Tampilkan postingan dengan label GEREJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEREJA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Desember 2017

SIAPAKAH YESUS ?

Dalam ilmu kimia,
Dia mengubah air menjadi anggur;

Dalam ilmu biologi,
Dia dilahirkan tanpa pembuahan secara normal;

Dalam ilmu fisika,
Dia menentang hukum gravitasi ketika Dia terangkat ke surga;

Dalam ilmu ekonomi,
Dia menentang hukum hasil yang menurun melalui memberi makan 5000 laki-laki dengan 2 ikan dan 5 roti;

Dalam ilmu kedokteran,
Dia menyembuhkan yang sakit dan yang buta tanpa memberikan satu dosis obat apapun;

Dalam sejarah,
Dia adalah yang awal dan yang akhir;

Dalam pemerintahan,
Dia mengatakan bahwa Dia seharusnya disebut Penasihat Ajaib, Raja Damai;

Dalam agama,
Dia mengatakan tidak ada seorangpun yang datang pada Bapa kecuali melalui Dia;

Jadi, siapakah Dia? Dia adalah Yesus!

Manusia Terhebat dalam Sejarah

Yesus tidak mempunyai pelayan,
tetapi mereka memangil Dia Tuan.

Tidak memiliki gelar,
tetapi mereka memanggil Dia Guru.

Tidak mempunyai obat-obatan,
tetapi mereka menyebut-Nya Sang Penyembuh.

Tidak memiliki pasukan,
tetapi raja-raja gentar pada-Nya.

Dia tidak memenangkan pertempuran militer, tetapi Dia menaklukkan dunia.

Dia tidak melakukan kejahatan,
tetapi mereka menyalibkan Dia.

Dia dikubur dalam sebuah makam,
tetapi hari ini Dia hidup.

Saya merasa terhormat melayani Pemimpin yang sedemikian, pemimpin yang mengasihi kita.

Bergabunglah dengan saya dan marilah menyambut Dia; Dia layak.

Mata yang melihat pesan ini kiranya tidak melihat yang jahat.

Tangan yang mengirimkan pesan ini kepada setiap orang seharusnya tidak melayani dengan sia-sia,

dan mulut yang berkata Amin atas doa ini kiranya tersenyum selamanya.

Tinggallah dalam Allah dan carilah wajah-Nya selalu.Amin!

Dalam Allah saya telah menemukan segala sesuatu!

Kirimkan ini pada semua orang yang Anda pedulikan.

Biarlah orang mengenal pekerjaan Tuhan YESUS kita.

Biarlah seluruh dunia mengapresiasi Tuan di atas tuan.

Janganlah malu menyebarkan injil..😊

HARI PEKABARAN INJIL INDONESIA
🙏 Tuhan memberkati Anda

Senin, 05 Juli 2010

ARTI CUKUP

Sore itu ketika para kawan-kawan muslim sedang melakukan sholat di arena lapangan upacara, kami yang beragama kristen juga melakukan ibadah kebaktian singkat. Tak begitu banyak yang hadir. Aku berpikir apakah pesertanya Kristen sedikit atau justru ada beberapa orang lagi yang tidak tahu bahwa di tempat ini juga ada kebakian khusus untuk Kristen karena memang informasi yang disampaikan oleh panitia kurang terdengar sampai ke seluruh daerah perkampungan perkemahan.

Namun dari beberapa orang yang hadir (sekitar 15 orang) tidak mengurangi hikmat dari kebaktian tersebut. Kebaktiannya di pimpin oleh Kak Petrus dan kami sebagai jemaatnya. Lagu-lagu pujian kami nyanyikan dengan riang gembira, merasa bersyukur karena pelaksaan Jambore Karya Tunas Nusantara boleh terlaksana dengan baik. Semua menyanyi dengan penuh sukacita dan penuh rasa syukur.










Dalam sharing Firman Tuhan yang bertemakan “CUKUP” sangat bermakna bagi saya saat itu. Sungguh suatu pelajaran berharga karena mengajarkan kepada kita manusia khususnya Kristiani untuk mampu hidup dalam keadaan cukup. Cukup disini harus dipandang secara positif artinya cukup bukan berarti membuat diri kita berada dalam posisi yang tidak mau berusaha. Misalkan cukup saja prestasi saya hanya sebagai peserta perlombaan bukan sebagai pemenang atau cukup saja saya hanya berdoa 3 kali sehari dll. Bukan kecukupan seperti itu yang dimaksud, tapi kecukupan yang penuh rasa syukur. Cukup harus dimaknai sebagai kesiapan hati untuk mengucap syukur atau berterimakasih atas segala kondisi yang kita jalani. Kecenderungan manusia adalah serakah dan selalu ingin segala hal tanpa memperdulikan bagaimana nasib orang lain.

Misalkan seseorang yang sudah punya mobil mewah 3, dia pengen lagi rumah mewah di kawasan Pondok Indah atau pengen punya apartemen mewah lagi di Puncak. Bukan maksud bahwa hal tersebut tidak boleh tapi yang penting adalah bagaimana prosesnya, jika prosesnya sesuai dengan kehendak Tuhan tanpa menghalalkan segala cara itu sangat bagus. Apalagi untuk para pria remaja atau pemuda seringkali hawa nafsu menguasai dirinya. Punya pacar satu saja merasa tidak cukup sehingga dia memiliki beberapa orang pacar. Hal-hal tersebut sangat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita tentang bagaimana memaknai Cukup.


Dalam kehidupan rumah tangga seringkali si istri berkata bahwa suaminya kurang perhatian kepadanya dan sang suami balik berpendapat bahwa si istri justru yang tidak pengertian kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada rasa kepuasan dalam kehidupan rumah tangga yang seharusnya ada rasa saling memperhatikan dan saling pengertian sehingga tercipta keutuhan rumah tangga yang harmonis.


Kiranya biarlah kita boleh memaknai CUKUP sebagai ungkapan rasa Syukur dalam kehidupan kita. Demikian kami mengakhiri kebaktian singkat kami setelah beberapa orang membagi berkat dengan berbagai pengalaman hidu mereka yang sangat luar biasa. Kami pun kembali melantunkan lagu-lagu Rohani dengan perasaan hati penuh syukur.




Senin, 14 Juni 2010

BERSERULAH KEPADA TUHAN (YOEL 1:8-20)

Konteks Alkitab pada bagian ini adalah berisi tentang ajakan kepada seluruh rakyat untuk meratap. Bentuk ratapan ini sudah biasa dilakukan di Israel. Rataoan bisanya diadakan jika ada keadaan darurat atau ancaman dari pihak musuh atau penuaian yang tidak berhasil karena bencana yang luar biasa. Semua kejadian tersebut biasanya dihubungkan dengan keberdosaan umat (bd Yes 22:2; Yer 4:8). Khusus tulah belalang di teks kita dipandang sebagai suatu yang luar biasa.


Melalui bahan renungan ayat ini dapat kita lihat betapa hebatnya pengaruh tulah belalang bagi Israel. Di ayat 8 disebutkan bahwa mereka diminta untuk meratap sebagai pertanda bahwa mereka sedang berduka. Dukacita mereka diibaratkan seperti dukacita seorang perempuan yang sebelum perkawinannya kehilangan calon suaminya. Dapat kita bayangkan kepedihan yang dialami Israel karena tulah belalang itu. Dalam tradisi orang Karo zaman dahulu jika seoarng yang bertunagan di tinggal mati tunangannya maka ia disebut sebagai perempuan/ laki-laki pembawa sial (malapetaka), sehingga bukan hanya kesedihan yang tertinggal tetapi juga rasa malu yang mendalam.







Rupanya bukan hanya manusia yang menderita karena tulah tersebut, tapi juga hewan, binatang-binatang dan alam. Di ayat 18-20 disebutkan bahwa hewan mengeluh karena tidak ada lagi rumput yang bisa mereka makan. Api telah habis memakan habis tanah gembalaan dan menghanguskan pohon di padang. Ini pasti membuat kekacauan dan penderitaan bagi alam. Kambing pun terkejut karena biasanya kambing-kambing dengan sukacitanya bisa memakan rumput sesuka hatinya. Tapi kini semua lahan habis dilalap api, sehingga alangkah sulitnya untuk menemukan makanan. Segala makhluk mengeluh, bahkan hewan oun menjerit karena suhda kehilangan berkat Tuhan.


Karena itu semua rakyat diminta berkumpul untuk berpuasa yang kudus dan berdoa, mereka berteriak kepada Tuhan. Dengan puasa yang kudus dimaksudkan bahw asuatu hari yang dikhususkan untuk melakukan puasa sebagai pengakuan bahwa manusia takluk kepada keadaan darurt yang dialami itu dan kepada Tuhan. Calvin melihat bahwa puasa dan pemakaian kain kabung itu adalah sebagai tambahan doa. Ini lebih mengarah kepada pengakuan dosa dan pertobatan.



Selasa, 25 Mei 2010

Sekjen : HKBP Membutuhkan Pelayan Berdedikasi Tinggi

Ini adalah sebuah refleksi dari Ebenezer Lumbangaol salah seorang peserta Latihan Persiapan Pelayan (LPP) I Calon Pelayan Pendeta, Guru Jemaat, Bibelvrouw dan Diakones yang diadakan tanggal 8-22 Pebruari 2010 di Seminarium Sipoholon.

Sekjen : HKBP Membutuhkan Pelayan Berdedikasi Tinggi

Salah satu kekurangan mendasar pelayan gereja adalah kesombongan dan kemunafikan. Kesombongan muncul dari perasaan lebih tahu dari orang lain. Sedangkan kemunafikan muncul akibat lunturnya idealisme oleh realitas medan pelayanan yang amat berbeda dengan gambaran ideal yang dibayangkan sebelumnya.

Demikian Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Ramlan Hutahaean, MTh saat menyampaikan pesan pemberangkatan kepada peserta Latihan Persiapan Pelayanan (LPP) I calon pelayan HKBP di Seminarium Sipoholon (20/1).

Di tangah-tengah dinamika pelayanan yang semakin kompleks itu HKBP membutuhkan pelayan-pelayan berdedikasi tinggi, memiliki integritas serta tidak mementingkan diri sendiri. Pelayan HKBP diharapkan mampu berhadapan dengan semua tantangan, tidak melarikan diri dari masalah dan tanggung jawabnya. Pelayan berdedikasi adalah mereka yang tidak cengeng, suka mengeluh dan mudah menyerah.





“Atasi kelemahan di masa lalu dan siapkan diri menjadi pelayan di masa depan. Tunjukkan bahwa anda sudah siap melayani dan bertekad menjadikan pelayanan HKBP lebih baik di masa depan. Anda adalah domba yang akan bertemu singa. Bukan sebaliknya,” pesan Sekjen.

Saat memulai pelayanan adalah saat yang sama dengan dimulainya interaksi dengan banyak pihak dengan berbagai kebutuhan dan kepentingan. Di sana para pelayan yang tidak berdedikasi seringkali mengalami pembusukan idealisme. Pelayan terjebak oleh penilaian-penilaian emosional, rasa suka tidak suka, terperosok dalam pengelompokan yang menganggap pihak lain sebagai musuh yang harus ditaklukkan.

”Saya ingin anda semua sudah siap. Di dalam pelayanan yang sesungguhnya anda akan bertemu dengan orang-orang yang belum tentu mendukung dan menyukai anda. Oleh sebab itu anda harus mampu berkomunikasi dengan semua pihak,” demikian Sekjen.
Menurut Sekjen komunikasi yang baik menghasilkan usaha pemecahan masalah yang dapat diterima semua pihak. Di sana pelayan tidak lagi berusaha menyebarluaskan masalah apalagi dengan cara-cara yang kontraproduktif.

Menurut Sekjen salah satu cara yang bijak dalam berkomunikasi secara efektif adalah dengan melakukan refleksi terhadap segala informasi yang diterima. Tidak menelan bulat-bulat. Seperti ajaran Yesus, pelayan harus cerdik dan bijak menguji semua informasi. “Manis jangan ditelan, pahit jangan dibuang,” pesan pendeta yang telah berpengalaman melayani lebih dari 25 tahun itu.

”Anda harus lebih baik dari yang sekarang. Kritisi dulu diri sendiri. Selebihnya adalah mendengar, memperhatikan dan mempelajari situasi di sekeliling jemaat. Jangan langsung mengkritik. Mata guru, roha sisean,” pesan Sekjen.

Penempatan adalah Pengutusan
Pada bagian lain, Sekretaris Jenderal HKBP menandaskan bahwa penempatan pelayan adalah pengutusan Tuhan melalui HKBP. Oleh sebab itu semua calon pelayan HKBP harus memahami bahwa penentuan tempat pelayanan tidak didasarkan kepada kedekatan relasi atau kepentingan tertentu. Pelayan diharapkan menerima dengan gembira penempatan itu.

”Buang curiga dan rasa tidak suka, tidak ada kolusi dalam penempatan pelayan di HKBP. Semua didasarkan semata-mata kepada kebutuhan pelayanan. Semua daerah pelayanan adalah sama sebagai wilayah pengutusan oleh Tuhan,” ujar Sekjen.

Dengan kesadaran sebagai pengutusan Tuhan maka pelayan harus memiliki kesadaran bahwa tugas pelayanan adalah tugas spiritual. Oleh karena itu semua pergumulan dalam pelayanan sejatinya menjadi pergumulan rohani yang tidak perlu dialihkan menjadi perdebatan dan tarik-menarik kepentingan duniawi.

Sebagai pengutusan maka tugas-tugas calon pelayan harus memiliki bekal utama yakni disiplin. Disiplin dimulai oleh sebuah kesadaran untuk menempatkan diri dengan tepat di dalam struktur organisasi pelayanan HKBP.

”Sesudah sampai di jemaat, segera pelajari dan pahami struktur pelayanan dan realitas jemaat setempat, hormati pendeta ressort yang menjadi mentormu dan berinteraksi dengan baik. Jangan justru menjelek-jelekkan dan menyebarluaskan ketidakpuasan anda ke semua orang. Pelajari dan pahami segala sesuatu dengan hati-hati dan pelan-pelan. Seperti mobil baru, jangan langsung dikebut,” kata Sekjen beranalogi.

Disiplin pribadi juga berarti loyalitas kepada organisasi HKBP. Loyalitas dimaksud dihasilkan melalui ketaatan kepada kaidah-kaidah administratif. Untuk itu Sekretaris Jenderal HKBP menekankan agar para calon pelayan melatih diri menjadi pribadi yang administratif.

”Jadilah pribadi yang terpercaya. Terpercaya berarti kemampuan menepati janji, memiliki integritas dan tidak mengenal kompromi terhadap penyimpangan administrasi yang terjadi di jemaat,” tegas Sekjen.

Penekanan Sekjen terhadap disiplin organisasi dan administrasi ini tidak terlepas dari usaha HKBP menjadikan diri sebagai organisasi yang tersusun dengan rapi. Di dalamnyaterkandung semangat menata diri dalam kaidah-kaidah organisasi yang transparan dan akuntabel. Semangat demikian adalah roh dari Tahun Penatalayanan HKBP 2010 yang telah diluncurkan baru-baru ini.
(Ebenezer L. Gaol)



HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP)

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah Gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat Batak, bahkan juga di antara Gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan resmi berdiri pada 7 Oktober 1861.
Saat ini, HKBP memiliki lebih dari 3 juta anggota di seluruh Indonesia. HKBP juga memunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. Meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.
Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) yang berjarak sekitar 2 km dari Tarutung, ibu kota kabupaten tersebut. Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Kompleks perkantoran HKBP, pusat administrasi organisasi HKBP, berada dalam area lebih kurang 20 hektar. Di kompleks ini juga Ephorus (uskup) sebagai pimpinan tertinggi HKBP berkantor.
HKBP adalah anggota PGI, anggota Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), dan anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD). Sebagai gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di Jenewa, Swiss.




SEJARAH SINGKAT HKBP
1824 Untuk pertama kalinya Misionaris bekerja di Tanah Bata, yaitu Pdt. Ward dan Pdt Burton yang diutus oleh Gereja Baptis Inggris.
1825 - 1829 Perang Bonjol. Tuanku Rao menyerang bangsa Batak
1834 Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman diutus Bandan Zending Boston, Amerika Serikat menginjili di tanah Batak. Kedua Missionaris tsb mati martir di Lobu Pining (Tapanuli Utara)
1840 Seorang ilmuwan, Junghun mengadakan ekspedisi ke tanah Batak. Melalui perjalananya kabar tentang tanah dan orang Batak sampai ke Eropa
1849 Van der Tuuk, yang diutus Lembaga Alkitab Belanda mempelajari Bahasa Batak. Sebagian dari Alkitab diterjemahkannya ke dalam Bahasa Batak dengan menggunakan aksara Batak
1853 Pdt DR Fabri, pemimpin Badan Zending Rheinshe (RMG) setelah melihat karya Van der Tuuk di Negeri Belanda, merasa tertarik untuk mengutus missionaris yang terhambat pekerjaannya di Kalimantan ke tanah Batak.
1857 Pdt Van Asselt yang diutus oleh Pdt Witteven dari Ermerlo Holland bekerja di Tapanuli Selatan
1861 31 Mar
7 Oktober


Orang Batak Pertama menerima Baptisan Kudus, yakni Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon yang dilayani oleh Pdt van Asselt di sipirok
Rapat 4 orang Missionaris di Sipirok membicarakan pembagian wilayah penginjilan. Keempat Missionaris tsb adalah : Pdt Heine, Pdt Klammer, Pdt Betz dan Pdt van Asselt. Tanggal 7 Oktober menjadi hari dimulaikan RMG bekerja di Tnah Batak dan sekaligus menjadi hari kelahiran HKBP
1862 Jemaat di Pangaloan dan Sigompulon Pahae (Tapanuli Utara) berdiri
1864 Mei
20 Mei
29 Mei


25 Desember


Berdiri jemaat di Sipirok
Pdt I.L. Nommensen mendirikan perkambungan Huta Dame di Saitnihuta Ompungsumurung (Tapanuli Utara)
Kebaktian Pertama di Hutadame. Hari ini menjadi hari jadi Jemaat di Dame di Saitnihuta dan Pearaja, dan sekaligus merupakan jemaat yang pertama didirikan Pdt I.L. Nommensen
Baptisan Kudus untuk pertama kalinya dilayankan di Gereja Sipirok. Mereka yang menerima Baptisan Kudus tsb adalah: Tomas Siregar, Pilipus Hutabarat dan Johannes Hutabarat
1865
27 Agustus 13 orang pertama dibaptis di lembah Silindung (Tapanuli Utara)
1867 29 Mar Jemaat HKBP Pansurnapitu berdiri
1868 Sekolah Pnedeta di Parausorat Sipirok dibuka. Murid yang pertama dari sekolah tsb adalah: Thomas, Paulus, markus, Johanes dan Epraim. Sedangkan guru sekolah pendeta tsb adalah : DR A. Screiber dan Leipold
1870 Jemaat di Sibolga dan Sipoholon berdiri
1872 Jemaat di Bahalbatu Humbang berdiri
1877 Seminarium Pansurnapitu berdiri dengan murid pertama sebanyak 12 orang
1878 Pdt I.L. Nommensen menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak dengan aksara latin dan Batak
1879 Diterjemahan Dr, A. Scrieber Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak angkola
1881

Jemaat di Balige (Tobasa) berdiri
Aturan Gereja (konstitusi) yang pertama diberlakukan
Pdt I.L. Nommensen terpilih menjadi Ephorus yang pertama
1883 Sekolah Pendeta dibuka untuk orang Batak. Murid yang pertama yakni : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution dan Johannes Sitompul. Johannes Sitompul meninggal dunia sebelum menyelesaikan pendidikan
1885
19 Juli Penahbisan Pendeta Batak yang pertama di HKBP Pearaja, yakni Johannes Siregar, Petrus Nasution dan Markus Siregar
1889
13 April Pelayanan terhadap Perempuan dimulai
Nn Hester Needham diutus RMG melayani di Silindung dibantu oleh Nn Tora dan Nn Nieman di Toba
1890
1 Januari

8 Januari

Terbit untuk pertama kalinya Surat Parsaoran Immanuel (Majalah Gereja)
Nn Hester Needham bekerja di Pansurnapitu melayani anak-anak dan perempuan serta membantuk di sekolah Pendeta Pansurnapitu
1893 Sekolah Zending menerima subsidi dari pemerintah
1894 Pdt P.H. Johannsen menterjemahkan Perjanjian Lama ke dalam Bahasa Batak
1895
16 Juli
Nn Hester Needham berangkat ke Muarasipongi Kotanopan bersama seorang putri Mandailing yang bernama Domi
1896

3 Mei - 26 Juli
Juli
Nn Hester Needham bekerja di Melintang mencoba untuk mengabarkan Injil kepada pemeluk agama yang lain dengan sangat hati-hati di Mandailing na Metmet
Nn Hester Needham bekerja di Maga dan meninggal dunia serta dikebumikan disana. Pada tahun 2002 tulang belulang Nn Hester Needham dipindahkan ke Kompleks Gereja HKBP Aek Bingke
1898 Kalender HKBP terbit untuk pertama kalinya
1899 Mission Batak yang dipimpin Pdt Henok Lumbantobing mulai bekerja di Pulau Samosir, Simalungun dan Dairi
1900


2 Juni

5 September
Berdiri Sekolah Anak Raja dengan bahasa pengantar Bahasa belanda di Narumonda. Guru Sekolah tsb adalah: Pohling dan Pdt Otto Marcks. Di tempat yang sama juga berdiri Sekolah Tukang
Rumah Sakit Pearaja dibuka, pada tahun 1928 pindah ke Tarutung
Perkampungan penderita Kusta berdiri di Huta Salem Laguboti
1901 Seminarium Pansurnapitu pindah ke Sipoholon
1903 Perkabaran Injil di Simalungun dimulai
1905

7 Oktober
Sekolah Anak Raja Narumonda berubah menjadi Seminarium
Perayaan Hari Jadi HKBP yang pertama kali dirayakan di seluruh HKBP
1907 HKBP Pematangsiantar berdiri
1908 27 April Hari lahirnya HKBP Sidikalang
1911 HIS berdiri di Sigumpulon Tarutung
Berdiri Distrik Angkola (Tapanuli Selatan), Silindung, Humbang, Toba Samosir (menjadi Toba) dan Simalungun-Ooskust (menjadi Sumatera Timur)
1912 Pendeta HKBP pertama melayani di Medan
1915 Tapanuli Menjadi kedemangan
1917 Berdiri Hatopan Christen Batak (HChB), ormas Batak di Tapanuli
1918
23 Mei Ompu i Pdt DR. I.L. Nommensen meninggal dunia di Sigumpar
1918-1920 Ds V Kessel menjadi Ephorus
1919 HIS Zending berdiri di Narumonda
1920 Pdt DR Johannes Warneck terpilih menjadi Ephorus
1922

20 Juni Zending Batak mengutus Pendeta ke Jakarta dan Guru ke Padang
Sinode Godang HKBP yang pertama
1923 3 Des Pelayanan Diakonia dimulai di Hepata yang ditangani oleh Zending Batak
1927

MULO berdiri di Tarutung
Pelayanan kepada kaum muda yang dipimpin oleh Pdt DR E Verwiebe. Pada Rapat Pemuda pada bulan Juni 1950 dibentuk wadah pelayanan kaum muda yakni : NHKBP (Naposo Bulung HKBP) dan menjadi permulaan kebangkitan Pemuda
1928 Rumah Sakit HKBP berdiri di Balige
1930 1 Mei Aturan TAHUN 1930 resmi diberlakukan
1931 11 Juni HKBP menjadi satu Badan Hukum (rechtperson) yang distujui Pemerintah Hindia Belanda
1932 Pdt P Landgrebe menjadi Ephorus
1934 Sekolah Tinggi Theologia (HTS) berdiri di Jakarta. Mahasiswa dari HKBP yang pertama adalah TS Shimbing, K. Sitompul, O Sihotang dan PT Sarumpaet
Pendeta HKBP mulai melayani di Kutacane (Aceh Tenggara)
Sekolah Bibelvrouw berdiri di Narumonda yang dipimpin oleh Elfrieda Harder
1935 15 Agt Penahbisan Bibelvrouw yang pertama
1936 Sekolah Bibelvrouw dipindahkan dari Narumonda ke Laguboti
Perayaan Jubileum 75 tahun HKBP dipusatkan di Sipirok
Pdt DR. E Verwiebe menjadi Ephorus
1940 10 Mei
Mei - Juli
10 - 11 Juli
Semua orang Jerman yang melayani di HKBP ditangkap Pemerintah Hindia Belanda
Pdt HF de Kliene menjadi Pejabat Ephorus
Sinode Godang - Pdt K. Sirait terpilih menjadi Voorzitter (Ephorus) yang pertama dari orang Batak. Hari tsb menjadi hari kemandirian HKBP
Distrik Jawa Kalimantan berdiri
1942

25 Nopember Sinode Godang - Pdt Justin Sihombing terpilih menjadi Ephorus.
Distrik Samosir berdiri
1945 17 Agt Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1946
Agustus Distrik Dairi berdiri
Sekolah Guru Huria dibuka kembali di Seminarium Sipoholon
1947 Sekolah Pendeta dibuka kembali di Seminarium Sipoholon
1950
4 Nopember

Sekolah Theologia Menengah (SThM) berdiri di Seminarium Sipoholon
Pdt Justin Sihombing terpilih kembali menjadi Ephorus dan Pdt Karimuda Sitompul menjadi Sekretaris Jenderal yang pertama.
1951
29 Oktober Penganugerahan gelar Doctor Hnoris Causa (Dr.Hc) kepada Ephorus Pdt Justin Sihombing oleh Universitas Bonn
Konfesi HKBP disahkan Sinode Godang
Distrik Sibolga dan Medan Aceh berdiri
1952
SMA dan SGA HKBP berdiri di Tarutung
HKBP menjadi anggota LWF
1954 7 Okt


15 Desember Pdt B Marpaung resmi melayani di Mentawai
Peresmian Universitas HKBP Nommensen di Pematangsianta. Sekolah Theologia Menengah dipindahkan ke Pematangsiantar
Distrik Toba Hasundutan berdiri
1955 13 Peb
25 Agustus Panti Asuhan Elim berdiri di Pematangsiantar
Sekolah Guru Puteri berdiri di Seminarium Sipoholon
1957 17 Mar
Kebaktian Raya (Kirchentag) di Pematangsiantar
Sidang Raya Dewan Gereja Asia (CCA) di Parapat
1959 Pdt Justin Sihombing terpilih kembali menjadi Ephorus dan Pdt TS Sihombing menjadi Sekretaris Jenderal
1961 7 Okt Berdiri Perguruan Tekhnik di Pematangsiantar
Perayaan Jubileum 100 HKBP dipusatkan di Tarutung
1962

3-7 Oktober
Sinode Godang mengesahkan Aturan HKBP 1962-1972

Sinode Godang Istimewa di Seminarium Sipoholon, Pdt TS Sihombing terpilih menjadi Ephorus dan Pdt GHM Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal
1963

1 September



Konfrensi Kerja HKBP yang pertama di Parapat
HKBP Simalungun dimandirikan (kemudian hari menjadi GKPS)
Kursus Perempuan yang pertama di Seminarium Sipoholon
Permulaan Pekabaran Injil kepada Orang Sakai di Kandis Riau
1965 7 Peb
9 April Peresmian Asrama Diakones Kapernaum di Rumah Sakit HKBP Balige
Asrama Bibelvrouw di Sinaksak Pematangsiantar diresmikan
1966
6 Pebruari Peresmian Perkampungan Pemuda (Youth Centre) di Jetun Silangit
1967 2 April Peresmian Asrama Pniel di Rumah Sakit HKBP Balige
1968
19 Pebruari Peresmian Gedung-gedung FKIP Universitas HKBP Nommensen
1971 17 Mei
11 Desember

Pendidikan Diakones HKBP dibuka
Peresmian Asrama Bethel dan Betania di Rumah Sakit HKBP Balige
Pembaptisan pertama kepada orang Rupat yang dilayani oleh Pdt AB Siahaan, sebanyak 136 orang
1972
28 Mei

30 Oktober Peresmian Perkampungan Pendeta Pensiun Patmos dan Kantor Departemen Diakoni Sosial di Pematangsiantar
Sinode Godang mensahkan Aturan 1972 - 1982
Distrik Tanah Alas diresmikan
1973
22 Maret Penyerahan Rumah Sakit Nainggolan dari Pemerintah kepada HKBP dan menjadi Public Health Centre
1974


Juli

2-3 Nopember Universitas Wittenberg menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Ephorus Pdt TS Sihombing
Sinode Godang - Pdt GHM Siahaan terpilih menjadi Ephorus dan Pdt Prof DR FH Sianipar menjadi Sekretaris Jenderal
Jubileum 75 tahun Pekabaran Injil HKBP
1976 27 Jan
2 Agustus
1-5 Desember Peresmian Kompleks Pendidikan Diakones
HKPA dimandirikan HKBP (kemudian menjadi GKPA)
Perayaan Jubileum 75 tahun Seminari Sipoholon
1977
1-2 Oktober
Perayaan Jubileum 50 tahun NHKBP
1978
23-27 Januari



Sinode Godang Istimewa HKBP di Seminarium Sipoholon
Fakultas Theologia Universitas HKBP diputuskan menjadi Sekolah Tinggi Theologia HKBP
Pdt P.M. Sihombing, MTh terpilih menjadi Sekretaris Jenderal
1979 24 Jun
7 Oktober Peresmian Distrik Simarkata Pakpak
Jubileum 25 tahun Universitas HKBP Nommensen
1980 11 Jun
6 Juli
11 Agustus Pusat Latihan Ketrampilan Pria berdiri di Parparean Porsea
Perayaan Syukur 40 tahun HKBP mandiri
Pusat Latihan Ketrampilan Wanita berdiri di Doloksanggul
1981 6 Agt HKBP Simarkata Pakpak Otonom berdiri
1983 24 Peb
28 Agustus Peresmian Distrik Tebing Tinggi Deli
Penahbisan Diakones yang pertama di HKBP
1984
1 Agustus

30 September
Perayaan Jubileum 50 tahun Sekolah Bibelvrouw

30 tahun Departemen Wanita (dirayakan tanggal 11 Nopember)
1985
Pebruari

25 Agustus
Persemian Distrik Sumatera Bagian Selatan

Perayaan Jubileum 100 tahun Pendidikan Theologia dan Kependetaan
1986
27 Juli
14 Agustus
Oktober Pentahbisan Pendeta Perempuan Pertama di HKBP, yakni Pdt Norce Lumbantoruan, STh
Peresmian Kantor Induk HKBP di Peraja Tarutung
Perayaan Jubileum 125 tahun HKBP di Tarutung, Pematangsiantar dan Jakarta
1987
27 Januari
27-31 Januari Peresmian Auditorum HKBP di Seminarium Sipoholon

Sinode Godang - Pdt DR S.A.E Nababan, LLD terpilih menjadi Ephorus dan Pdt O.P.T Simorangkir menjadi Sekretaris Jenderal
1988 23 Mei
10-15 Distrik Humbang Habisaran berdiri
Sinode Godang menetapkan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) HKBP
1990
20 Juni-9 Juli,
10-15 Juli
18-21 Juni Perkemahan Pemuda di Sipirok
Konfrensi Pemuda HKBP
Konsultasi Theologia di Parapat
1992
23-28 Nopember Sinode Godang di Seminarium Sipoholon, terjadi krisis. Mulai dari Sinode ini terjadi Krisis HKBP hingga tahun 1998
1993
11-13
Sinode Godang Istimewa - Pdt DR PWT Simanjuntak terpilih menjadi Ephorus, dan Pdt SM Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal
1994
29 Sep - 1 Okt
23 Okt Sinode Godang 52 - menetapkan Aturan dan Peraturan 1994-2004
Peresmian Distrik Indonesia Bagian Timur (IBT)
1995 16-17 Jun
6 Agustus
24 September
Sinode Penyatuan HKBP SPO dan GKPPD
GKPPD dimandirikan
Peresmian HKBP Distrik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta
199617-22 Nov Sinode Godang 53 menetapkan Konfesi HKBP 1996
1998
26 Okt - 1 Nop
17 Nopember


18-20 Desember
Sinode Godang 53, Pdt DR JR Hutauruk terpilih menjadi Pj Ephorus
Penandatangan pernyataan bersama antara Ephorus Pdt DR SAE Nababan dan Pj Ephorus Pdt DR JR Hutauruk untuk menyelenggarakan Sinode Rekonsiliasi]
Sinode Godang Rekonsilaiasi di Kompleks FKIP Univ Nommensen. Pdt DR JR Hutauruk terpilih menjadi Ephorus dan Pdt WTP Simarmata, MA menjadi Sekretaris Jenderal
1999 28 Nov Jubileum 100 tahun Sending HKBP
2000
26 Juli
5 Nopember
21-24 Nop
Konferensi Nasional HKBP di Senayan Convention Centre Jakarta
Perayaan Tahun Pendidikan HKBP ke 50 di Seminarium Sipoholon
Sinode Godang menetapkan Kebijaksanaan Dasar Pendidikan HKBP
2001
8 Mei

Desember Penandatanganan Convention of Interchange antara Evangelical Lutheran Church in America (ELCA) dan HKBP
Jubileum 100 tahun Seminarium Sipoholon
2002
30 September
30 Sep-4 Okt


Penandatanganan kerjasama Yasuma dan HKBP
Sinode Godang - menetapkan Aturan dan Peraturan HKBP 2002 dan 4 Distrik baru - Distrik Jakarta 2, Distrik Kepulauan Riau, Distrik Jakarta 3 dan Distrik Jambi
Peresmian Website HKBP - www.hkbp.or.id

2003
16 Juli

Kunjungan resmi Presiden RI Megawati Sukarno Putri ke HKBP di Seminarium Sipoholon, dan peletakan Batu Pertama Sipoholon Nommensen Christian Centre
2004
Januari
20 Juli

25 Juli

29 Juli
6-12 September




7 Oktober
Aturan dan Peraturan 2002 diberlakukan
Penandatanganan kemitraan antara Pusat Perkampungan Bibelvrouw dan Jemaat Niederkassel
Penandatangan kesepakatan kemitraan antara ELCA dan HKBP - Kentucky Sinode dan Distrik V Sumatera Timur
Penantanganan "Peraja Tarutung Agreement" antara HKBP dan EKiR
Sinode Godang 58 di Seminarium Sipoholon :
- Peluncuran Bibel terbitan HKBP dan Yasuma
- Penetapan Distrik Labuhan Batu
-Pdt Dr Bonar Napitupul terpilih menjadi Ephorus
-Pdt WTP Simarmata, MA menjadi Sekretaris Jenderal
-Pdt BM Siagian, STh menjadi Kepala Departemen Koinonia
-Pdt MH Sihite, STh menjadi Kepala Departemen Marturia
-Pdt Nelson Siregar, STh menjdi Kepala Departemen Diakonia
Jubelium 50 tahun Universitas HKBP Nommensen
Organisasi HKBP
HKBP ditata mengikuti sistem keuskupan, mirip dengan Gereja-gereja yang menganut sistem episkopal seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Anglikan, Gereja Methodis, dll. Pimpinan tertingginya disebut Ephorus. Ephorus HKBP yang pertama adalah Dr. I.L. Nommensen. Ephorus dibantu oleh seorang Sekretaris Jenderal dan
sejumlah Kepala Departemen. Di bawahnya adalah praeses yang memimpin distrik-distrik gereja, sementara di bawah distrik terdapat resort yang dipimpin oleh pendeta resort, dan di tingkat yang paling bawah adalah jemaat individual yang dipimpin oleh pendeta. Saat ini HKPB memunyai 26 praeses di seluruh Indonesia. Dalam pelayanannya, seorang pendeta HKBP biasanya dibantu oleh Guru Huria, sementara ada pula jabatan lain yaitu Bibelvrouw dan diakones. Pada tahun 1986, untuk pertama kalinya HKBP menahbiskan seorang pendeta perempuan yaitu Pdt. Norce P. Lumbantoruan, S.Th.
Sampai April 2003, HKBP memunyai 1.115 Pendeta, 250 Calon Pendeta, 550 Guru Jemaat, 28 Calon Guru Jemaat, 309 Bibelvrouw, 49 Calon Bibelvrouw, 193 Diakones, 38 Calon Diakones, dan 5 Evangelis. Keseluruhan pelayan dan calon pelayan berjumlah 2.537 orang.
Saat ini jabatan Ephorus HKBP dipegang oleh Pdt. Dr. B. Napitupulu yang melayani mulai tahun 2004.
Daftar Ephorus HKBP
• Pdt. Dr. I.L. Nommensen - Ephorus pertama (1881-1918)
• Pdt. Valentin Kessel - Pjs. Ephorus (1918-1920)
• Pdt. Dr. Johannes Warneck (1920-1932)
• Pdt. P. Landgrebe (1932-1936)
• Pdt. Dr. E. Verwiebe (1936-1940)
• Pdt. H.F. de Kleine - Penjabat Ephorus (1940)
• Pdt. K. Sirait - Ephorus Batak pertama (1940-1942)
• Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing (1942-1950)
• Pdt. Justin Sihombing (1950-1960)
• Pdt. Justin Sihombing (1960-1962)
• Pdt. Dr. (H.C.) T.S. Sihombing (1962-1974) terpilih dalam Sinode Godang Istimewa
• Pdt. G.H.M. Siahaan (1974-1981)
• Pdt. G.H.M. Siahaan (1981-1986)
• Pdt. Dr Dr. Hc. S.A.E Nababan, LLD (1986-1998)
• Pada masa kepemimpinan Pdt. Nababan, terjadi Krisis HKBP (1992-1998) yang menghasilkan dualisme kepemimpinan hingga 1998
• Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak (1993-1998) – terpilih dalam Sinode Godang Istimewa
• Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (1998) – terpilih sebagai Pjs. Ephorus dalam Sinode Godang ke-53
• Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (1998-2004) – terpilih dalam Sinode Godang Rekonsiliasi
• Pdt. Dr. Bonar Napitupulu (2004-sekarang)
Universitas HKBP Nommensen
KANTOR PUSAT HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP):
Pearaja Tarutung 22413, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia
Telp. 0633-21707, Fax. 0633-21596,
email: kantorpusat@hkbp.or.id
Menurut Ephorus HKBP, Bonar Napitupulu, jumlah jemaat HKBP di seluruh dunia saat ini mencapai 4 juta jiwa. Jemaat HKBP tersebut tersebar di 3.657 jemaat lokal (Sumatera Utara dan seluruh Indonesia) dan 8 jemaat Internasional. Jemaat dan gereja HKBP di luar negeri terdapat di Kuala Lumpur, Malaysia, 2 gereja, di Singapura 2 jemaat. Kemudian di USA 5 HKBP (New York, California, Denver Kolorado, Philadelphia).
Tahun 2007 menjadi Tahun Koinonia (Persekutuan) HKBP. Melalui tahun Koinonia ini, segenap jemaat HKBP di seluruh Tanah Air dan dunia semakin meningkatkan persekutuan, persatuan dan kebersamaan. HKBP akan terus menggugah kesadaran masyarakat untuk saling mengasihi, saling peduli dan saling membantu. HKBP memiliki potensi besar memasyarakatkan kasih, rasa peduli sosial, persatuan bangsa dan peningkatan solidaritas manusia karena Gereja HKBP semakin mendunia. Diharapkan HKBP dapat memberikan kontribusi untuk merajut kembali rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang semakin memudar di era reformasi dan Otonomi Daerah ini. Peningkatan rasa kebangsaan (national building) sangat penting agar roh pengelompokan etnis dan agama yang mulai merajalela di tengah iklim reformasi dan OTDA ini bisa dihalau. ”Bangsa Indonesia hanya bisa dibangun menjadi bangsa yang makmur sesuai cita-cita perjuangan bangsa oleh Putra-putri Bangsa Indonesia. Bangsa kita tidak bisa dibangun oleh orang-orang yang hanya mengandalkan fanatisme kedaerahan. Karena itu seluruh elemen bangsa termasuk HKBP harus mampu membangun rasa kebangsaan dan kepedulian sosial secara bersama-sama,” papar Ephorus.

Dikutip dari berbagai sumber


Senin, 24 Mei 2010

Gomar Gultom, Memperjuangkan Pluralisme Tanpa Gus Dur

Gereja adalah ekklesia di mana umat yang dipanggil keluar dan masuk ke dalam terangnya yang ajaib. Itu artinya Gereja harus menjadi terang bagi kehidupan banyak orang. Namun, kerapkali Gereja tidak memberikan apa-apa bagi kehidupan banyak orang, padahal “Tuhan itu baik untuk semua orang.” Kita harus mampu mengimplementasikan bahwa Tuhan baik kepada semua orang, tidak hanya kepada PGI saja. Apakah dia Pentakosta atau Saksi Jehowa atau pun umat lain. Karena Tuhan juga baik terhadap mereka.
Demikian kata Sekretaris Jenderal Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia, Gomar Gultom, saat menerima TAPIAN di ruang kerjanya di Gedung PGI di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Dia baru saja terpilih menjadi sekretaris jenderal perhimpunan gereja-gereja di seluruh Indonesia. Huria Kristen Batak Protestan yang mencalonkannya.
Gomar adalah anak dari Teodosus Gultom, seorang pegawai di Departemen Agama, sementara ibunya adalah Ramean Siregar, seorang parrengge-rengge atau pedagang kata orang kebanyakan. Dia lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, pusat HKBP, yang merupakan sinode gereja terbesar di Asia Tenggara, pada tanggal 8 Januari 1959. Masa kecilnya, dilewatkan di kota tersebut hingga umur enam tahun. Baru kemudian pindah ke Medan mengikuti kepindahan ayahnya sebagai pegawai Departemen Agama. Sekolah dasarnya dia tamatkan di SD GKPI Air Bersih, Medan. Sedangkan sekolah menengah pertama lulus dari SMP Kristen III, Salatiga. Dia menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Kristen I PSKD, Jakarta. Lalu dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta. Saat ini, di kampus yang sama, dia sedang menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral di jurusan devinity atau pelayanan.



Perawakan kecil dengan visinya yang besar untuk kemajemukan bangsa. Gomar bergerak lincah melakukan tugas yang disebutnya sebagai ”pengabdian bagi Tuhan dan Negara.” Di Jakarta, sebagai anak dari vorhanger atau penatua di HKBP Pulo Asem, Gomar tentu aktif di gereja. Namun, menurutnya, ilham yang membuat dia tertarik menjadi pendeta adalah Alfred Simajuntak, pencipta lagu Bangun Pemuda-Pemuda, ketika sang komponis menjadi pengajar untuk para guru Sekolah Minggu di mana Gomar juga menjadi salah seorang tenaga pengajar. Alfred tidak saja menggugah batin, tetapi juga memberi semangat dan kemampuan bagi Gomar yang telah memutuskan untuk menjadi seorang Hamba Tuhan.

Gomar takkan lupa pada orang-orang yang telah turut mengantarnya sampai di puncak kariernya sekarang ini sebagai pengelola dari sekian banyak gereja dengan sekian banyak kecenderungan di seluruh negeri ini. “Melalui pengajaran, Simanjuntak mendorong saya untuk masuk sekolah teologia. Saya juga banyak dipengaruhi oleh pendeta Sahat Rajagukguk, seorang pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang adalah juga salah seorang pengurus PGI. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terjun dalam gerakan okumene. Selain itu, S.A.E. Nababan turut juga memberikan pengaruh pada saya. Dan, yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah ayah saya. Ayah saya dulu bekerja di Departemen Agama, dan duduk sebagai vorhanger di HKBP Pulo Asem.” Begitu dia melihat ke belakang, mengenang, menghitung orang-orang yang telah berjasa membawanya ke puncak yang menjadi dambaan semua orang yang telah berserah diri menjadi hamba Allah.

Cinta pertama
Lulus dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Desember 1983, dia lalu menjalani masa vikariat atau penggemblengan sebelum menjadi pendeta di Tongging, Tanah Karo, persis di bibir Danau Toba. Gomar tidak mau duduk di menara gading Gereja sebagai “amang pendeta” yang sabam hari mempersiapkan khotbah di mimbar. Buat di khotbah bukanlah rangkaian kata-kata yang dibiarkan kosong. Khotbahnya adalah tindakan langsung, dengan terjun mengurusi masalah-masalah sosial dan melakukan penyadaran hukum melalui Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM). Gomar mencoba melalui LSM tersebut menjalankan panggilan gereja untuk hadir bersama masyarakat miskin, lemah dan menderita. Gomar tidak pernah mematok gelanggang pelayanan hanya di gereja. Dia juga menjadi dosen bagi para calon pendeta di STT Nomensen, Pematang Siantar. Dia sempat juga memberikan pelayanan khusus untuk pemuda di HKBP Resor Petojo, Jakarta. Gomar juga yang menggagas penyelenggaraan Perkemahan Kerja Pemuda Gereja.

Sebagai pendeta dan juga aktivis dia bersentuhan dengan Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara, di Jakarta. Selain ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dia juga aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 1991, dia dipercaya menjadi Kepala Biro Pembinaan HKBP.
Masa mudanya dia lalui seperti air yang mengalir. Sebagaimana seorang pemuda dia juga mengalami cinta pertama dan sekaligus menjadi cinta terakhir bersama Loli Jendrianita Simanjuntak, seorang dokter spesialis ilmu penyakit dalam di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Kedua sejoli ini dipertemukan oleh pandangan pertama. Mereka berkenalan pada waktu Gomar duduk di bangku SMA, sedangkan Loli masih SMP ketika itu.

“Saya kenal dia waktu itu saat masih SMP. Saat itu, kita berkemah di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Pulang dari sana kita mampir di Cianjur, rumah sepupu dari salah satu teman. Di sinilah pandangan pertama itu menemukan mimpinya. Di situlah kami kenalan, dikenalkan saudara sepupu teman saya itu. Sejak itu, kita surat-menyurat. Lancar terus-menerus. Kita pacaran semenjak SMA hingga perguruan tinggi,” ujar Gomar mengenang masa-masa romantisnya sebelum membangun biduk rumahtangga. Tuhan mengaruniai pernikahannya seorang puteri, Agustina Marisi Nauli, yang saat ini menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

Sebelumnya, Gomar tidak pernah dijagokan untuk menempati posisi Seketaris Jenderal di PGI. Lima tahun lalu, Gomar dipercayakan sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, yang memberikan ruang lebar kepadanya untuk bisa melayani umat. Sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, dia amat aktif dan mendorong penegakan hukum dan hak-hak asasi manusia. Pada Sidang Raya di Mamasa, Sulawesi Tenggara, Gomar terpilih menjadi Sekretaris Jenderal mengantikan Richard Daulay dari Gereja Metodist Indonesia. Sedangkan ketua umum tetap berada dipundak A. A. Yewangoe.

PGI adalah organisasi gereja Protestan yang menaungi sekiatar 80-an Sinodal, dan itulah yang membuka wacana baru yang lebih luas bagi cakrawala pikiran Gomar tentang perlunya semangat pluralisme. Di PGI, Gomar merasakan sekali suasana yang saling menghargai yang menjadi esensi konstitusi tentang kebebasan beragama. Implemetansinya adalah menghargai orang yang berbeda agama. Yang harus dilakukan para pemimpin umat adalah membina umatnya sendiri supaya tidak tergoda dengan ajaran yang berbeda, demikian kata Gomar.

Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah-masalah konstitusi, gereja harus terus aktif berjuang agar penyelesaian masalah tidak dibelokkan oleh semangat sektarianisme. “Hukum adalah produk politik dan merupakan cerminan kemenangan dari kekuatan politik yang nyata. Di dalamnya termasuk penguasaan taktis legislasi, bukan hanya soal kekuatan jumlah. Oleh karena itu, gereja harus melibatkan diri di sini, walau berada dalam jumlah yang kecil, agar produk hukum tidak bias untuk kepentingan agama tertentu.”

Membela Ahmadiyah
Mengapa tertarik pada gerakan okumenis? “Gereja itukan ekumenis, artinya satu kesatuan. Gereja yang mula-mula sampai gereja yang sekarang harus okumenis. Di PGI gerakan itulah yang kita bangun. Saya ditugaskan HKBP untuk duduk di PGI. Tetapi jauh sebelum menjadi pendeta, semasih di STT Jakarta, saya sudah bergelut dalam gerakan ini. Pertama, di komisi pemuda ekomenis,” katanya. Dia pernah duduk sebagai Wakil Ketua Kelompok 17 yang menggagas pembinaan pelayanan pemuda di Biro Pemuda PGI.
“Banyak orang yang tidak tahu banyak apa yang dilakukan PGI. Banyak yang telah dilakukan, tentang legislasi nasional, tentang penegakan HAM, penegakan hukum di Indonesia. Misalnya membela Ahmadiyah. Nggak ada lembaga-lembaga gereja selain PGI yang berani membela Ahmadiyah, dalam rangka kebebasan beragama. Hanya saja media tidak pernah memberitakannya, mungkin karena PGI tidak seksi untuk diberitakan,” ujarnya terbahak-bahak.

Hubungan dengan agama lain? “PGI menjalin hubungan dengan agama-agama lain, dengan semua elemen bangsa, dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dengan Hindu, Budha, bahkan dengan Parmalim sekalipun. PGI konsisten dalam mengawal konsitusi kita. Belakangan ini konstitusi kita tergerus oleh semangat sekretarianisme, fundamentaslisme, yang ingin menggantikan konstitusi dengan syariah agama,” katanya menunjukkan.

Selain aktif di gereja, Gomar juga giat di dalam masyarakat, sebagai aktivis dalam pelayanan buruh melalui PMK HKBP, bersama Luhut Pangaribuan, Ade Rostina Sitompul, Asmara Nababan, Yoppie Lasut dan beberapa pengacara lainya dari Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara (LPHWN) di mana Gormar juga dipercaya sebagai sekretarisnya. Lewat lembaga ini pula, bersama teman-temannya, Gomar memberikan penyadaran hukum kepada para tahanan politik, terutama tahanan politik eks-PKI yang sangat rentan posisinya dan hampir terabaikan dalam aspek kehidupan selama rezim Orde Baru.
Tahun 1999-2004, Gomar juga aktif dalam pelayanan masyarakat Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK), dan jabatan terakhirnya adalah Direktur Program. JKLPK sendiri sangat aktif mengadvokasi pembentukan Kabupaten Mentawai. Juga mencarikan jalan damai bagi konflik di Papua dan Maluku.

Sedari dulu Gomar juga aktif membangun semangat kemajemukan. Pada aras gereja dia aktif dalam gerkanan oukumenis dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika bersama-sama dengan agama lain. Dia ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dan aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tungga Ika. Kedua lembaga ini, dengan semangat yang sama, bergerak melawan semangat sektarianisme, fundamentalisme, yang coba menggerus semangat keberagaman.
“Selama ini kita terkooptasi, terkotak-kotak. Pelarangan terhadap Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Medan, oleh jemaat HKBP ditentang oleh PGI. Saya sebagai sekretaris esekutif bidang Diakonia PGI ketika itu melakukan pertemuan dengan jemaat HKBP yang menentang berdirinya Ruma Parsaktian itu. PGI mendukung berdirinya Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih. Orang berhak mendirikan rumah ibadahnya. Yang kami perjuangkan adalah kebebasan beragama, bukan memperdebatkan masalah doktrin,” katanya menjelaskan.

Dia pendeta tulen sekaligus aktivis murni. Itu bisa terbaca beberapa waktu lalu, saat Gomar mengikuti pertemuaan lintas agama yang juga dihadiri Pangeran Charles dari Inggris. Gomar mengenakan baju tohonan, baju pendeta mirip baju koko, berwarna hitam. Sebagai aktivis, keberanian Gomar terlihat saat mimimpin demonstrasi anti-globalisasi di dekat Istana Malacanang, Manila, tahun 2003 lalu. Demikian pula, pada bulan Maret 2009 lalu, saat pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB) dan gedung Serbaguna HKBP di Jalan Pesanggarahan, Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok oleh Walikota Depok Nurmahmudi Ismail. Lewat keputusan Walikota Depok tersebut menyebabkan ditutupnya Gereja HKBP itu. Gomar melawan budaya otoriter tersebut. Dia memimpin doa keperihatinan.

Pembakaran rumah ibadah
Semangat perlawanan tersebut terinspirasi oleh keberanian Gus Dur yang mau berjuang untuk tegaknya kebebasan beragama. “Gus Dur telah memberikan pelajaran bagi kita. Dia selalu memasang badan untuk orang-orang yang berupaya memberangus kemajemukan, yang mencoba merongrong semangat kemajemukan tersebut. Kita tidak menafikan adanya gesekan selama ini. Tetapi, buah hidup yang diperjuangkan oleh Gus Dur selama ini sudah mulai bersemi. Kami sebenarnya mau pergi ke kuburan Gus Dur, tetapi oleh Gus Solah (Solahuddin, adik Gus Dur) meminta jangan dulu datang ke sana, sebab sampai hari ini masih berduyun-duyun orang datang ke kuburuannya.”

Menurut Gomar, dia beberapa kali bertemu dengan Gus Dur, di PGI, di Cigajur, rumah Gus Dur sendiri, bahkan tatkala sama-sama menjadi narasumber pada seminar atau diskusi tentang kebebasan beragama. “Kita kehilangan Gus Dur. Tetapi, melihat respon masyarakat terhadap kematian beliau, itu artinya bahwa ke depan kita tidak perlu takut terhadap benih pluralism yang mulai bersemi. Selama masyarakat memperjuangkan kemajemukan yang telah ditancapkan Gus Dur, asal selalu kita sokong, niscaya kebebasan beragama akan bersemi. Kita harus mandiri. Tanpa Gus Dur kita harus terus memperjuangkan pluralisme tersebut. Kita harus menjadi dewasa, dan terus merawat pluralime itu. Dengan PGI sendiri, Gus Dur sangat akrab. Bermula dari Sidang Raya PGI di Surabaya, ketika Gus Dur mengajak perserta sidang mengunjungi pesantren. Kita melihat figure Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang terus memperjuangkan kebebasan beragama,” ujar Gomar. Ini juga yang disampikan oleh Gomar pada saat pelucuran buku Sejuta Hati Untuk Gus Dur di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, awal Januari lalu.

Sekarang, kebebasan beragama memang masih jauh dari harapan, masih ada riak-riak yang selalu membuat gesekan, misalnya penutupan bahkan pembakaran rumah ibadah. Tetapi, jika banyak sosok yang berjuang seperti Gomar Gultom, maka kebebasan beragama bukanlah cita-cita yang kosong. Kelak Indonesia tidak dinilai sebagai negara demokrasi yang abu-abu, tetapi negara demokrasi dengan jumlah penduduk yang besar yang menghargai kebebasan beragama bagi semua penganutnya.***Hotman J. Lumban Gaol


ARTIKEL: HKBP SEBAGAI KOMUNITAS TERTUA DI TANAH BATAK YANG TETAP SETIA MELAYANI TUHAN

I. Apakah Yang Memotivasi Masyarakat Batak Percaya Kepada Yesus ?


Belajar dari kegiatan misionaris yang pertama yaitu : “Pdt. Samuel Munson dan Henry Lyman” (yang diutus badan Zending Boston Amerika) yang mati terbunuh di Lobu Pining Tapanuli Utara, nyata bagi kita bahwa penginjilan di Tanah Batak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Untuk memperjuangkan pekabaran Injil harus ada pengorbanan. (Dalam Bhs Batak Toba : mudar ni na mate martir do boni ni Huria), sebab: pada hari kematian Munson dan Lyman, ketika itulah lahir Pdt. DR. I. L. Nomensen, yang menjadi Ephorus pertama di HKBP. Kalu kita pelajari mulai dari masuknya Pdt. Burton dan Ward ke-tanah Batak Th. 1824, s/d 31 Maret 1861, barulah ada 2 (dua) orang Batak yang dibabtis oleh Pdt. Van Asselt di Sipirok, yaitu: Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon. 4 (empat) tahun kemudian, tepatnya: 27 Agustus 1865; untuk pertama kali dibaptis di Silindung, tiga belas (13) orang . (Kemungkinan untuk jubileum satu setengah abad 2011, yang diperkirakan sudah dari 6 juta jiwa yang dibabtis kedalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yang dilayani 1.500 pendeta HKBP; -Suara HKBP edisi 50, hal 39 oleh Pdt. Drs. S. Tungkir). Nah inilah perkembangan yang bisa kita lihat sampai sekarang. Untuk semua itu, sekecil apapun dampak keKristenan yang bisa kita rasakan dengan kehadiran Injil di tanah Batak, patut kita syukuri. Pada masa itu, perjuangan pembawa Injil tidak tanggung-tanggung. Mereka harus menerjemahkannya terlebih dahulu Alkitab kedalam bahasa Batak, dengan percetakan apa adanya. Belum ada foto copy. Apa yang kita dengar itulah yang harus diingat. Mis: nasehat Pdt. Petrus Nasution : “Haposi hau Tuhan Jesus, Tuhan Jesus do hangoluan” (bd Kis. Rasul 16:31) “Percayalah kepada Allah maka kamu dan seisi rumahmu akan selama). Sekarang kita mempunyai kesempatan yang sangat luas, dan sudah dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk mendapatkan banyak pengetahuan tentang Firman Allah, adakah semangat untuk melayani Tuhan, lebih giat dari dalam kita sekarang ini disbanding dengan orang para pendahulu kita ?






II. 1. Berawal Dari Kerja Keras



Semangat melayani yang tidak dikenal yang tidak kenal dan pantang menyerah dari para misionaris asal Jerman secara khusus, patut diacungi jempol. Mereka harus menerjemahkan isi Alkitab kedalam bahasa Daerah (Batak), melatih orang Batak membaca dan menulis, belajar menaikan lagu pujian dan cara hidup sehat. Pdt. Dr. IL Nomensen, menyelesaikan terjemahan Perjanjian. Baru kedalam bahasa Batak dengan memakai tulisan Batak dan Latin. Th. 1878, berbahasa Batak Angkola th. 1879, oleh Pdt. A. Schreiber, selanjutnya pendirian gereja, altar dan pengadaan fasilitas sebab orang Batak belum mengenal kursi dan lemari. Semua acara termasuk acara adat duduk dengan menggelar tikar (amak tiar). Kalau kita perhatikan bentuk podium (mimbar) tempat pengkotbah menyampaikan Firman Allah, itu didominasi dua (2) bentuk, yaitu: merpati dan piala, demikian juga pengaturan penempatan menghargai ibadahnya (persekutuan dengan Allah). Sekalipun kita lihat sangat lambat dari segi semakin dicintai dan semakin di mengerti. Dengan demikian kerinduan untuk beribadah setiap minggunya tetap berkesinambungan. Untuk melanjutkan pelayanan dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya dibutuhkan tenaga pengajar yang berasal dari daerah tersebut. Kita tahu perkampungan orang Batak dipagari dengan bambu. Mereka punya motto: sinuan bulu sibaen nalas, sinuan tutur sibaen na horas!. Dalam hal ini tidak sembarang orang bebas masuk-keluar kampung, bisa bahaya. Harus tahu adat, marga dan partuturan (hubungan marganya dengan warga kampung yang dikunjunginya). Selain itu sebahagian perkampungan (306 huta), th 1878 di Silindung jatuh ke-tangan Gubernur Belanda. Sudah pasti keluar-masuknya orang asing sangat dibatasi. pada hal tuntutan penambahan tenaga pemberita Injil semakin dibutuhkan. Maka pada th. 1883, dibuka sekolah pendeta bagi orang Batak Th 1889, dibuka juga kesempatan bagi kaum Ibu, anak gadis dan anak perempuan, dengan tenaga penajar Nn. Hester Needam (Silindung). Dibantu Nn. Tora, Nn. Nieman di Toba. Th 1894, dalam perjanjian lama disalin kedalam bahasa Batak oleh Pdt. PH. Johansen. Inilah sebagaian upaya kerja keras yang dengansabar ditekuni dan dipergumulkan oleh para pendahulu kita. Alhasil , orang Batak keluar dari kegelapan. Misionaris telah membawa terang Firman Tuhan lewat pendidikan Theologia, Ilmu Pengetahuan (termasuk keterampilan, bertukang, berkebun beternak. Para guru Zending .dilathin mengajar kelas (pendidikan umum),demikian juga di gereja Hampir semua sekolah Zending, mengajar dikelas (pendidikan Umum), demikian juga di-Gereja. Hampir semua sekolah Zendin, dilatih untuk bosa berdoa dan menyanyikan lagu pujia. Kompleks Gereja / sekolah ditanami buah-buahan, sayur-sayuran dan jenis palawija. Isteri pendeta altar dan Gr. Zending di latih memakai peralatan bidan untuk menolong persalinan. Ketika itu tali pusar anak yang baru lahir masih dipotong dengan bambu. Begitu juga dengan “roti perjamuan kudus” ada yang dibuat sendiri. Ketika itu hubungan Jerman dengan orang Batak cukup baik. Taplak meja, penutup altar dan semua yang dibutuhkan dalam peribadatan, sangat diperhatikan. Pada masa orang tua saya masih aktif sebagai “Guru Zending”, kami sekeluarga merasakan hal itu dan terlibat didalam tugas itu. Sebagai ucapan terimakasih, sesekali orang tua kami mengirimkan cabai keriting ke Jerman. Disbanding dengan yang kita dapat dari jasa para misionaris, pengorbanan kita belum ada apa-apanya. Semua itu dikerjakan sebagai panggilan dari tugas pelayanan untuk menjadikan semua bangsa di dunia menjadi murid Tuhan. Bagi kita yang sudah menikmati kemajuan didunia modern versi panggilan untuk melayani, tentunya sudah mengalami perobahan tetapi, pengting bagi kita mengenal sejarahnya supaya kita belajar menghargai apa yang diwariskan kepada kita, supaya tetap bersemangat dalam pelayanan.


2. Belajar Menghormati Mereka Yang Bekerja Keras, Dan Memimpin Kamu Dalam Tuhan Dan Menegor Kamu (1 Tes 5:12)


Ketika masih melayani di Sipoholon, pernah terjadi gempa berkekuatan 6,7 skala richter. Banyak bangunan yang rusak porak-poranda. Penduduk dari perkampungan dan yang ada di perbukitan keluar ke jalan raya berjalan kaki menuju (kearah) Balige. Ada seorang nenek tua, dipapah cucunya, remaja puteri berusia 16 tahun. Keduanya berjalan sangat lambat. Mereka tertinggal dari rombongan karena “si nenek”, tidak kuat lagi berjalan. Cucunya sangat berang, lalu berkata : tinggal salah ompung (!), nanti kita tersesat tidaaak tahu mau kemana. Samil marah-marah karena kesal, dia pergi dan meninggalkan neneknya dijalanan. Anak gadis itu lupa kalau neneknya sudah berjuang membesarkan Orangtua-nya, dan termasuk mengasuh cucu-cucunya bahkan memerikan makan dan menceboknya ketika dia elum pandai mengurus diri sendiri. Kalau saya lihat waktu itu sikap anak itu sudah bisa disamakan dengan “kacang yang lupa kulitnya ketika hari panas. Nah persoalan “ber-HKBP, juga seperti itu, begitu. HKBP sudah dipakai Tuhan, memberikan banyak kontribusi untuk memajukan masyarakat Batak. Dari usia pelayanannya katakanlah sudah cukup tua. Tapi generasinya selalu ada yang baru “kalian-kalian lah itu”. “Anda-anda” lah gerejanya (aku gereja kamu juga). Jangan lecehkan gereja HKBP. Cintailah, rawatlah, dan majulah bergandengan tangan dengan komunitas Kristen yang lain. Kalau kita bertannya: “mampukah HKBP menjadi teladan dalam pelayanan” (?). Ooooo pasri !. contohnya, kalian!. Orang Batak bilang, “JELOK” buahnya ada diujung, jangan cari dipokoknya. Seperti itu jugalah sebuah keberhasilan, jangan lihat ketika gontok-gontokan, ketika ada persoalan atau ketika ada kesalahan. Tetapi lihatlah bagaimana Allah memimpin gerejanya, warganya dan pembangunannya. Pertumbuhan Iman dan kecintaaan oran Batak kepada Yesus Kristus itu luar biasa. Kalau masih ada Kristen Batak yang mendua hati perlu diselidiki ketulusan hatinya. Jangan salahkan HKBP. Semua gereja yang sudah diklaim menjadi milik Kristus jangan ragukan tetapi perbaikilah hatimu, cara pandangmu dan doamu. Tegorlah yang menganggap remeh perjuangan HKBP.
Sedapat-dapatnya ikutan berjuang. Pikul salib dan berikan koontribusimu yang dapat menyemangati dan memajukan pelayanan sesamu anak Tuhan dan para pelayan (parhobas) di gereja kita. Sekecil apapun itu sangat berharga di mata Tuhan.


III. Penutup


Tuaian sudah didepan mata. Upaya untuk menyampaikan pelajaran kepada orang Batak dahulu sangat susah. Anak-anak sudah dilatih kerja disawah membantu orang tua. Pokoknya bisa makan. Padahal untuk mengerti Firman Tuhan harus ada waktu belajar, bisa baca dan menulis. Para misionaris tidak mundur tetapi bersemangat terus. Mereka buat nyanyian yang dapat memberikan kesadaran, mis : marsikola au amang, dohot ho ale inang. Unang jolo suru au mangula hauma i. Ai na met-met do pe au … Inilah antara lain dari sekian banyak upaya yang sudah dimenangkan oleh para pendahulu kita. Tugas selanjutnya terserah anda mau kita bawa kemana gereja HKBP. Semuanya ada didepan mata. Perjuangan untuk “mempersekutukan orang Batak dengan Yesus Sang Juruslamat (Iman yang bertumbuh di dalam Kristus), sudah nyata lewat pendidikan Theologia dan pendirian gereja. Pendidikan yang mencerdaskan lewat pendirian Sekolah dan penyediaan tenaga pengajar dan kepedulian terhadap kesehatan, semua itu telah dibenahi. Namun demikian kita tidak bisa berhenti. Mari kita saling bergandengan tangan, berjuang terus, pantag mundur dan tetap bersemangat. Syalom Tuhan Yesus memberkati !!!!!!!!!


(Penulis adalah Pdt KE Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2009)


Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor