Rabu, 27 Agustus 2008

Sesaat setelah kami tiba di Obyek Wisata Tangkuban perahu
Aku dan Winner
Ada Martin, Fery, Ester, Maria, Aku (Mekar Sinurat), Noni, dan Paskah
kami berfose dengan latar belakang Gunung
Posted by Picasa

Selasa, 26 Agustus 2008

kepemimpinan muda

Memasuki Pemilu 2009, wacana kepemimpinan golongan muda mulai berhembus. Dikotomi generasi kepemimpinan nasional mencuat dipermukaan dan hangat didiskusikan. Publik mulai pertanyakan efektifitas kepemimpinan golongan tua di segala lini kehidupan masyarakat, bersamaan dengan proses penantian panjang kepemimpinan golongan muda dalam berkiprah.

Kepemimpinan golongan muda, ditawarkan sebagai solusi, dengan asumsi, golongan muda memiliki semangat, progresifitas, kreativitas dan idealisme yang tinggi dan masih terjaga. Wacanapun terus bergulir dan menjadi topik yang kian marak diperbincangkan akhir-akhir ini, baik dalam diskusi politik di kalangan terbatas, maupun di sejumlah media massa, yang tentu saja tak luput menuai pro dan kontra.

Namun sangat disayangkan, politikus muda masih belum solid dalam melakukan konsolidasi, sehingga belum ada yang benar-benar serius berjibaku dengan massa, melemparkan ide-ide pembaharuan, lantas membalikkan opini secara cerdas dan matang. Sampai sekarang, belum ada tokoh muda yang berani mendeklarasikan diri sebagai calon presiden.

Muncul satu kesan, bahwa sebenarnya golongan muda butuh untuk didorong dari golongan tua untuk maju ke muka pentas calon presiden. Golongan tua diminta untuk menggelar karpet merah untuk golongan muda, supaya mau masuk dan bertarung di arena kepemimpinan nasional. Maka tidaklah heran jika golongan muda mendapatkan sindiran dari golongan tua bahwa golongan muda terlalu banyak meminta.

Mengutip pendapat salah satu tokoh bahwa pemuda lebih cocok mencipta ketimbang memutuskan, Lebih cocok bertindak ketimbang menimbang, lebih cocok menggarap proyek baru ketimbang proyek mapan.Orang Tua terlalu sering menolak, terlalu lama berunding, terlalu sedikit berbuat(Francis Bacon).Sungguh baik bila terpadu keduanya, karena problema bisa terpecahkan oleh nilainya.

Sebelum kita membandingkan siapa yang sebaiknya kita jadikan sebagai sosok yang patut di jadikan pemimpin, kita harus memahami konsepsi ideal yang seharusnya di bangun seperti apa pemimpin , kriteria pa yang harus dimiiki oleh pemimpin dan sebagainya. tentunya parameter usia bukan menjadi alasan mutlak seseorang bisa menjadi pemimpin tapi harus ada parameter-parameter penting seseorang bidsa dikatakan layak untuk memimpin. apa sih kepemimpinan itu?Mungkin dalam keseharian, kita sering menjumpai istilah ini, baik dalam lingkup kerja, organisasi, atau bermasyarakat. Pemimpin dan kepemimpinan itu berbeda, yaitu antara orang yang memimpin dan gaya atau cara memimpin untuk mencapai tujuan. Lantas ada pula pertanyaan, apakah pemimpin dengan sendirinya memiliki kepemimpinan?

Lebih jelas mengenai definisi ini, saya akan mengutip pendapat pakar mengenai istilah ini.Schneider, Donaghy dan Newman memberikan penegasan sebagai berikut:

Pemimpin didefinisikan sebagai seseorang yang secara formal diberi status tertentu melalui pemilihan, pengangkatan, keturunan, revolusi atau cara-cara lain. Kepemimpinan mengacu kepada

prilaku yang ditunjukkan seseorang atau lebih individu dalam kelompok yang membantu kelompok dalam mencapai tujuannya.

Dari definisi tersebut, maka jawaban untuk pertanyaan diatas relatif. Bisa dikatakan ya, dan bisa juga tidak. Dikatakan Ya karena memang setiap pemimpin memiliki gaya dan cara yang berbeda-beda dalam memimpin. Dan dikatakan tidak apabila dalam memimpin, orang tersebut tidak berhasil membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.Kembali lagi kepada pokok pembicaraan semula. Bahwa berbicara kepemimpinan berarti kita berbicara masalah prilaku, gaya atau cara. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka ada 3 ciri pokok dari kepemimpinan,

yaitu :Persepsi sosial, Kemampuan berpikir abstrak, dan Keseimbangan emosional. Tiga hal inilah yang akan kita bahas dalam kaitannya *Antara Kepemimpinan Kaum Muda dan Tua*.

1. Persepsi Sosial adalah kecakapan dalam melihat dan memahami perasaan, sikap dan kebutuhan anggota-anggota kelompok. Hal ini mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

2. Kemampuan berpikir Abstrak, yang berarti memiliki kecerdasan yang tinggi. Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan menafsirkan, menganalisis dan bahkan insting yang kuat dalam menghadapi suatu keadaan. Disini, dalam mengambil suatu keputusan

atau kebijakan, pemimpin harus mengambil suatu resiko.

3. Keseimbangan emosional. Hal ini tentunya sangat penting ketika seorang pemimpin menghadapi masalah. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang sanggup mengendalikan emosinya, dan bukan dia yang dikendalikan oleh emosi.

Dari ciri tersebut, jika dilihat secara obyektif nampaknya Kaum tua lebih mendominasi ketiganya meskipun tidak semua. Dalam mengambil keputusan, Kaum tua lebih banyak berpikir berdasarkan pengalamannya, sehingga kemungkinan resiko kegagalan sedikit banyaknya

dapat diminimalisir. Kaum tua juga memiliki persepsi sosial dan stabilitas emosional yang cukup baik, mungkin karena faktor kedewasaan, pengalaman dan kematangan pemikiran. Biasanya dalam menilai orang lain dalam kelompoknya, ia lebih cenderung bercermin kepada dirinya

sendiri.Namun, jika kita bertolak kepada kepemimpinan Kaum Muda, ada beberapa ciri yang dapat saya kemukakan, yaitu:

1. Lebih antusias dan bersemangat

2. Cenderung lebih egois dan menang sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan stabilitas emosi.

3. Bertindak dengan orientasi pada hasil dan prestasi untuk mendapatkan pengakuan

4. Terlalu cepat dalam mengambil keputusan, atau berani Gambling

5. Bertanggung jawab

Dari ciri pokok ini, Kepemimpinan muda memang masih jauh untuk memenuhi ketiga ciri pokok yang telah saya sebutkan diatas. Namun, beberapa ciri positif yang dimiliki Kaum muda ini tidak dimiliki oleh kepemimpinan kaum tua, dimana ketika kedua golongan leadership ini dikonvergensikan, akan menciptakan kepemimpinan yang lebih Solid ketimbang kepemimpinan yang didominasi oleh kaum tua saja, seperti yang terjadi di negara kita sekarang.Jadi menurut hemat saya, sangatlah pantas apabila Kaum muda diberi kesempatan untuk mengemukakan apresiasinya dan atau memberikan gaya yang berbeda dalam memimpin.

Regenerasi kepemimpinan muda memang tidak bisa dengan paksaan, sudah bukan jamannya lagi. Semua perlu proses, dan pembuktian diri adalah menjadi kata kunci melewati proses tersebut. Karena rakyatlah yang akhirnya menentukan siapa sesungguhnya yang diperlukan dan yang pantas memimpin. Semua meski lapang dada membuat kesimpulan jauh-jauh hari, bahwa yang terpilih adalah the best choice dari rakyat, entah dia golongan tua ataupun golongan muda, kita harus legowo menerima dan mendukungnya demi kemaslahatan bangsa dan negara kedepan.

दिकुतिप दरी ब्लॉग sebelah

Selasa, 19 Agustus 2008

Puisi Untukmu

KEMBANG YANG HILANG

Siapa sangka kupu-kupu hinggap di kembang

Menghisap madu cinta dalam keanggunan

Manjakan diri dalam sentuhan melodi

Membuat jiwanya terbang melayang..

Kupu-kupu mengikat janji dengan kembang

Setia pada kuntum yang mewangi

Semerbak madu cinta kian menggelora

Lepaskan belenggu dari diri..

Untaian nada-nada cinta tlah bergema

Kupu-kupu menari seiring alunan nada cinta

Hinggap dalam kembang cintanya

Terbuai semilir angin malam yang hampa..

Tapi, siapa sangka kembang akan hilang

Jejak madu cintanya tak berbekas

Kupu-kupu terbayang melayang

Menangis dalam kesendirian..

Created by: bintang_ajaib@yahoo.co.id

PRASETYA SISWA/I ASRAMA YAYASAN SOPOSURUNG

1) Kami Siswa/I Asrama Yayasan Soposurung, Beriman Dan Bertaqwa Kepada TYME, Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, Berbahasa Satu Bahasa Indonesia.

2) Kami Siswa/I Asrama Yayasan Soposurung, Setia Kepada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Setia Kepada Pancasila Dan UUD Tahun 1945, Bersedia Mengorbankan Seluruh Jiwa Raga Demi Kepentingan Bangsa Dan Negara Indonesia.

3) Kami Siswa/I Asrama Yayasan Soposurung, Akan Belajar Sungguh-Sungguh, Tunduk Kepada Peraturan Dan Disiplin Asrama, Bertekad Menjadi Putra/I Terbaik Dan Negara Untuk Mewujudkan Kecerdasan Dan Kesejahteraan Masyarakat..

Sepucuk surat buatmu

Salam bagimu…!!!

Awalnya seh aku juga mengalami proses debat yang lama dan panjang di pikiranku untuk menyampaikan isi hati dan pikiran ini. Tapi aku gak mau kalau hal ini sendiri terlalu lama mengendap tanpa ada proses konkret dalam tindakanku untuk menanggapinya, makanya untuk kedua kalinya aku mengutarakan hal yang sama padamu. Yang kamu sendiri mempunyai reaksi kokoh terhadap jawabanmu.

Sejarah telah membuka memory masa laluku yang terlalu istimewa untuk dikenang. Semua kisah yang telah membawa aku pada kondisi yang aku sendiri susah untuk mengulangi nya.

Terhadap hal tersebut, aku melihat bahwa pada dasarnya kita memang memiliki pandangan yang sangat berbeda menyangkut perasaan hati ini. Aku sendiri merasakan bahwa ada hal istimewa di antara kita. Dan aku mempunyai alasan yang kuat terhadap pandangan ini. Namun, di sisi lain aku juga akhirnya melihat bahwa kamu telah memberi penilaian tersendiri.

Oke, aku juga bangga akan keberanianmu untuk bertindak. Kamu telah memberi respon alamiah. Namun aku juga merasakan satu hal yang ganjil terhadap alasanmu. Jika aku menghubungkan peristiwa sekitar 2 tahun yang lalu dengan jawabanmu, di situlah letak keganjilannya yang membuat aku masih bertanya besar …??? Secara persenan aku belum sepenuhnya bisa menerima jawaban yang mendukung alasanmu untuk mamberi respon seperti itu. Memang benar jika ini menyangkut masalah pribadi yang berarti kita bebas untuk berbuat apa seturut hati. Namun selaku kita 2 pribadi yang telah menjalani pengalaman hidup bersama 2 tahun di asrama, aku gak menginginkan emosi pribadi kita yang berkuasa atas tindakan kita, maksudnya mari kita biarkan hati yang memberi jawab tanpa ada intervensi dari pikiran untuk memberi warna di dalamnya.

Sebenarnya aku gak bermaksud untuk mengungkit kisah masa lalumu dengan seseorang yang telah membuat kamu kecewa. Namun dengan memberi sedikit pemandangan terhadap hal ini, aku gak yakin kalau kamu bisa melupakannya.

Ada orang bijak mengatakan bahwa hidup ini hanyalah drama, dan pribadi kita sendiri yang berperan di dalamnya. Berarti ending yang akan kita capai adalah hasil dari karya kita sendiri. Bagaimana cara mencapa ending yang menarik dan maksimal??? Jawabannya ada pada proses kehidupan yang telah kita rangkai dan kita jalani juga.

Menyangkut perihal tersebut, berarti kita sendiri telah menjalani sebagian chapter penting dalam drama ini. Saya sebut itu yang menyangkut perasaan hati atau oleh anak muda sering disebut CINTA. Saya pikir untuk menanggapi hal ini kita harus serius karena Cinta yang akan kita bina adalah salah satu pendukung ending drama ini juga.

Saya buka sedikit, jika kamu bilang kalau masih trauma dengan pengalaman Cintamu yang lalu sehingga butuh waktu dan proses yang lama dan panjang merupakan hal yang kurang tepat. Oke saya menawarkan obatnya. Tapi kamu merasa bahwa obat yang aku tawarkan dan merupakan produk pribadiku itu juga gak bermanfaat bagimu sebagai obat. Kamu merasa kalau itu hanya sebatas permen yang tidak memberi efek yang kuat pada traumamu. Padahal jika aku jujur, hal ini sungguh telah lama aku dambakan. Banyak hal yang telah aku lakukan dan korbankan demi mempertahankan obat ini. Aku merasa kalau jarak bukanlah penghalang diantaranya. (Terhadap hal ini jika kamu butuh penjelasan lebih, aku bersedia untuk menjelaskannya).

Benar,,,??? Buat apa kita minum obat jika emang menurut kita toh gak ada guna??? Obat tersebut akan sangat sensitive dalam perasaan kita…

Nah, (saya persingkat pemaparannya). Di sinilah letak perbedaan kita menanggapi signal hati ini. Jika aku merasa ada hal istimewa justru kamu menganggapnya hal yang biasa saja…(kamu sebut sebagai just friend/ abang saja).

Saya sebagai seorang produk didikan fakultas hukum yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, mengakui dan menyadari kalau hal tersebut sebagai suatu hal yang hakiki dalam hidup. Jadi aku gak berhak untuk terlalu jauh masuk dalam hidupmu.

Tapi, ingatlah!!! Pribadiku adalah hidupku sejati. Aku terima argumenmu (Saat aku telfon hr Minggu yg lalu) adalah karena alasan psikologis. Saya bukan sok atau penafsiran lain, tapi aku mau bilang bahwa Cintaku Akan Tinggal Bersamamu….

(Aku sangat butuh pernyataan klarifikasi darimu. Aku tunggu yah…!!!)

Senin, 18 Agustus 2008

Kata Cinta

KATA MUTIARA TENTANG CINTA
1. Genta bukanlah genta sebelum dibunyikan
Lagu bukanlah lagu sebelum dinyanyikan
Cinta disanubari bukan untuk dipendam
Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan !

Oscar Hammerstein

2. Hanya dengan mencintailah
Kita dapat belajar mencintai

Iris Murdoch

3. Mencintai dan dicintai
Adalah merasakan kehangatan
Matahari dari kedua sisinya

David Viscort

4. Kebahagiaan terbesar dalam hidup
Adalah rasa pasti kita dicintai

Victor Hugo

5. Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan
Kasih sayang untuk dikenang
Mungkin saja perpisahan itu
Ternyata untuk selamanya

Jean Paul Richter

6. Kau akan tergugah mengenali dirimu
Apabila anakmu berkata kepadamu
” Ayah lebih mementingkan perkembangan
karier ayah daripada membantu pertumbuhan
kami untuk dewasa ”

George Ignatief

7. Hakikat kehidupan bukan
Peristiwa- peristiwa besar
Melainkan saat- saat keseharian

Rose Kennedy

अंग्कतन क्सिव यसोप

Daftar nama dan Kelulusan Angkatan XIV Yayasan Soposurung
Andriati M Sinaga : Akuntansi UNDIP
Arjuna Larosa : Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS)
Asina M Tampubolon : Teknik Arsitektur ITS
Benarto Pasaribu : Manajemen UI
Christina Panjaitan : Sekolah Tinggi Pajak Indonesia
David Simanjuntak : Teknik Elektro UI
Daniel Sitompul : Teknik Perminyakan ITB
Dedi Manurung : Ekonomi Pembangunan UNPAD
Devi Marpaung : Akademi Pariwisata Borobudur Jakarta
Edisah Pardosi : Kedokteran Umum UNPAD
Efraim L Sitinjak : Teknik Planologi ITB
Erikson Hutasoit : Kedokteran Gigi UI
Ester Sibarani : Psikologi UI
Ferry A Siallagan : Teknik Metalurgi ITB
Ganda Pasaribu : Akuntansi STAN
Hulman M Sinaga : Akuntansi UI
Indrawati M Sinaga : Akademi Pariwisata Borobudur Jakarta
Jefry S Pasaribu : Teknik Informatika PIDEL
Joko N Napitupulu : Teknik Geofisika ITB
Jontry Pakpahan : Teknik Informatika PIDEL
Juwita Simatupang : Teknik Telkom POLMED
Maria RUD Tambunan : Adm. Fiskal UI
Maria Sinaga : Ilmu Komputer USU
Marisi D Tamba : Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
Martin Simbolon : Tekik Mesin ITB
Mekar Sinurat : Hukum UNPAD
Noni Silalahi : Akuntansi UI
Okto S Silaban : Teknik Mesin ITB
Paskah R Purba : Adm. Niaga UI
Rahmat Simbolon : Kedokteran Unsrat
Ria Putri Gultom : Adm. Fiskal UI
Rio AW Siahaan : Hukum UI
Ricky L Toruan : Pendidikan Matematika UPH
Ronny B P anjaitan : Teknik Informatika STT Telkom
Sahlan H Siregar : Akuntansi USU
Samuel T Tambunan : Teknik Informatika STT Telkom
Sepanya Pasaribu : Teknik Elektro ITB
Siti A Ht Galung : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS)
Veronika Simanullang : Manajemen UI
Winner D Manalu : Teknik Industri ITB

Puisi

Bunga hati
Melangkah ikuti irama
Berjalan meniti hati
Bersandar pada tulusnya cinta
Membawa aku pada tuan putri

Akhir dari penantian
Lahirnya benih cinta di dada
Sesak dan panas membara
Ungkapan jiwa sang pangeran

Rintik-rintik hujan berlalu
Mengalir sendu di belahan jiwa
Berharap genangan muara cinta
Penyejuk dahagarinduku.


Kamis, 07 Agustus 2008

MEMBANGUN INDONESIA YANG PLURALISME

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, demikianlah kata bijak yang acapkali disampaikan oleh para petingi negara ini dalam pidatonya. Kata bijak tersebut pantas menjadi bagian dari tindak perilaku kita dalam kehidupan sosial yang dijalani sehari-hari. Artinya bahwa kata bijak tersebut harus kita praktekkan dalam kehidupan nyata dan bukan hanya sebatas pemanis ungkapan belaka.

Dalam perjuangan para pahlawan bangsa ini untuk mengusir penjajah ada beberapa nama yang ngetop dibenakku. Diantaranya Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja XII, Pangeran Antasari dan Tuanku Imam Bonjol. Mereka adalah para pejuang yang murni berjuang untuk mempertahankan negerinya dari gempuran penjajah. Namun hasil analisis menunjukkan bahwa perjuangan mereka cenderung gagal disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

Ø Perjuangannya masih bersifat kedaerahan. Mereka cenderung masih memperjungkan daerah/tanah kelahiran masing-masing. Saat itu belum ada konsep pemikiran bahwa sebenarnya mereka adalah satu dalam tanah Air Indonesia. Bahkan kemudian timbul peperangan antar daerah yang disebabkan oleh adu domba dari penjajah.

Ø Peralatan perang yang digunakan masih kuno. Peralatan perang yang sering digunakan adalah bambu runcing dan senjata khas daerah masing-masing (seperti Rencong dari Aceh, “parang” dari Tapanuli((bener gak seh? Aku lupa: malu juga neh)) dan keris dari Jawa). Peralatan perang yang mereka gunakan tersebut sungguh jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan peralatan perang penjajah yang sudah menggunakan teknologi industri modern.

Ø Kepemimpinan terkonsentrasi pada tokoh agama dan tokoh adat. Hal ini menyebabkan kader kepemimpinan lama bergerak dan jika pemimpin mereka tertangkap atau menyerah maka secara keseluruhan perjuangan akan lumpuh.

Namun pergerakan perjuangan kedaerahan beberapa waktu kemudian mengalami perubahan karena telah mulai timbul kesadaran bahwa sebenarnya mereka satu dalam naungan ibu pertiwi. Saya masih ingat apa yang dikatakan Bung Karno dalam salah satu bukunya bahwa “Indonesia perlu menyatukan seluruh kekuatan untuk kesatuan”. Tanpa membedakan dan melihat latar belakang SARA yang ada disekeliling kita. Apakah loe orang Betawi, apakah kau orang Batak, apakah aing orang Sunda, apakah kamu orang kalimantan. Atau tanpa melihat sebagai Islam, sebagai Protestan, sebagai Katholik, sebagai Budha, dan sebagai Hindu dan Aliran kepercayaan yang pada prinsipnya merupakan satu kesatuan.

Konsep pemikiran yang disampaikan oleh Bung Karno adalah Nasionalisme dan ini menjadi awal sejarah yang baru bagi Indonesia untuk semakin berani menyakatan eksistensinya di dunia Internasional. Hal itu sejalan dengan semboyan negara ini yaitu Bhinneka Tunggal Ika artinya biarpun berbeda-beda namun tetap satu juga. Dan sudah seyogianya semboyan tersebut kita pertahankan dan dilestarikan.

Melihat beberapa kejadian yang belakangan timbul di tanah air, muncul pemikiran dalam benak saya bahwa kita perlu untuk mengangkat kembali pemahaman terhadap pluralisme Indonesia sebagai satu kesatuan dan merupakan aset bangsa yang berperanan besar dalam proses pembangunan dan pencapain tujuan dan cita-cita bangsa ini. Beberapa fakta yang dapat kita lihat adalah tindakan dari para suporter sepak bola Indonesia. Hampir disetiap liga timbul kerusuhan manakala tim yang mereka bela kalah dan umumnya tim yang mereka bela adalah tim daerah asal masing-masing. Membela tim adalah hal yang wajar dan merupakan wujud dari kepedulian kita terhadap tanah kelahiran (daerah asal), namun yang patut disayangkan adalah dukungan yang diberikan terlalu fanatik sehingga kemudian timbul emosional di luar jangkauan. Hal ini menyebabkan nasib klub sepakbola Indonesia stagnan dan bahkan mengalami pemerosotan prestasi.

Fakta lain yang dapat kita lihat adalah dalam pemilihan kepala daerah baik Gubernur, Walikota atau Bupati. Pada hakekatnya masyarakat yang berbudaya hukum akan menerima pemimpin mereka dengan ikhlas manakala pemimpin tersebut telah melalui proses pemilihan atau ditentukan lembaga negara yang berwenang. Namun fakta yang kemudian timbul adalah adanya tindakan para pendukung calon tertentu yang anarkhis ketika calon yang mereka dukung gagal memenangi pemilu. Kejadian yang terjadi di Ambon merupakan tindakan yang patut disayangkan karena tindakan tersebut tidak pantas terjadi dan bertentangan dengan falsafah bangsa.

Tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang membentang dari Barat ke Timur dalam konsep lain disebut Wawasan Nusantara adalah milik kita bersama. Maka kita boleh berbuat dan berkarya untuk bangsa ini. Pancasila sebagai dasar negara menjadi falsafah hidup dan landasan pergerakan keIndonesiaan. Di dalam pancasila terkandung nilai-nilai yang merupakan ciri khas kepribadian bangsa dan itulah yang seharusnya terus kita pakai sebagai patokan hidup.

Salam Perjuangan….

Sinurat Mekar C.SH

Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor