Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Desember 2017

SIAPAKAH YESUS ?

Dalam ilmu kimia,
Dia mengubah air menjadi anggur;

Dalam ilmu biologi,
Dia dilahirkan tanpa pembuahan secara normal;

Dalam ilmu fisika,
Dia menentang hukum gravitasi ketika Dia terangkat ke surga;

Dalam ilmu ekonomi,
Dia menentang hukum hasil yang menurun melalui memberi makan 5000 laki-laki dengan 2 ikan dan 5 roti;

Dalam ilmu kedokteran,
Dia menyembuhkan yang sakit dan yang buta tanpa memberikan satu dosis obat apapun;

Dalam sejarah,
Dia adalah yang awal dan yang akhir;

Dalam pemerintahan,
Dia mengatakan bahwa Dia seharusnya disebut Penasihat Ajaib, Raja Damai;

Dalam agama,
Dia mengatakan tidak ada seorangpun yang datang pada Bapa kecuali melalui Dia;

Jadi, siapakah Dia? Dia adalah Yesus!

Manusia Terhebat dalam Sejarah

Yesus tidak mempunyai pelayan,
tetapi mereka memangil Dia Tuan.

Tidak memiliki gelar,
tetapi mereka memanggil Dia Guru.

Tidak mempunyai obat-obatan,
tetapi mereka menyebut-Nya Sang Penyembuh.

Tidak memiliki pasukan,
tetapi raja-raja gentar pada-Nya.

Dia tidak memenangkan pertempuran militer, tetapi Dia menaklukkan dunia.

Dia tidak melakukan kejahatan,
tetapi mereka menyalibkan Dia.

Dia dikubur dalam sebuah makam,
tetapi hari ini Dia hidup.

Saya merasa terhormat melayani Pemimpin yang sedemikian, pemimpin yang mengasihi kita.

Bergabunglah dengan saya dan marilah menyambut Dia; Dia layak.

Mata yang melihat pesan ini kiranya tidak melihat yang jahat.

Tangan yang mengirimkan pesan ini kepada setiap orang seharusnya tidak melayani dengan sia-sia,

dan mulut yang berkata Amin atas doa ini kiranya tersenyum selamanya.

Tinggallah dalam Allah dan carilah wajah-Nya selalu.Amin!

Dalam Allah saya telah menemukan segala sesuatu!

Kirimkan ini pada semua orang yang Anda pedulikan.

Biarlah orang mengenal pekerjaan Tuhan YESUS kita.

Biarlah seluruh dunia mengapresiasi Tuan di atas tuan.

Janganlah malu menyebarkan injil..😊

HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA
🙏 Tuhan memberkati Anda

Rabu, 23 Februari 2011

HIDUP ITU PILIHAN

Hidup itu pilihan dan pilihan anda akan menentukan siapa anda dan mewarnai siapa anda sejatinya. Demikian juga dalam hal memilih Yesus sebagaimana dalam berita kelahiranNya. Ada beberapa pilihan untuk memilih Yesus. Dia adalah mesias yang mencurahkan kasih setianya kepada kita, dan sudah ada pengampunan dosa bagi yang menerimaNya, karena Dia sang Raja datang membawa kelepasan. Tapi apakah kita otomatis dapat penebusan? Jawabannya tergantung pilihan anda.


Jika kita simak berita kelahiranNya ada beberapa pilihan yang diambil diantaranya; Pertama, Herodes. Setelah orang Majus dari Timur datang kepada Herodes, dia sangat terkejut karena sepengetahuannya dialah satu-satunya raja, namun kemudian ada raja lain dan dia menjadi gusar. Tapi dia begitu licik dan tidak ditunjukkanya. Dia bertanya kepada ahli-ahli hukum taurat; “Apakah ada nubuat tentang kelahiran raja Mesias”? ketika dia mengetahui bahwa sudah ada nubuat tentang kelahiran Yesus maka dia berkata “carilah”. Kalau sudah ketemu beritahulah samaku sehingga aku ikut menyembah Dia. Sepintas apa yang disampaikan oleh Herodes tersebut sangat lembut kedengarannya tapi sebenarnya busuk dalam niatnya, seperti umpama dalam batak “Lamot-lamot hata ni jolma, risi-risi hata ni begu. Herodes adalah musang berbulu ayam. Kenapa itu terjadi? Karena Herodes gila hormat, bahkan tak habis pikir termasuk istri dan anaknya dibunuh. Dia tidak mau ada saingan. Plihan herodes adalah membunuh Yesus.
Kedua, penggembala (parmahan sian purba; bc batak). Dengan segala potensinya mereka mau mencari Yesus dan bukan itu saja, mereka memberi persembahan yang paling berharga dari apa yang mereka miliki. Mereka member emas, perak dan mur. Apakah kita mau seperti mereka untuk bertemu Yesus? Bukan Cuma itu, ketika mereka melihat ada seorang bayi dan mereka percaya bahwa itu adalah Mesias. Sian natumangihon do tubu haporseaon. Sudah banyak kita dengar firman tetapi percayakah kita? Haporsean dinyatakan dengan persembahan oleh para gembala tersebut. Na mate do haporseaon na so mardongan ulaon. Iman kepada Kirstus bukan teori tetapi praktek. Apa yang diberikan oleh orang Majus dari timur tersebut adalah harta yang paling berharga. Ketika Maria dan Yusuf mengungsi selama dua tahun, ternyata persembahan yang diberikan oleh orang Majus tersebut masih cukup sebagai bekal. Sekarang bukan lagi mas atau berlian yang paling mahal, tapi hati. Berikanlah hatimu sepenuhnya kepada Yesus. Buat orang Kristen HKBP tahun ini adalah Tahun jubel yaitu tahun pembebasan, tahun sukacita 150 tahun Terang Kristus telah lahir di di tanah Batak. Kembalilah ke Jalan Allah.
Ketiga, ahli taurat atau para imam begitu teliti mencermati kitab para nabi-nabi. Mereka sudah mengetahui tanda itu tapi sayanganya mereka hanya sekedar mengetahui saja. Mereka tahu bahwa Yesus akan lahir di betlehem tapi mereka tidak mau pergi untuk menyembah. Mereka pintar berkotbah menjelaskan isi firman tetapi Cuma berbicara doang tanpa ada perbuatan. Sama kayak supir di dolok sanggul, setiap hari dia mencari penumpang. “Medan-medan-medan; sahutnya”. Setelah mobil penumpang itu penuh dia bukan turut pergi tetapi dia tinggal. Mereka yang dipanggil dan turut naik ke mobil, akhirnya sampai ke medan, sementara dia tertingga. Banyak orang-orang sekarang ini menjelaskan tentang isi Alkitab tapi dalam praktiknya dia masih melakukan hal-hal yang ada di bumi. Bukan pengetahuan kita tentang Firman Tuhan yang terpenting tapi bagaimana kita datang menyembah untuk mengenalNya dan menyerahkan seisi hidup kita untukNya.
Orang Kristen janganlah seperti kata pepatah Batak; Mauas di topi ni sungai. Sudah 150 tahun friman Allah hadir di tanah batak tetapi bagaimana perjalanannya sekarang? Begitu mayoritasnya orang Kristen dia tanah Batak tetapi apakah Kekirstenan sejati itu benar-banr lahir di tanah Batak. Janganlah seperti sebuah perumpamaan berikut
“Setiap hari minggu orang-orang berdatangan ke gereja dan dari tempat jauh tentunya juga datang. Tapi ada sebuah keluarga yang rumahnya di belakang gereja tapi gag pernah datang. Saat tiba kotbah, dia menyalakan tv dan radio keras-keras agar gag kedengaran kotbah itu Suatu ketika pas di hari minggu, si istri ingin bunuh diri, dia mau minum baygon karena dia gag tahan lagi dia bertengkar mulu sama suaminya, daia gag tahan lagi menghadapi kekejaman suaminya. Namun saat mengambil baygon dia mendengar kotbah dari gereja “hai kamu yang beberban berat datanglah, hupasonang pe hamu. Kebetulan saat itu TV gag bunyi maka dia bisa mendegar kotbah itu. Ahu ma jolma na mausa di toru ni sampuran. Di lambungku ni jabuku do gareja, Tuhan sudah datang ke dunia ini, mago na I ahu. Sejak saat itu dia berubah, bertobat. Saudara-sadara hidup adalah piliahan dan Apa pihan anda itu akan mewarnai kehidupan anda.


Selasa, 28 September 2010

PENCOBAAN

Sepanjang kehidupan selalu ada pencobaan mengikuti kita, berusaha menjerumuskan kita untuk terjatuh dalam kekelaman dosa. Dan bagi orang yang tidak kuat imannya akan gampang terlena sedangkan orang yang mempunyai benteng pertahanan yang kuat akan mampu menepiskannya. Pencobaan adalah suatu rayuan yang selalu mengikuti anda. Misalnya bisa terjadi dalam kehidupan anda yang seorang anak kost. Sudah hampir dua bulan anda belum melunasi uang kost dan beberapa kali sudah ditagih oleh ibu kost. Suatu pagi anda pergi lari pagi dan ketika itu anda melihat seorang ibu-ibu yang sedang berlari dan memakai gelang emas. Maka timbul niat jahat dalam pikiran anda dan segera merampok ibu tadi. Itu adalah suatu bentuk pencobaan yang bisa saja terjadi dalam kehidupan kita semua. Banyak bentuk pencobaan yang menyerang kehidupan kita. Tantangannya adalah apakah kita selaku orang Kristen mampu untuk menghadapinya.

Firman Tuhan berkata dalam Titah 10 “Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu”. Titah tersebit mengajarkan kepada kita agar jangan sampai mengingini barang milik orang lain atau istri dan hamba-hambanya dan ternaknya. Hanya keinginan untuk memilikinya saja sudah salah apalagi bermaksud untuk memilikinya dengan cara yang tidak benar? Selayaknya titah ini menjadi renungan yang hidup bagi kita sehari-hari.






Dalam teori perang Tsunju, Kuasai dirimu, lawan dan medan maka pertempuran akan anda menangkan. Teori perang tersebut sebenarnya bisa juga kita pakai dalam kehidupan sehari-hari bukan saja hanya waktu berperang, tapi dalam mengahadapi serangan jahat dari si Iblis. Iblis selalu berupaya menjatuhkan manusia ke dalam dosa dan itu adalah kesenangan terbesar bagi mereka ketika melihat manusia terlunta-lunta dalam semak dosa. Iblis dalam menyerang manusia selalu menggunakan pola yang sama dari dulu sampai sekarang. Pada mulanya ketika si iblis merayu Hawa untuk memakan buah terlarang, dia memberikan penawaran bahwa ketika Hawa memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu maka dia akan sama seperti Tuhan. Dan Hawa terjatuh dalam godaan tersebut. Ada 3 (tiga) point dalam cerita tersebut yaitu:
1. Merangsang pikiran
2. Merangsang perut,
3. Merangsang kebanggaan

Kepada Bani Israel, hal yang sama juga berlaku tentang upaya iblis dalam menjerumuskan manusia. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut hal itu menunjukkan keinginan perut mereka. Saat Yesus dicobai selama 40 hari 40 malam di padang gurun, juga saat Yesus dalam keadaan lapar. Sehingga si iblis menyuruh Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Tapip aa respon Yesus? Bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari Firman Tuhan. Yesus mampu menghadapi pencobaan dari iblis.

Kita tidak perlu menghindar dari pencobaan tetapi mari kita hadapi. Tuhan Yesus berkata, “Aku telah menang dalam pencobaan dan bangkit dari kematian”. Tidak ada seorangpun manusia di bumi yang mampu seperti Yesus.

1 Kor 10:13 menyebutkan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu mampu menanggungnya”.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, menunjukkan karakter orang Kristen yang harus mampu keluar dari jerat kelamnya dunia, karena dunia sudah penuh dengan intrik dosa. Jika lingkungan sekitar sudah candu sama narkoba, maka kita harus mampu untuk tidak terikut sama mereka, atau jika temen-temen jatuh dalam kehidupan seks bebas maka kita harus mampu untuk tidak sama seperti mereka. Itu adalah tantangan yang harus dijawab oleh setiap orang Kristen khususnya pada generasi muda. Orang Kristen harus mampu menjadi garam dan terang dunia. Memberikan cahaya dalam kegelapan dan memberikan rasa dalam kehambaran hidup.

Sebagai warga Negara yang baik maka orang Kristen harus mampu menilai setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan memberikan kritikan-kritikan yang membangun untuk kehidupan bernegara yang lebih baik. Individu juga butuh untuk dikritik tapi jangan mencari-cari kesalahan seseorang untuk bisa dikritik. Berubahlah dirimu menuju terang Kristus. Kehidupan ini adalah proses metamorfosa, seperti ulat yang berubah menjadi kepompong. Kristen harus mampu terus menerus menggerakkan imannya menuju kesempurnaan hidup, optimis bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai. Memang betapa sulit manusia itu berubah, tetapi perubahan itu harus nyata dan segala hal buruk harus dilepas. Untuk mencapai perubahan itu maka tujuan hidup juga harus jelas kita petakan.

Dalam orang Batak ada 8 J yang harus dilepas yaitu:
- Jogal
- Jugul
- Jigil
- Jukkat
- Jingar
- Jukking
- Jorngam
- Jengjeng
Dengan menerima J yang besar maka semua itu akan terputus, siapakah J itu? Dialah Jesus yang tinggal dalam hati kita masing-masing.

Horas ma di hita sudena..


Senin, 05 Juli 2010

ARTI CUKUP

Sore itu ketika para kawan-kawan muslim sedang melakukan sholat di arena lapangan upacara, kami yang beragama kristen juga melakukan ibadah kebaktian singkat. Tak begitu banyak yang hadir. Aku berpikir apakah pesertanya Kristen sedikit atau justru ada beberapa orang lagi yang tidak tahu bahwa di tempat ini juga ada kebakian khusus untuk Kristen karena memang informasi yang disampaikan oleh panitia kurang terdengar sampai ke seluruh daerah perkampungan perkemahan.

Namun dari beberapa orang yang hadir (sekitar 15 orang) tidak mengurangi hikmat dari kebaktian tersebut. Kebaktiannya di pimpin oleh Kak Petrus dan kami sebagai jemaatnya. Lagu-lagu pujian kami nyanyikan dengan riang gembira, merasa bersyukur karena pelaksaan Jambore Karya Tunas Nusantara boleh terlaksana dengan baik. Semua menyanyi dengan penuh sukacita dan penuh rasa syukur.










Dalam sharing Firman Tuhan yang bertemakan “CUKUP” sangat bermakna bagi saya saat itu. Sungguh suatu pelajaran berharga karena mengajarkan kepada kita manusia khususnya Kristiani untuk mampu hidup dalam keadaan cukup. Cukup disini harus dipandang secara positif artinya cukup bukan berarti membuat diri kita berada dalam posisi yang tidak mau berusaha. Misalkan cukup saja prestasi saya hanya sebagai peserta perlombaan bukan sebagai pemenang atau cukup saja saya hanya berdoa 3 kali sehari dll. Bukan kecukupan seperti itu yang dimaksud, tapi kecukupan yang penuh rasa syukur. Cukup harus dimaknai sebagai kesiapan hati untuk mengucap syukur atau berterimakasih atas segala kondisi yang kita jalani. Kecenderungan manusia adalah serakah dan selalu ingin segala hal tanpa memperdulikan bagaimana nasib orang lain.

Misalkan seseorang yang sudah punya mobil mewah 3, dia pengen lagi rumah mewah di kawasan Pondok Indah atau pengen punya apartemen mewah lagi di Puncak. Bukan maksud bahwa hal tersebut tidak boleh tapi yang penting adalah bagaimana prosesnya, jika prosesnya sesuai dengan kehendak Tuhan tanpa menghalalkan segala cara itu sangat bagus. Apalagi untuk para pria remaja atau pemuda seringkali hawa nafsu menguasai dirinya. Punya pacar satu saja merasa tidak cukup sehingga dia memiliki beberapa orang pacar. Hal-hal tersebut sangat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita tentang bagaimana memaknai Cukup.


Dalam kehidupan rumah tangga seringkali si istri berkata bahwa suaminya kurang perhatian kepadanya dan sang suami balik berpendapat bahwa si istri justru yang tidak pengertian kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada rasa kepuasan dalam kehidupan rumah tangga yang seharusnya ada rasa saling memperhatikan dan saling pengertian sehingga tercipta keutuhan rumah tangga yang harmonis.


Kiranya biarlah kita boleh memaknai CUKUP sebagai ungkapan rasa Syukur dalam kehidupan kita. Demikian kami mengakhiri kebaktian singkat kami setelah beberapa orang membagi berkat dengan berbagai pengalaman hidu mereka yang sangat luar biasa. Kami pun kembali melantunkan lagu-lagu Rohani dengan perasaan hati penuh syukur.




Kamis, 17 Juni 2010

KUASA ROH KUDUS

Minggu Pentakoste adalah hari kelimapuluh setelah Kebangkitan Yesus dari kematian. Pada hari itu Allah mencurahkan roh kudus kepada murid-muridNya sehingga mereka berbicara yang lain. Setiap orang yang mendengar mereka mengerti dalam perkataan mereka sendiri. Itulah yang kita sebut dengan bahasa lidah (glossolalia), bukan seperti pendapat orang yang mengatakan mereka berbahasa roh tetapi tidak dimengerti oleh yang mendengarkan. Pada peristiwa turunnya Roh Kudus inilah setiap orang yang datang dari berbagai bangsa saling mengerti diikat oleh satu bahasa yaitu bahasa keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Makanya kita juga menyaksikan hari turunnya Roh Kudus adalah hari lahirnya gereja, karena pada saat itulah diperdengarkan keselamatan di dalam bahasa yang dimengerti setiap orang yang mendengarkan. Gereja adalah persekutuan dari semua suku dan bangsa di dalam Yesus Kristus.


Roh Kuduslah yang mengajari kita mengerti akan tanda-tanda zaman, manusia tidak mampu bagaimanapun tingginya pengetahuan atau statusnya dalam masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia ini. Allah mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang yang mau bertobat meninggalkan segala jalan yang tidak benar dan berjalan di jalan Tuhan. Panggilan pertobatan itu juga adalah kepada semua orang bukan hanya kepada gembala atau kelompok tertentu. Allah telah memanggil semua kelompok percaya ikut dalam pekerjaan KerajaanNya.


Melalui Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita membuat kita mengerti dalamnya, tingginya, luasnya arti hidup sehingga makin mampu memberikan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan. Lahirlah sukacita dan damai sejahtera walaupun tidak selalu berhasil dengan apa yang kita inginkan dan kita semakin sadar dalam perjalanan hidup bahwa waktu itu berjalan menuju kepenuhan panggilan Tuhan. Oleh karena itu kita akan berkata: Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. (Mzm 90:12).



Marilah kita merendahkan diri ke hadapan Tuhan dan kita terimalah Roh Kudus. Hiduplah dengan membuahkan “buah-buah roh” (tetapi buah roh ialah:, kasih, cukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu—Galatia 5:22-23), sehingga kita menjadi berkat bagi semua orang.

Senin, 14 Juni 2010

BERSERULAH KEPADA TUHAN (YOEL 1:8-20)

Konteks Alkitab pada bagian ini adalah berisi tentang ajakan kepada seluruh rakyat untuk meratap. Bentuk ratapan ini sudah biasa dilakukan di Israel. Rataoan bisanya diadakan jika ada keadaan darurat atau ancaman dari pihak musuh atau penuaian yang tidak berhasil karena bencana yang luar biasa. Semua kejadian tersebut biasanya dihubungkan dengan keberdosaan umat (bd Yes 22:2; Yer 4:8). Khusus tulah belalang di teks kita dipandang sebagai suatu yang luar biasa.


Melalui bahan renungan ayat ini dapat kita lihat betapa hebatnya pengaruh tulah belalang bagi Israel. Di ayat 8 disebutkan bahwa mereka diminta untuk meratap sebagai pertanda bahwa mereka sedang berduka. Dukacita mereka diibaratkan seperti dukacita seorang perempuan yang sebelum perkawinannya kehilangan calon suaminya. Dapat kita bayangkan kepedihan yang dialami Israel karena tulah belalang itu. Dalam tradisi orang Karo zaman dahulu jika seoarng yang bertunagan di tinggal mati tunangannya maka ia disebut sebagai perempuan/ laki-laki pembawa sial (malapetaka), sehingga bukan hanya kesedihan yang tertinggal tetapi juga rasa malu yang mendalam.







Rupanya bukan hanya manusia yang menderita karena tulah tersebut, tapi juga hewan, binatang-binatang dan alam. Di ayat 18-20 disebutkan bahwa hewan mengeluh karena tidak ada lagi rumput yang bisa mereka makan. Api telah habis memakan habis tanah gembalaan dan menghanguskan pohon di padang. Ini pasti membuat kekacauan dan penderitaan bagi alam. Kambing pun terkejut karena biasanya kambing-kambing dengan sukacitanya bisa memakan rumput sesuka hatinya. Tapi kini semua lahan habis dilalap api, sehingga alangkah sulitnya untuk menemukan makanan. Segala makhluk mengeluh, bahkan hewan oun menjerit karena suhda kehilangan berkat Tuhan.


Karena itu semua rakyat diminta berkumpul untuk berpuasa yang kudus dan berdoa, mereka berteriak kepada Tuhan. Dengan puasa yang kudus dimaksudkan bahw asuatu hari yang dikhususkan untuk melakukan puasa sebagai pengakuan bahwa manusia takluk kepada keadaan darurt yang dialami itu dan kepada Tuhan. Calvin melihat bahwa puasa dan pemakaian kain kabung itu adalah sebagai tambahan doa. Ini lebih mengarah kepada pengakuan dosa dan pertobatan.



Senin, 24 Mei 2010

DOA SELAMAT PAGI YESUS, SELAMAT PAGI BAPA...

Hari minggu yang lalu (9 Mei 2010) seperti biasanya aku mengikuti kebaktian di Gereja HKBP Bandung. Saat itu tema kebaktiannya adalah Rogate yang berarti berdoa. Saat itu juga yang kotbah adalah Amang Lundu (Pdt. L.H.M.Simajuntak). Seperti biasanya kotbah amang ini selalu menyentak dan dalam bahasaku kusebut “keras” dan biasanya juga kotbahnya mengundang kontrofersi dari beberapa jemaat. Dan aku pribadi sebenarnya ada beberapa hal tentang isi kotbah amang ini yang kurang bisa kuterima. Tapi kali ini, pada kotbah Kebaktian Sore/Pemuda isi kotbahnya cukup bagus, bisa kuterima semua. Sangat sesuai dengan yang terjadi dalam kegiatan sehari-hari atau kontekstual.

Jadi pada kotbah itu, amang itu bilang gini... sebenarnya banyak sih yang di omongin dia tapi Cuma dua point penting aja yang ingin kujelaskan disini karena menurutku yang lain-lainnya sudah umum. Yang umum itu misalkan tentang bagaimana kehidupan kristen dalam bertindak, bagaiamana tentang keadaan iman kita, dll.




Dua point penting yang aku maksud adalah yang pertama ketika dia bilang bahwa; kalau kita berdoa gag boleh ngomong gini “Selamat pagi Yesus, Selamat pagi Bapa, Selamat pagi Roh Kudus, dst.... Biasanya dalam acara-acara kebaktian pemuda, Persekutuan Doa, Persekutuan PMK seringkali aku mendengar doa-doa seperti itu. Dan ketika pertama kali aku mendengar isi doa seperti itu, aku kira bagus karena kita menyapa Yesus gitu loh. Tapi setelah mendengar isi kotbah Amang itu ternyata isi doa seperti itu tidak dibenarkan. Beberapa alasannya adalah bahwa dalam diri Yesus tidak dikenal adanya siang malam pagi sore, dll. Kehidupan Yesus tidaklah dibatasi oleh ruang dan waktu. Bagi kita malam apakah dalam dunia Yesus juga malam? Di bumi ini saja waktu tidaklah sama, tapi terbagi-bagi berdasarkan letaknya. Gag usah jauh-jauh di seluruh bumi tapi di Indonesia sendiri aja ada 3 daerah waktu yaitu WIB, WIT dan WITA. Ketika di Bandung pukul 11 malam di Papua sudah pukul 1 pagi dan beda hari. Hal itu menunjukkan bahwa batasan waktu yang kita pakai tidaklah sama. Nah kalau kita datang kepada Yesus melalui doa dengan menyapa malam, artinya sapaan kita saja udah salah. Jadi mari kita perbaiki lagi lah tentang cara berdoa kita selama ini.


Kemudian point kedua yang penting dari kotbah Amang itu adalah, terkait isi doa yang menyatakan “Ya Allah Bapa kami masih banyak lagi yang ingin kami minta dari Bapa tetapi Engkau adalah Maha Tahu jadi walaupun belum kami minta tapi kami percaya bahwa Engkau akan mengabulkannya”. Isi doa seperti ini kurang tepat karena doa itu sesungguhnya adalah harus disampaikan kepada Tuhan. Doa adalah cara atau jalan kita berhubungan, berkomunikasi dengan Tuhan. Jadi kalau isi doa tidak kita sampaikan dengan ngomong langsung bagaimana kita berkomunikasi? Memang benar bahwa Tuhan adalah Maha Tahu tapi bukan berarti dalam doa juga bisa kita anggap bahwa Tuhan sudah tahu apa yang bakal kita minta. Kalau emang cara berpikir kita seperti itu, kenapa tidak dari awal saja langsung ngomong seperti itu? “Ya Tuhan Engkau tahu apa yang mau kuminta, kiranya kabulkanlah. Amin”. Doanya langsung cepat selesai dan tidak bertele-tele. Tapi bukan doa seperti itu yang dimaksud, jika kita berdoa mintalah kepada Tuhan apa yang ingin kamu minta. Ungkapkan semuanya sepanjang ada yang ingin kamu sampaikan kepada Tuhan. Tuhan akan mendengar seluruh isi doamu.


Begitulah kiranya sekelumit isi kotbah Amang itu. Dan setahu aku baru pada kebaktian sore ini Amang itu kotbah dengan waktu yang paling lama. Kiranya isi kotbah itu juga boleh membuka pemikiran para sahabat pembaca blog saya. Tuhan Yesus memberkati.

ARTIKEL: HKBP SEBAGAI KOMUNITAS TERTUA DI TANAH BATAK YANG TETAP SETIA MELAYANI TUHAN

I. Apakah Yang Memotivasi Masyarakat Batak Percaya Kepada Yesus ?


Belajar dari kegiatan misionaris yang pertama yaitu : “Pdt. Samuel Munson dan Henry Lyman” (yang diutus badan Zending Boston Amerika) yang mati terbunuh di Lobu Pining Tapanuli Utara, nyata bagi kita bahwa penginjilan di Tanah Batak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Untuk memperjuangkan pekabaran Injil harus ada pengorbanan. (Dalam Bhs Batak Toba : mudar ni na mate martir do boni ni Huria), sebab: pada hari kematian Munson dan Lyman, ketika itulah lahir Pdt. DR. I. L. Nomensen, yang menjadi Ephorus pertama di HKBP. Kalu kita pelajari mulai dari masuknya Pdt. Burton dan Ward ke-tanah Batak Th. 1824, s/d 31 Maret 1861, barulah ada 2 (dua) orang Batak yang dibabtis oleh Pdt. Van Asselt di Sipirok, yaitu: Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon. 4 (empat) tahun kemudian, tepatnya: 27 Agustus 1865; untuk pertama kali dibaptis di Silindung, tiga belas (13) orang . (Kemungkinan untuk jubileum satu setengah abad 2011, yang diperkirakan sudah dari 6 juta jiwa yang dibabtis kedalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yang dilayani 1.500 pendeta HKBP; -Suara HKBP edisi 50, hal 39 oleh Pdt. Drs. S. Tungkir). Nah inilah perkembangan yang bisa kita lihat sampai sekarang. Untuk semua itu, sekecil apapun dampak keKristenan yang bisa kita rasakan dengan kehadiran Injil di tanah Batak, patut kita syukuri. Pada masa itu, perjuangan pembawa Injil tidak tanggung-tanggung. Mereka harus menerjemahkannya terlebih dahulu Alkitab kedalam bahasa Batak, dengan percetakan apa adanya. Belum ada foto copy. Apa yang kita dengar itulah yang harus diingat. Mis: nasehat Pdt. Petrus Nasution : “Haposi hau Tuhan Jesus, Tuhan Jesus do hangoluan” (bd Kis. Rasul 16:31) “Percayalah kepada Allah maka kamu dan seisi rumahmu akan selama). Sekarang kita mempunyai kesempatan yang sangat luas, dan sudah dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk mendapatkan banyak pengetahuan tentang Firman Allah, adakah semangat untuk melayani Tuhan, lebih giat dari dalam kita sekarang ini disbanding dengan orang para pendahulu kita ?






II. 1. Berawal Dari Kerja Keras



Semangat melayani yang tidak dikenal yang tidak kenal dan pantang menyerah dari para misionaris asal Jerman secara khusus, patut diacungi jempol. Mereka harus menerjemahkan isi Alkitab kedalam bahasa Daerah (Batak), melatih orang Batak membaca dan menulis, belajar menaikan lagu pujian dan cara hidup sehat. Pdt. Dr. IL Nomensen, menyelesaikan terjemahan Perjanjian. Baru kedalam bahasa Batak dengan memakai tulisan Batak dan Latin. Th. 1878, berbahasa Batak Angkola th. 1879, oleh Pdt. A. Schreiber, selanjutnya pendirian gereja, altar dan pengadaan fasilitas sebab orang Batak belum mengenal kursi dan lemari. Semua acara termasuk acara adat duduk dengan menggelar tikar (amak tiar). Kalau kita perhatikan bentuk podium (mimbar) tempat pengkotbah menyampaikan Firman Allah, itu didominasi dua (2) bentuk, yaitu: merpati dan piala, demikian juga pengaturan penempatan menghargai ibadahnya (persekutuan dengan Allah). Sekalipun kita lihat sangat lambat dari segi semakin dicintai dan semakin di mengerti. Dengan demikian kerinduan untuk beribadah setiap minggunya tetap berkesinambungan. Untuk melanjutkan pelayanan dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya dibutuhkan tenaga pengajar yang berasal dari daerah tersebut. Kita tahu perkampungan orang Batak dipagari dengan bambu. Mereka punya motto: sinuan bulu sibaen nalas, sinuan tutur sibaen na horas!. Dalam hal ini tidak sembarang orang bebas masuk-keluar kampung, bisa bahaya. Harus tahu adat, marga dan partuturan (hubungan marganya dengan warga kampung yang dikunjunginya). Selain itu sebahagian perkampungan (306 huta), th 1878 di Silindung jatuh ke-tangan Gubernur Belanda. Sudah pasti keluar-masuknya orang asing sangat dibatasi. pada hal tuntutan penambahan tenaga pemberita Injil semakin dibutuhkan. Maka pada th. 1883, dibuka sekolah pendeta bagi orang Batak Th 1889, dibuka juga kesempatan bagi kaum Ibu, anak gadis dan anak perempuan, dengan tenaga penajar Nn. Hester Needam (Silindung). Dibantu Nn. Tora, Nn. Nieman di Toba. Th 1894, dalam perjanjian lama disalin kedalam bahasa Batak oleh Pdt. PH. Johansen. Inilah sebagaian upaya kerja keras yang dengansabar ditekuni dan dipergumulkan oleh para pendahulu kita. Alhasil , orang Batak keluar dari kegelapan. Misionaris telah membawa terang Firman Tuhan lewat pendidikan Theologia, Ilmu Pengetahuan (termasuk keterampilan, bertukang, berkebun beternak. Para guru Zending .dilathin mengajar kelas (pendidikan umum),demikian juga di gereja Hampir semua sekolah Zending, mengajar dikelas (pendidikan Umum), demikian juga di-Gereja. Hampir semua sekolah Zendin, dilatih untuk bosa berdoa dan menyanyikan lagu pujia. Kompleks Gereja / sekolah ditanami buah-buahan, sayur-sayuran dan jenis palawija. Isteri pendeta altar dan Gr. Zending di latih memakai peralatan bidan untuk menolong persalinan. Ketika itu tali pusar anak yang baru lahir masih dipotong dengan bambu. Begitu juga dengan “roti perjamuan kudus” ada yang dibuat sendiri. Ketika itu hubungan Jerman dengan orang Batak cukup baik. Taplak meja, penutup altar dan semua yang dibutuhkan dalam peribadatan, sangat diperhatikan. Pada masa orang tua saya masih aktif sebagai “Guru Zending”, kami sekeluarga merasakan hal itu dan terlibat didalam tugas itu. Sebagai ucapan terimakasih, sesekali orang tua kami mengirimkan cabai keriting ke Jerman. Disbanding dengan yang kita dapat dari jasa para misionaris, pengorbanan kita belum ada apa-apanya. Semua itu dikerjakan sebagai panggilan dari tugas pelayanan untuk menjadikan semua bangsa di dunia menjadi murid Tuhan. Bagi kita yang sudah menikmati kemajuan didunia modern versi panggilan untuk melayani, tentunya sudah mengalami perobahan tetapi, pengting bagi kita mengenal sejarahnya supaya kita belajar menghargai apa yang diwariskan kepada kita, supaya tetap bersemangat dalam pelayanan.


2. Belajar Menghormati Mereka Yang Bekerja Keras, Dan Memimpin Kamu Dalam Tuhan Dan Menegor Kamu (1 Tes 5:12)


Ketika masih melayani di Sipoholon, pernah terjadi gempa berkekuatan 6,7 skala richter. Banyak bangunan yang rusak porak-poranda. Penduduk dari perkampungan dan yang ada di perbukitan keluar ke jalan raya berjalan kaki menuju (kearah) Balige. Ada seorang nenek tua, dipapah cucunya, remaja puteri berusia 16 tahun. Keduanya berjalan sangat lambat. Mereka tertinggal dari rombongan karena “si nenek”, tidak kuat lagi berjalan. Cucunya sangat berang, lalu berkata : tinggal salah ompung (!), nanti kita tersesat tidaaak tahu mau kemana. Samil marah-marah karena kesal, dia pergi dan meninggalkan neneknya dijalanan. Anak gadis itu lupa kalau neneknya sudah berjuang membesarkan Orangtua-nya, dan termasuk mengasuh cucu-cucunya bahkan memerikan makan dan menceboknya ketika dia elum pandai mengurus diri sendiri. Kalau saya lihat waktu itu sikap anak itu sudah bisa disamakan dengan “kacang yang lupa kulitnya ketika hari panas. Nah persoalan “ber-HKBP, juga seperti itu, begitu. HKBP sudah dipakai Tuhan, memberikan banyak kontribusi untuk memajukan masyarakat Batak. Dari usia pelayanannya katakanlah sudah cukup tua. Tapi generasinya selalu ada yang baru “kalian-kalian lah itu”. “Anda-anda” lah gerejanya (aku gereja kamu juga). Jangan lecehkan gereja HKBP. Cintailah, rawatlah, dan majulah bergandengan tangan dengan komunitas Kristen yang lain. Kalau kita bertannya: “mampukah HKBP menjadi teladan dalam pelayanan” (?). Ooooo pasri !. contohnya, kalian!. Orang Batak bilang, “JELOK” buahnya ada diujung, jangan cari dipokoknya. Seperti itu jugalah sebuah keberhasilan, jangan lihat ketika gontok-gontokan, ketika ada persoalan atau ketika ada kesalahan. Tetapi lihatlah bagaimana Allah memimpin gerejanya, warganya dan pembangunannya. Pertumbuhan Iman dan kecintaaan oran Batak kepada Yesus Kristus itu luar biasa. Kalau masih ada Kristen Batak yang mendua hati perlu diselidiki ketulusan hatinya. Jangan salahkan HKBP. Semua gereja yang sudah diklaim menjadi milik Kristus jangan ragukan tetapi perbaikilah hatimu, cara pandangmu dan doamu. Tegorlah yang menganggap remeh perjuangan HKBP.
Sedapat-dapatnya ikutan berjuang. Pikul salib dan berikan koontribusimu yang dapat menyemangati dan memajukan pelayanan sesamu anak Tuhan dan para pelayan (parhobas) di gereja kita. Sekecil apapun itu sangat berharga di mata Tuhan.


III. Penutup


Tuaian sudah didepan mata. Upaya untuk menyampaikan pelajaran kepada orang Batak dahulu sangat susah. Anak-anak sudah dilatih kerja disawah membantu orang tua. Pokoknya bisa makan. Padahal untuk mengerti Firman Tuhan harus ada waktu belajar, bisa baca dan menulis. Para misionaris tidak mundur tetapi bersemangat terus. Mereka buat nyanyian yang dapat memberikan kesadaran, mis : marsikola au amang, dohot ho ale inang. Unang jolo suru au mangula hauma i. Ai na met-met do pe au … Inilah antara lain dari sekian banyak upaya yang sudah dimenangkan oleh para pendahulu kita. Tugas selanjutnya terserah anda mau kita bawa kemana gereja HKBP. Semuanya ada didepan mata. Perjuangan untuk “mempersekutukan orang Batak dengan Yesus Sang Juruslamat (Iman yang bertumbuh di dalam Kristus), sudah nyata lewat pendidikan Theologia dan pendirian gereja. Pendidikan yang mencerdaskan lewat pendirian Sekolah dan penyediaan tenaga pengajar dan kepedulian terhadap kesehatan, semua itu telah dibenahi. Namun demikian kita tidak bisa berhenti. Mari kita saling bergandengan tangan, berjuang terus, pantag mundur dan tetap bersemangat. Syalom Tuhan Yesus memberkati !!!!!!!!!


(Penulis adalah Pdt KE Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2009)


Selasa, 13 April 2010

MENGIKUTI JEJAKNYA (1 PETRUS 2:19-23)



Shalomm… temen-temen semua dan berharap Sukacita dari Kristus senantiasa menyertai kita. Tulisan berikut ini merupakan kotbah ketika saya mengikuti Kebaktian Minggu di GII Dago, Bandung pada Minggu 11 April 2010 yang lalu. Semoga setiap orang yang membaca, terberkati (Amin).

Selama kita masih hidup di dunia ini, kita akan mengalami yang namanya penderitaan. Ada banyak penyebab seseorang menderita. Ada yang menderita akibat dosanya sendiri. Yang lain akibat cara hidup yang tidak bijaksana. Sebagian lagi menderita karena system dunia yang rusak/karena orang lain. Dalam bagian ini, Rasul Petrus membahas penderitaan yang terjadi bukan karena kesalahan sendiri tetapi justru karena berbuat baik. Hal itu telah dicontohkan oleh Kristus. Ia tidak pernah berbuat jahat namun menderita bagi umat manusia. Jika kita mengikuti teladan Kristus, maka kita akan mengalami hal yang sama. Kita berbuat baik, namun bukan penghargaan yang kita terima melainkan penganiayaan dan penderitaan.

Konteks bagian ini adalah ketaatan. Taat kepada otoritas yang lebih tinggi demi Allah (13). Ketaatan adalah tindakan mewujudkan kehendak Allah (15). Sebagai aplikasi yang relevan dengan konteks situasi masa itu, Petrus menyasar pada kalangan hamba. Pada masa itu terjadi kegelisahan di kalangan hamba karena sejumlah hamba yang menjadi Kristen mengganggap bahwa oleh karena mereka telah menjadi hamba Kristus, maka mereka sekarang bebas dari tuan mereka. Mereka tidak lagi perlu taat. Bahkan ada orang Kirsten yang memprovokasi hamba-hamba agar melarikan diri dari tuannya. Petrus tidak menyetujui hal ini. Petrus tidak mengajarkan orang Kristen agar lari dari dunia. Hamba tidak perlu berhenti menjadi hamba tetapi sebaliknya menjadi hamba yang lebih baik sekalipun tuan mereka jahat. Kalaupun mereka harus menderita, mereka harus yakin bahwa itu bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena ketidakadilan tuannya. Penderitaan seperti itulah yang patut dipuji.


Untuk mempertegas uraiannya, Petrus mencontohkan Kristus sendiri yang menderita. Uraiannya dekat dengan yang tertulis dalam Yesaya 53. Mungkin Petrus mengutip hymne gereja mula-mula. Kristus sebagai hamba yang menderita dalam dunia karena ketaatannya kepada tuannya (Bapa di Surga). Menjadi hamba Allah tidak membebaskanNya dari penderitaan, justru mengantarnya kepada jalan penderitaan. Namun penderitaan itu mendatangkan keselamatan bagi manusia. Jadi Yesus adalah contoh sempurna orang yang benar yang menderita karena kejahatan manusia demi kebaikan orang yang membuatNya menderita. Petrus sengaja menempatkan hymne ini untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai teladan kita. Teladan dalam hal sikapNya menghadapi penderitaan. Petrus ingin mengatakan bahwa kalu Kristus saja rela menderita karena ketidakadilan demi kebaikan umat manusia, mengapa kita tidak mau menjalani yang sama demi kebaikan orang lain?
Oleh karena Petrus menganggap semua orang Kristen adalah hamba Allah (2:16), maka nasihat ini berlaku bukan hanya untuk hamba tetapi juga buat semua orang Kristen. Orang Kristen yang patut dipuji adalah orang Kristen yang menanggung penderitaan yang tidak patut ia tanggung dengan tekun. Ia “sadar akan kehendak Allah” (19, ter.NIV: conscious of God), maka maksudnya ia menerima dengan penderitaan dengan iman bahwa Allah tahu dan berbagian di dalam penderitaannya.
Lebih lanjut Petrus menyebut penderitaan itu sebagai panggilan Kristen (21), suatu keniscayaan yang harus diahadapi. Itu sebabnya adalah keliru mengatakan bahwa ikut Yesus bebas dari penderitaan. Ketika kita memutuskan untuk menjadi orang Kristen, pada saat itu kita terima dua panggilan: bersaksi dan menderita. Bersaksi tentang kebenaran. Oleh karena duania membenci kebenaran dan menolak kita maka kita akan mengalami penderitaan.




Tentu yang dimaksud bukan asal menderita. Tidak semua penderitaan itu sesuai dengan panggilan Tuhan. Kita dipanggil untuk menderita karena alasan yang benar dan untuk tujuan yang baik. Jadi penderitaan kita itu patut untuk dipuji jika alasannya benar dan tujuannya baik. Kalau kita menderita (di penjara) karena menipu orang (alasan yang salah), maka itu tidak dapat dipuji. Tetapi kalu hamba Tuhan di Negara komunis di penjara (dianiaya menderita) akrena memberitakan injil (alasan benar) maka itu patut dipuji.

Selain sikap bertekun di dalam menghadapi penderitaan, yang patut dipuji adalah orang Kristen yang menghadapinya seperti Kristus menghadapi: “ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam….” (23a). Kristus tidak membalas yang jahat dengan yang jahat, tetapi membalas yang jahat dengan yang baik. Bahkan Ia masih mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.


Dasar dibalik sikap Kristus itu adalah keadilan Tuhan. “…. Tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (23b). Ia percaya kepada keadilan Allah. Hukuman dan upah datangnya dari Allah. Allah yang berwenang menghukum orang fasik. Ia juga tidak akan melupakan untuk mengangkat orang benar.


Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor