Rabu, 17 Desember 2008

Seruan Natal

By: Mekar Sinurat (PMK Fak.Hukum UNPAD’ 2006)

Salam Natal…

Temen-temen semua Laskar Kristus, menjadi suatu renungan yang berharga dan sangat penting bagi kita semua akan pemaknaan ulang bagi Natal. Karena fakta yang saya lihat bahwa Natal sekarang telah sarat dengan penodaan dan peniadaan akan kehadiran/kelahiran Juru Selamat atau terlalu asyik dengan perayaan yang bersifat duniawi. Natal bukanlah berlalu sekejap hanya terbatas saat kita merayakannya tetapi Natal harus selalu hadir setiap hari dalam setiap tindakan kita. Apakah Natal hanya sekedar pesta dan perayaan ? Natal sekarang indentik dengan baju baru, sepatu baru, dan lain-lain, sehingga tidaklah mengherankan jika banyak pusat perbelanjaan menawarkan “Christmas Sale” dan berbagai macam promosi untuk menarik orang berbelanja. Apakah Natal harus penuh dengan kemewahan ?

Ketika Natal pertama kali dilakukan adalah suatu natal yang sederhana. Bukan Maria dan Yusuf tidak mampu, sehingga memilih sebuah kandang dan palungan untuk istri dan anaknya. Atau apakah Allah tidak mampu memilih “Maria” lain yang merupakan seorang puteri Raja atau bangsawan, sehingga Yesus sebagai Putra Allah mendapatkan tempat yang lebih layak. Namun Natal melambangkan suatu sikap rendah hati dan kerelaan mau berkorban atau memberi untuk orang lain. “It’s Time to Give”. Ketika Natal kita mengetahui makna Natal adalah waktu memberi bagi orang lain. Apakah yang telah kita berikan, untuk sesama kita dan Tuhan ?. Natal adalah moment yang tepat untuk memberi, namun seringkali orang terjebak dengan moment. Jika bukan Natal , jarang sekali kita orang Kristen mau memberi. Padahal begitu banyak orang-orang yang mengalami kemiskinan dan kesusahan, yang memerlukan bantuan anda tidak hanya di Hari Natal saja. Ketika kita diberikan sedikit harta duniawi, sudah kita menyisihkan sedikit untuk mereka yang susah ? Marilah Kita jadikan moment Natal tahun ini, membuat kita memikirkan kembali makna Natal sesungguhnya, dan biarlah di tahun ini Natal itu lahir dalam hati kita semua. Biarlah Kita menjadikan diri kita “hadiah Natal ” terindah buat orang lain, dengan kehadiran kita sebagai sahabat dan melalui harta yang kita miliki , bukan hanya di Hari Natal . Namun setiap hari dalam hidup kita adalah natal untuk orang lain.

Re-edit dari berbagai sumber

Minggu, 07 Desember 2008

Ajari Anak-anak Arti Natal yang Sebenarnya


Satu minggu sebelum Natal, saya kedatangan tamu. Begini ceritanya, Saya sedang
bersiap-siap untuk tidur ketika terdengar suara berisik di ruang tamu. Saya
membuka pintu kamar Dan saya amat terkejut, sinterklas tiba-tiba muncul dari
balik pohon natal.

Sinterklas tidak tampak gembira seperti biasanya malahan saya pikir saya melihat
air Mata disudut matanya."Apa yang sedang anda lakukan?" saya bertanya." Saya
datang untuk mengingatkan kamu... AJARILAH ANAK-ANAK!" kata Sinterklas. Saya
menjadi bingung apa yang dimaksudkannya?

Kemudian dengan satu gerak cepat Sinterklas memungut sebuah tas mainan dari
balik pohon. Sementara saya berdiri dengan bingung, Sinterklas berkata,"Ajarilah
anak-anak! Ajarilah mereka arti natal yang sebenarnya, arti yang sekarang ini
telah dilupakan oleh banyak anak".

Sinterklas merogoh kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebuah POHON NATAL mini
"Ajarilah anak-anak bahwa pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun,
melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia, semua ujung daunnya mengarah
keatas, mengingatkan Kita bahwa segala pikiran Kita di masa Natal hanya terarah
pada surga."
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Kemudian IA memasukan tangannya kedalam tas Dan mengeluarkan sebuah BINTANG
cemerlang "Ajarilah anak-anak bahwa bintang adalah tanda surgawi akan janji
Allah berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Penyelamat bagi dunia,
Dan bintang adalah tanda bahwa Tuhan menepati janji-Nya."

Ia memasukkan tangannya lagi kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebatang LILIN
"Ajarilah anak-anak bahwa kristus adalah terang dunia, Dan ketika Kita melihat
terang lilin, Kita diingatkan kepada-Nya yang telah mengusir kegelapan"

Sekali lagi IA memasukkan tangannya ke dalam tasnya, mengeluarkan sebuah
LINGKARAN lalu memasangnya di pohon natal,"Ajarilah anak-anak bahwa lingkaran
melambangkan Cinta Sejati yang tak akan pernah berhenti. Cinta adalah kasih
sayang yang terus-menerus tidak hanya saat Natal , tetapi sepanjang tahun."

Kemudian dari tasnya IA mengeluarkan hiasan SINTERKLAS."Ajarilah anak-anak bahwa
saya, Sinterklas, melambangkan kemurahan hati Dan segala niat baik yang Kita
rasakan sepanjang bulan Desember."

Selanjutnya IA mengeluarkan sebuah HADIAH Dan berkata,"Ajarilah anak-anak bahwa
Tuhan demikian mengasihi umatnya sehingga Ia memeberikan anaknya yang
tunggal...."

"Terpujilah Allah atas hadiah-Nya yang demikian mengagumkan itu. Ajarilah
anak-anak bahwa para majus datang menyembah sang bayi kudus Dan mempersembahkan
emas, kemenyan Dan mur. Hendaklah Kita memberi dengan semangat yang sama dengan
para majus."

Sinterklas kemudian mengambil tasnya, memungut sebatang PERMEN coklat berbentuk
tongkat Dan menggantungkannya di pohon Natal ."Ajarilah anak-anak bahwa batangan
permen ini melambangkan para gembala. Sekali waktu seekor domba berkelana pergi
meninggalkan kawanannya Dan tersesat maka gembala datang Dan menuntun mereka
kembali. Batang permen ini mengingatkan Kita bahwa Kita adalah penjaga
saudara-saudara Kita, sekali waktu orang-orang yang telah lama pergi
meninggalkan geraja membutuhkan pertolongan untuk kembali ke pangkuan Gereja.
Selayaknyalah Kita berdaya supaya untuk menjadi gembala-gembala yang baik Dan
menuntun mereka pulang kerumah."
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Ia memasukan tangannya lagi kedalam tas Dan mengeluarkan sebuah boneka
MALAIKAT." Ajarilah anak-anak bahwa para malaikatlah yang mewartakan kabar
sukacita kelahiran Sang Penyelamat. Para malaikat itu bernyanyi,"Kemuliaan bagi
Allah di surga Dan damai di bumi bagi manusia." Sama seperti para malaikat di
Betlehem, Kita patut mewartakan kabar gembira tersebut kepada keluarga Dan
teman-teman: Immanuel - Tuhan beserta Kita!

Sekarang Sinterklas kelihatan gembira. Ia memandang saya Dan saya melihat
matanya telah bersinar kembali. Ia berkata,"Ingat, ajarilah anak-anak arti Natal
yang sebenarnya. Jangan menjadikan saya pusat perhatian karena saya hanyalah
hamba dari Dia yang adalah arti Natal yang sebenarnya - Immanuel -Tuhan beserta
Kita. Kemudian, secepat datangnya, Sinterklas tiba-tiba pergi.

Dan seperti biasa - Sinterklas telah datang untuk membawa hadiah bagi saya Dan
anak-anak saya - suatu hadiah yang luar biasa. Sinterklas telah membantu saya
mengingat kembali arti Natal yang sebenarnya - Dan arti kedatangan Yesus ke
dunia. Dan saya tahu, bagi saya Dan anak-anak, Natal ini akan menjadi Natal yang
terindah - karena IMMANUEL ~ Tuhan beserta Kita!

Dikutip dari milis Paryasop

Rabu, 03 Desember 2008

MEMAHAMI KASUS RAJU

BY: Mekar Sinurat

Kasus ini mencuat ketika seorang bocah kecil bernama Raju dengan nama lengkap Muhamad Azuar, ditahan di rutan bersama orang dewasa padahal saat itu Raju masih berumur 8 tahun. Bagaimana dengan perkembangan psikologis dia?? Permasalahan timbul ketika Raju berkelahi dengan kakak kelasnya yang sudah berumur 6 tahun lebih tua dari dia. Oleh orang tua kakak kelasnya itu, Raju dilaporkan ke polisi dan polisi memproses secara hukum.

Hal yang perlu dan harus diperhatikan adalah implementasi dari UU No 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak yang mana UU itu sendiri lebih mengedepankan pendekatan sosial kepada anak daripada penjatuan hukuman penjara. Misalnya dengan mengembalikan anak kepada orang tua atau wali atau oleh negara untuk dididik dan dibina. Dan oleh UU No 12 Tahun 1995 dalam pasal 18 juga menyebutkan bahwa pidana anak juga ditempatkan di Lapas Anak bukan digabung dengan orang dewasa.

Kita bisa lihat bagaimana reaksi Raju saat ditanya oleh hakim Tiurma Pardede, dia sangat trauma dengan proses peradilan tersebut. Ketika sang hakim menyebutkan bahwa hukum harus ditegakkan dan dijalankan, saat itu juga seharusnya hati nalurinya berkata apakah kasus ini harus di selesaikan dengan proses peradilan??

Persoalannya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tiap hari banyak anak-anak berantem tapi apakah mereka lantas diajukan ke pengadilan?? Maksud saya, namanya juga anak-anak masih hal yang wajar berantem seperti itu (bukan berarti saya setuju dengan anak-anak yang berantem). Seharusnya hal-hal seperti itu bisa deselesaikan dengan cara-cara kekeluargaan atau musyawarah. Percuma kita sejak kecil atau SD kita selalu dicocoli dengan konsep musyawarah mufakat, tapi entah kenapa dalam implementasi selalu mentah.

Saya selaku mahasiswa fakultas hukum masih sangat berharap besar dan yakin bahwa hukum dan penegakannya di Negeri ini masih bisa kita perbaiki dan kita masih punya banyak waktu untuk belajar. Hal yang perlu ditekankan adalah bagaimana menjaga agar kita tetap konsisten pada pendirian luhur nurani kita.

Salam Perjuangan….. Salam Demokrasi.

HIDUP MAHASISWA… HIDUP MAHASISWA… HIDUP MAHASISWA!!!!

Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor