagi yang ingin kami minta dari Bapa tetapi Engkau adalah Maha Tahu jadi walaupun belum kami minta tapi kami percaya bahwa Engkau akan mengabulkannya”. Isi doa seperti ini kurang tepat karena doa itu sesungguhnya adalah harus disampaikan kepada Tuhan. Doa adalah cara atau jalan kita berhubungan, berkomunikasi dengan Tuhan. Jadi kalau isi doa tidak kita sampaikan dengan ngomong langsung bagaimana kita berkomunikasi? Memang benar bahwa Tuhan adalah Maha Tahu tapi bukan berarti dalam doa juga bisa kita anggap bahwa Tuhan sudah tahu apa yang bakal kita minta. Kalau emang cara berpikir kita seperti itu, kenapa tidak dari awal saja langsung ngomong seperti itu? “Ya Tuhan Engkau tahu apa yang mau kuminta, kiranya kabulkanlah. Amin”. Doanya langsung cepat selesai dan tidak bertele-tele. Tapi bukan doa seperti itu yang dimaksud, jika kita berdoa mintalah kepada Tuhan apa yang ingin kamu minta. Ungkapkan semuanya sepanjang ada yang ingin kamu sampaikan kepada Tuhan. Tuhan akan mendengar seluruh isi doamu.


Begitulah kiranya sekelumit isi kotbah Amang itu. Dan setahu aku baru pada kebaktian sore ini Amang itu kotbah dengan waktu yang paling lama. Kiranya isi kotbah itu juga boleh membuka pemikiran para sahabat pembaca blog saya. Tuhan Yesus memberkati.

ARTIKEL: HKBP SEBAGAI KOMUNITAS TERTUA DI TANAH BATAK YANG TETAP SETIA MELAYANI TUHAN

I. Apakah Yang Memotivasi Masyarakat Batak Percaya Kepada Yesus ?


Belajar dari kegiatan misionaris yang pertama yaitu : “Pdt. Samuel Munson dan Henry Lyman” (yang diutus badan Zending Boston Amerika) yang mati terbunuh di Lobu Pining Tapanuli Utara, nyata bagi kita bahwa penginjilan di Tanah Batak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Untuk memperjuangkan pekabaran Injil harus ada pengorbanan. (Dalam Bhs Batak Toba : mudar ni na mate martir do boni ni Huria), sebab: pada hari kematian Munson dan Lyman, ketika itulah lahir Pdt. DR. I. L. Nomensen, yang menjadi Ephorus pertama di HKBP. Kalu kita pelajari mulai dari masuknya Pdt. Burton dan Ward ke-tanah Batak Th. 1824, s/d 31 Maret 1861, barulah ada 2 (dua) orang Batak yang dibabtis oleh Pdt. Van Asselt di Sipirok, yaitu: Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon. 4 (empat) tahun kemudian, tepatnya: 27 Agustus 1865; untuk pertama kali dibaptis di Silindung, tiga belas (13) orang . (Kemungkinan untuk jubileum satu setengah abad 2011, yang diperkirakan sudah dari 6 juta jiwa yang dibabtis kedalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yang dilayani 1.500 pendeta HKBP; -Suara HKBP edisi 50, hal 39 oleh Pdt. Drs. S. Tungkir). Nah inilah perkembangan yang bisa kita lihat sampai sekarang. Untuk semua itu, sekecil apapun dampak keKristenan yang bisa kita rasakan dengan kehadiran Injil di tanah Batak, patut kita syukuri. Pada masa itu, perjuangan pembawa Injil tidak tanggung-tanggung. Mereka harus menerjemahkannya terlebih dahulu Alkitab kedalam bahasa Batak, dengan percetakan apa adanya. Belum ada foto copy. Apa yang kita dengar itulah yang harus diingat. Mis: nasehat Pdt. Petrus Nasution : “Haposi hau Tuhan Jesus, Tuhan Jesus do hangoluan” (bd Kis. Rasul 16:31) “Percayalah kepada Allah maka kamu dan seisi rumahmu akan selama). Sekarang kita mempunyai kesempatan yang sangat luas, dan sudah dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk mendapatkan banyak pengetahuan tentang Firman Allah, adakah semangat untuk melayani Tuhan, lebih giat dari dalam kita sekarang ini disbanding dengan orang para pendahulu kita ?






II. 1. Berawal Dari Kerja Keras



Semangat melayani yang tidak dikenal yang tidak kenal dan pantang menyerah dari para misionaris asal Jerman secara khusus, patut diacungi jempol. Mereka harus menerjemahkan isi Alkitab kedalam bahasa Daerah (Batak), melatih orang Batak membaca dan menulis, belajar menaikan lagu pujian dan cara hidup sehat. Pdt. Dr. IL Nomensen, menyelesaikan terjemahan Perjanjian. Baru kedalam bahasa Batak dengan memakai tulisan Batak dan Latin. Th. 1878, berbahasa Batak Angkola th. 1879, oleh Pdt. A. Schreiber, selanjutnya pendirian gereja, altar dan pengadaan fasilitas sebab orang Batak belum mengenal kursi dan lemari. Semua acara termasuk acara adat duduk dengan menggelar tikar (amak tiar). Kalau kita perhatikan bentuk podium (mimbar) tempat pengkotbah menyampaikan Firman Allah, itu didominasi dua (2) bentuk, yaitu: merpati dan piala, demikian juga pengaturan penempatan menghargai ibadahnya (persekutuan dengan Allah). Sekalipun kita lihat sangat lambat dari segi semakin dicintai dan semakin di mengerti. Dengan demikian kerinduan untuk beribadah setiap minggunya tetap berkesinambungan. Untuk melanjutkan pelayanan dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya dibutuhkan tenaga pengajar yang berasal dari daerah tersebut. Kita tahu perkampungan orang Batak dipagari dengan bambu. Mereka punya motto: sinuan bulu sibaen nalas, sinuan tutur sibaen na horas!. Dalam hal ini tidak sembarang orang bebas masuk-keluar kampung, bisa bahaya. Harus tahu adat, marga dan partuturan (hubungan marganya dengan warga kampung yang dikunjunginya). Selain itu sebahagian perkampungan (306 huta), th 1878 di Silindung jatuh ke-tangan Gubernur Belanda. Sudah pasti keluar-masuknya orang asing sangat dibatasi. pada hal tuntutan penambahan tenaga pemberita Injil semakin dibutuhkan. Maka pada th. 1883, dibuka sekolah pendeta bagi orang Batak Th 1889, dibuka juga kesempatan bagi kaum Ibu, anak gadis dan anak perempuan, dengan tenaga penajar Nn. Hester Needam (Silindung). Dibantu Nn. Tora, Nn. Nieman di Toba. Th 1894, dalam perjanjian lama disalin kedalam bahasa Batak oleh Pdt. PH. Johansen. Inilah sebagaian upaya kerja keras yang dengansabar ditekuni dan dipergumulkan oleh para pendahulu kita. Alhasil , orang Batak keluar dari kegelapan. Misionaris telah membawa terang Firman Tuhan lewat pendidikan Theologia, Ilmu Pengetahuan (termasuk keterampilan, bertukang, berkebun beternak. Para guru Zending .dilathin mengajar kelas (pendidikan umum),demikian juga di gereja Hampir semua sekolah Zending, mengajar dikelas (pendidikan Umum), demikian juga di-Gereja. Hampir semua sekolah Zendin, dilatih untuk bosa berdoa dan menyanyikan lagu pujia. Kompleks Gereja / sekolah ditanami buah-buahan, sayur-sayuran dan jenis palawija. Isteri pendeta altar dan Gr. Zending di latih memakai peralatan bidan untuk menolong persalinan. Ketika itu tali pusar anak yang baru lahir masih dipotong dengan bambu. Begitu juga dengan “roti perjamuan kudus” ada yang dibuat sendiri. Ketika itu hubungan Jerman dengan orang Batak cukup baik. Taplak meja, penutup altar dan semua yang dibutuhkan dalam peribadatan, sangat diperhatikan. Pada masa orang tua saya masih aktif sebagai “Guru Zending”, kami sekeluarga merasakan hal itu dan terlibat didalam tugas itu. Sebagai ucapan terimakasih, sesekali orang tua kami mengirimkan cabai keriting ke Jerman. Disbanding dengan yang kita dapat dari jasa para misionaris, pengorbanan kita belum ada apa-apanya. Semua itu dikerjakan sebagai panggilan dari tugas pelayanan untuk menjadikan semua bangsa di dunia menjadi murid Tuhan. Bagi kita yang sudah menikmati kemajuan didunia modern versi panggilan untuk melayani, tentunya sudah mengalami perobahan tetapi, pengting bagi kita mengenal sejarahnya supaya kita belajar menghargai apa yang diwariskan kepada kita, supaya tetap bersemangat dalam pelayanan.


2. Belajar Menghormati Mereka Yang Bekerja Keras, Dan Memimpin Kamu Dalam Tuhan Dan Menegor Kamu (1 Tes 5:12)


Ketika masih melayani di Sipoholon, pernah terjadi gempa berkekuatan 6,7 skala richter. Banyak bangunan yang rusak porak-poranda. Penduduk dari perkampungan dan yang ada di perbukitan keluar ke jalan raya berjalan kaki menuju (kearah) Balige. Ada seorang nenek tua, dipapah cucunya, remaja puteri berusia 16 tahun. Keduanya berjalan sangat lambat. Mereka tertinggal dari rombongan karena “si nenek”, tidak kuat lagi berjalan. Cucunya sangat berang, lalu berkata : tinggal salah ompung (!), nanti kita tersesat tidaaak tahu mau kemana. Samil marah-marah karena kesal, dia pergi dan meninggalkan neneknya dijalanan. Anak gadis itu lupa kalau neneknya sudah berjuang membesarkan Orangtua-nya, dan termasuk mengasuh cucu-cucunya bahkan memerikan makan dan menceboknya ketika dia elum pandai mengurus diri sendiri. Kalau saya lihat waktu itu sikap anak itu sudah bisa disamakan dengan “kacang yang lupa kulitnya ketika hari panas. Nah persoalan “ber-HKBP, juga seperti itu, begitu. HKBP sudah dipakai Tuhan, memberikan banyak kontribusi untuk memajukan masyarakat Batak. Dari usia pelayanannya katakanlah sudah cukup tua. Tapi generasinya selalu ada yang baru “kalian-kalian lah itu”. “Anda-anda” lah gerejanya (aku gereja kamu juga). Jangan lecehkan gereja HKBP. Cintailah, rawatlah, dan majulah bergandengan tangan dengan komunitas Kristen yang lain. Kalau kita bertannya: “mampukah HKBP menjadi teladan dalam pelayanan” (?). Ooooo pasri !. contohnya, kalian!. Orang Batak bilang, “JELOK” buahnya ada diujung, jangan cari dipokoknya. Seperti itu jugalah sebuah keberhasilan, jangan lihat ketika gontok-gontokan, ketika ada persoalan atau ketika ada kesalahan. Tetapi lihatlah bagaimana Allah memimpin gerejanya, warganya dan pembangunannya. Pertumbuhan Iman dan kecintaaan oran Batak kepada Yesus Kristus itu luar biasa. Kalau masih ada Kristen Batak yang mendua hati perlu diselidiki ketulusan hatinya. Jangan salahkan HKBP. Semua gereja yang sudah diklaim menjadi milik Kristus jangan ragukan tetapi perbaikilah hatimu, cara pandangmu dan doamu. Tegorlah yang menganggap remeh perjuangan HKBP.
Sedapat-dapatnya ikutan berjuang. Pikul salib dan berikan koontribusimu yang dapat menyemangati dan memajukan pelayanan sesamu anak Tuhan dan para pelayan (parhobas) di gereja kita. Sekecil apapun itu sangat berharga di mata Tuhan.


III. Penutup


Tuaian sudah didepan mata. Upaya untuk menyampaikan pelajaran kepada orang Batak dahulu sangat susah. Anak-anak sudah dilatih kerja disawah membantu orang tua. Pokoknya bisa makan. Padahal untuk mengerti Firman Tuhan harus ada waktu belajar, bisa baca dan menulis. Para misionaris tidak mundur tetapi bersemangat terus. Mereka buat nyanyian yang dapat memberikan kesadaran, mis : marsikola au amang, dohot ho ale inang. Unang jolo suru au mangula hauma i. Ai na met-met do pe au … Inilah antara lain dari sekian banyak upaya yang sudah dimenangkan oleh para pendahulu kita. Tugas selanjutnya terserah anda mau kita bawa kemana gereja HKBP. Semuanya ada didepan mata. Perjuangan untuk “mempersekutukan orang Batak dengan Yesus Sang Juruslamat (Iman yang bertumbuh di dalam Kristus), sudah nyata lewat pendidikan Theologia dan pendirian gereja. Pendidikan yang mencerdaskan lewat pendirian Sekolah dan penyediaan tenaga pengajar dan kepedulian terhadap kesehatan, semua itu telah dibenahi. Namun demikian kita tidak bisa berhenti. Mari kita saling bergandengan tangan, berjuang terus, pantag mundur dan tetap bersemangat. Syalom Tuhan Yesus memberkati !!!!!!!!!


(Penulis adalah Pdt KE Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2009)


Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor