Jumat, 31 Oktober 2008

PENERAPAN ASAS PRESUMPTION OF INNOCENCE

PADA BAJU KORUPTOR

By: Mekar Sinurat (110110060126)


Menurut Asas Presumption of Innocence atau asas Praduga tak bersalah, seseorang yang diduga melakukan kejahatan atau tindak pidana wajib untuk tidak dianggap bersalah sampai kesalahannya dapat dibuktikan berdasarkan suatu putusan badan peradilan yang sudah memiliki kekuatan yang pasti. Berdasarkan asas ini setiap orang yang didakwa melakukan suatu kejahatan atau tindak pidana harus diperlakukan sebagaimana layaknya manusia yang tidak bersalah, dengan segala hak asasi manusia yang melekat pada dirinya. Dia tidak boleh diperlakukan secara sewenang-wenang, secara kejam, secara tidak manusiawi, ataupun diperlakukan di luar batas-batas perikemanusiaan. Bahkan andaikata kesalahan yang didakwakan kepadanya sudah terbukti dan dijatuhi putusan oleh pengadilan dan kekuatan mengikat yang pasti, dia juga harus tetap diperlakukan selayaknya seperti manusia biasa dengan segala hak asasinya.

Asas praduga tidak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Intinya, praduga tidak bersalah bersifat legal normative dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Dalam konteks hukum acara pidana di Indonesia, kendati secara universal asas praduga tidak bersalah diakui dan dijunjung tinggi, tetapi secara legal formal Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kita juga menganut asas praduga bersalah. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Artinya, untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup, harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Dalam reformasi hukum di Indonesia dalam menerapkan asas praduga tak bersalah adalah pada legal guilt bukan pada factual guilt. Namun demikian dalam berbagai kasus pidana yang menimpa para penyelenggara negara kita, dengan memahami asas praduga bersalah dan asas praduga tidak bersalah secara hakiki, maka logikanya harus dibalik, para penyelenggara negara yang terlibat perkara pidana harus mampu memberikan teladan melalui menon-aktifkan diri dari jabatannya sampai ada putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Tanpa mengesampingkan asas praduga tidak bersalah, para penyelenggara negara itu adalah public figure yang seharusnya memberi teladan kepada masyarakat. Sementara dengan bersandarkan deskriptif faktual atas dasar bukti permulaan yang cukup, mereka dianggap telah melakukan tindak pidana yang dimaksud. Berkaitan dengan uraian di atas Praduga tak bersalah adalah pada level legal guilt yang tidak dapat dipertentangkan dengan factual guilt. Namun dalam penerapannya perlu juga dikaji yang lebih mendalam sehingga asas tersebut tidak digunakan sebagai alasan atau tameng bagi para pelanggar hukum (terutama yang kuat baik secara ekonomi, sosial atau politik) untuk berlindung. Dan perlu adanya kode etik yang secara moral mengatur serta berlaku juga bagi seluruh warganegara tanpa adanya diskriminasi sehingga tidak terjadi bagi aparat pemerintah yang terlibat perkara pidana masih tampil memimpin sidang di DPR dengan alasan menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah.

Kini kasus korupsi telah menjamur dan bahkan membudaya di bangsa ini. Pengertian budaya dalam istilah korupsi lebih berkaitan dengan kata membudaya yang dianggap sebagai sesuatu yang menjadi kebiasaan yang dianggap wajar, namun sebenarnya tidak benar, karena menyalahgunakan jabatan publik untuk kepentingan atau keuntungan diri sendiri atau kelompoknya. Masyarakat cenderung memberikan toleransi terhadap praktik-praktik korupsi dan tidak peduli pada kekurangan yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan, karena dapat mengambil keuntungan dari kekurangan tersebut. Budaya korupsi tumbuh subur ketika nilai-nilai tradisional setempat, etika atau nilai agama yang sudah diinterpretasikan bergabung dengan mentalitas modern, seperti konsumerisme dan egoisme.

Terkait dengan membudayanya praktik korupsi maka timbul ide dari KPK untuk membuat baju koruptor dengan alasan sebagai upaya untuk memberantas korupsi. Namun ternyata upaya tersebut mendatangkan pro kontra di masyarakat. Pasalnya dengan memakai baju yang bertuliskan “Koruptor” telah menyalahi asas Presumption of Innocent tersebut. Seharusnya sebelum dibuktikan di meja pengadilan bahwa seseorang dinyatakan melakukan perbuatan korupsi tidak ada wewenang pihak tertentu dalam hal ini KPK untuk menyatakan seseorang tersebut KORUPTOR. Korupsi memang sudah menjadi penyakit sosial yang merajalela di Indonesia dan perlu ada suatu jalan yang ampuh untuk menimbulkan efek jera, namun harus tetap juga memperhatikan norma-norma hukum yang sudah ada, artinya tidak boleh bertentangan. Kita harus menghormati proses hukum yang berlaku, sehingga pemakaian baju tersebut minimal saat pelaku koruptor ditetapkan sebagai tersangka. Sebelum ditetapkan sebagai tersangka belum layak memakai baju koruptor. Perbedaan antara tahanan, tersangka, dan terdakwa harus jelas dalam posisi ini sehingga saat memakai baju koruptor tulisannya bisa berbeda.

Kita berharap dengan pemakaian baju tersebut merupakan schok terapi bagi mereka untuk berhati hati dalam menggunakan dana milik Negara baik dari APBN, APBD ataupun dana rakyat lainnya.

Ketika Itu

By: Mekar Sinurat

Merasa cape seharian beraktivitas di kampus, aku segera memberesi laptop. Kusimpan semua file-file tugasku dengan rapih dalam satu folder. Laptop kumasukkan ke tas dan akupun meninggalkan e-learning. Menuruni tangga gedung baru dengan hati-hati karena takut terjatuh, seharian aku belum makan dan kepala udah terasa pusing. Kuperhatikan anak-anak PMK sedang duduk berdiskusi atau mentoring yang dipimpin oleh anak 2006.

Aku mengobrol sebentar dan secepat kilat meninggalkan mereka karena cacing-cacing sudah berdemo dalam sarangnya. Sepanjang jalan menuju kostan di area Monumen pancasila aku memperhatikan beberapa pasangan anak muda duduk dan bersenda gurau menikmati indahnya sore itu. Aku merasa aneh akan tingkah laku mereka…. Tapi mungkin itulah gaya pergaulan anak muda di Bandung yang di mata masyarakat sudah tidak asing lagi. Beberapa diantara mereka masih ada yang memakai seragam sekolah SMP maupun SMA, dan duduk berpasang-pasangan di atas motor atau melantai sambil bersandar di pagar monument tersebut.

Seketika terbersit dalam pikiranku, masih dianggap etis dan legal kah gaya pergaulan mereka ini??? Sebagai seorang mahasiswa yang punya idealis tersendiri saya menganggap kalau perbutan mereka itu masih dalam realita anak muda di Bandung, artinya tidak boleh saya samakan dengan gaya pergaulan di kampung halaman saya SIHIONG. Namun saya tetap berpikir lebih baik mereka menggunakan waktu luang yang mereka miliki untuk kegiatan yang masih lebih berguna. Mungkin untuk kalangan anak muda kumpul-kumpul sama genk atau teman merupakan hal yang yang tak terpisahkan lagi dari kebebasannya. Tapi persoalannya hampir setiap hari aku melihat pemandangan seperti ini?

Bagaimana dengan nasib masa depan mereka jika kondisi seperti ini cenderung bertahan? Seharusnya mereka harus sadar bahwa tingkat pendidikan di Bandung untuk kelas SMP dan SMA sudah sangat jauh merosot dibandingkan dengan kota lainnya padahal Perguruan Tinggi di kota ini merupakan Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia. Mudah-mudahan besok saat saya balik dari Kampus menemukan perubahan pada kondisi Monumen Pancasila.

Selasa, 28 Oktober 2008

Posted by Picasa

MERAJUT KEMBALI NILAI-NILAI GMKI

By: Mekar Sinurat

Sejak kemerdekaan Indonesia banyak tantangan yang dihadapai bangsa ini dalam menjalankan fungsinya untuk mengayomi rakyat, memberikan perlindungan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan hal-lain seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai tujuan Negara. Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi lebih kepada suatu langkah awal untuk menata Negara ini secara demokratis meneruskan aksi dari para The Founding Fathers. Segenap lapisan/komponen bangsa ini harus turut serta berpartisipasi dan berkontribusi untuk berpikir, bersikap dan bertindak dalam rangka membangun bangsa ini sehingga lebih baik dalam segala aspek dan mampu berjalan sejajar/beriringan dengan bangsa lain yang pada akhirnya nanti kita harus optimis bahwa kita bisa menjadi yang terdepan.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sebagai salah satu bagian dari integral bangsa ini sudah selayaknya membuka mata dan menunjukkan kepeduliannya terhadap segala polemik bangsa yang ada. Jika kita melihat historis sepak terjang GMKI tentunya kita akan merasakan hal yang berbeda antara masa lalu dan GMKI masa kini. Kita akan melihat bahwa ada degradasi nilai-nilai luhur dalam pelayanan GMKI. Dalam tesisnya Bapak TB Simatupang disebutkan kita harus menjiwai Iman Kristen sekaligus nasionalis. Pada titik inilah eksistensi Kekristenan di Indonesia sangat ditentukan dan diperhitungkan. Kita sepatutnya bangga kepada beliau Bapak TB Simatupang sebagai seorang Kristen dengan teori Revolusi dan Bapak Johanes Leimena dengan teologi Kewarganegaraan yang Bertanggung Jawab. Bapak TB Simatupang lahir mewakili dua zaman sekaligus yaitu zaman Soekarno yang berorientasi kepada revolusi dan zaman Soeharto yang berorientasi kepada pembangunan. Sekarang situasinya adalah gema reformasi menggaung dan telah berdegung sejak 1998 silam, apakah GMKI tidak bisa hadir dengan sambutan reformasi? Apakah GMKI tidak bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih progresif? GMKI harus sadar bahwa tugasnya adalah untuk menghadirkan Shalom Allah di muka bumi ini. GMKI harus bisa memberikan pelayanan nyata kepada masyarakat, peka terhadap persoalan-persoalan politik, social, ekonomi dan budaya sehingga bisa memberikan solusi terhadap segala persoalan yang timbul.

GMKI sebagai lembaga pelayanan yang mempunyai nilai Kekristenan harus bisa hadir dengan semangat Nasionalis karena ketika para the founding fathers mendirikan Negara Indonesia semangatnya adalah kita semua harus mendukung. Semua buat semua. Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia ataupun golongan lain. Tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua.

Dalam konteks seperti itu GMKI perlu menyadari panggilannya dimana Kristus mengutus mereka sebagai perkakasnya melanjutkan pekerjaanNya di bumi Indonesia dan sebagai agen Kerajaan Allah yang ditempatkan Kristus untuk berjuang dan bergumul dengan masyarakat lainnya dalam membangun bangsa. Dari beberapa sumber informasi yang saya peroleh bahwa pemilihan fungsionaris GMKI telah menjadi sumber masalah yang menghambat proses perkembangan organisasi. Adanya kepentingan-kepentingan tertentu dalam setiap pelaksanaan kongres telah bertentangan dengan maksud dan tujuan berdirinya GMKI. Para pengurus GMKI terpilih berdasarkan kemampuan merekayasa pemilih tanpa memperhatikan nilai-nilai demokratisasi. Sehingga ketika para pengurus tersebut menjalankan tugasnya tidak bisa secara baik. Hal itu menjadi penyebab minimnya peran serta para kader GMKI dalam membangun dan memajukan bangsa ini. GMKI perlu melakukan program yang berorientasi hasil pada loyalitas kader dan peningkatan kemampuan anggota. Jumlah mahasiswa yang berhimpun dalam GMKI ini cukup banyak. Akan tetapi, masih ada kekurangan dari sisi loyalitas dan kemampuan. Jadi GMKI ke depan perlu mengoptimalkan aset-aset yang ada. Kemampuan yang perlu lebih dikembangkan lagi anggota tidak hanya akademik. Kalau kemampuan akademik, anggota-anggota GMKI cukup bisa dibanggakan. Akan tetapi, tidak hanya terbatas kemampuan akademik. Mahasiswa sebagai kaum intelektual perlu mengaplikasikan ilmu akademik dalam masyarakat. Bila kita melihat data keanggotaan GMKI dalam skala nasional jumlahnya hampir ribuan. Namun para kadernya tidak ada yang menampakkan diri di tingkat nasional belakangan ini. Seharusnya menjadi tanggung jawab kita untuk menggantikan senior-senior kita yang sudah tua. Banyak mahasiswa yang masuk GMKI karena melihat ataupun mendengar senior GMKI banyak yang sukses dan menjadi tokoh di Republik ini tanpa menyadari bagaimana para senior-senior tersebut berproses dan berdinamika untuk menjadi “orang”. Sehingga mereka kadang memberikan pujian pada senior tanpa mengikuti langkah sukses mereka. Tujuan kita dalam ber-GMKI akan membuat kita lebih berkomitmen dan bersemangat dalam setiap kegiatan yang bernafaskan GMKI. Sebagai kader kita harus mampu menunjukkan bahwa kita dapat berbuat lebih dari yang lain. Kita harus sukses dalam kuliah dan sukses dalam berorganisasi. Tapi kenyataan yang timbul adalah mahasiswa GMKI terlalu sibuk berorganisasi sehingga lupa akan tujuan awalnya untuk kuliah. GMKI telah menghambat proses kuliah dan bahkan bagi sebagian orang bisa menghancurkan masa depannya. Itulah tantangan mahasiswa GMKI ke depan bisa merubah fakta tersebut menjadi suatu asset dan modal yang besar untuk menjadi leadher dalam salah satu komunitas di Republik ini. GMKI harus bisa merubah citra public yang telah menganggap GMKI sebagai organisasi yang cenderung eksklusif serta tidak berpihak kepada kepentingan rakyat banyak. GMKI harus mampu meneguhkan kembali posisi dan perannya di tengah-tengah kehidupan kaum muda sebagai kekuatan social dan sumber perubahan (agent of change) dengan menjawab masalah-masalah yang kini mendera rakyat seperti kemiskinan, kelaparan, rendahnya pendidikan, pengangguran, dan lain sebagainya. Kemampuan kader GMKI jangan hanya sampai tataran pandai dalam beretorika tetapi buntu dalam tindakan. Kemampuan tersebut harus merata dalam semua bidang karena keseimbangan adalah hal yang indah dalam hidup. Dalam diri seorang kader GMKI tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tetapi jangan sampai kehilangan jati diri yang terbalut dalam kemunafikan.

GMKI diperhadapkan pada suatu tantangan yang bersifat dinamis dan dituntut untuk selalu eksis dalam mengimpresi serta mengekspresikan segala fenomena yang terjadi di lingkungannya. Dan sebagai organisasi kemahasiswaan yang berwarna kekristenan, kemahasiswaan dan keIndonesiaan, GMKI melalui kader kadernya dituntut untuk selalu memberi garam, terang dan ragi dunia. Dalam suatu tulisan saya pernah baca bahwa GMKI harus menjadi suatu pusat, sekolah latihan (leerschool) daripada orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan dari negara dan bangsa. Sehingga melalui itu, GMKI mampu berdiri ditengah-tengah dua proklamasi : Proklamasi kemerdekaan nasional dan proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injil kehidupan, kematian dan kebangkitan.

Seperti seorang bintang sepakbola dunia pernah berkata “Saya sangat senang jika bisa berada di klub ini, karena saya akan berkumpul dengan bintang-bintang sepakbola yang terkenal lainnya. Dengan demikian permainan saya akan lebih baik, karena dipacu oleh persaingan yang sangat ketat”. Ini merupakan gambaran yang baik bagi kita anak-anak GMKI agar dapat memacu hidup lebih baik dan berkembang. Artinya bahwa kita harus bangga sebagai anak GMKI yang merupakan komunitas intelektual muda yang tergabung dari beberapa diversifikasi perguruan tinggi. Kita tidak memungkiri bahwa GMKI berpolitik dan bahkan dalam pergerakannya mangarah pada politis, namun dalam AD/ART pasal 5 disebutkan bahwa GMKI bukanlah organisasi politik sebagaimana persepsi masyarakat selama ini terhadap GMKI sendiri. Dalam pergerakannya memang GMKI cenderung bersentuhan dengan “politik” dan memang kita tidak bisa terlepas dari system politik itu sendiri. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita mengaplikasikan politik itu dalam kehidupan sehari-hari karena politik itu bukan sesuatu yang kotor dan Nazis untuk menyentuhnya. Justru kita sebagai anak GMKI harus terjun terlibat dalam percaturan politik sepanjang kita masih tetap berjalan dalam koridor Nilai-nilai Kekristenan. Hal yang perlu kita benahi adalah pemahaman kita terhadap politik itu sehingga kita bisa menggunakan politik itu secara benar dan nyata dalam politik praktis sehingga tanggapan dan pandangan-pandangan aneh masyarakat bisa kita kikis hingga menjadi pandangan positif yang berakar kuat dalam masyarakat. Selama ini GMKI terlalu sibuk dengan masalah-masalah keorganisasian atau internal sehingga terhadap masalah dan isu-isu factual tidak segera tanggap dan bahkan tidak sanggup memberi respon apapun.

Sebagai organisasi kader GMKI harus bisa melahirkan dan menyiapkan kader-kader yang benar-benar unggul dalam segala bidang kepemimpinan. Sehingga dalam Open Reqruitment atau Maper menjadi hal yang sangat perlu untuk ditinjau kembali system yang selama ini dipraktekkan. Apakah GMKI lebih memilih kuantitas dan menghiraukan kualitas, atau kita lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas atau justru kita menjunjung kedua-duanya kuantitas yang dibarengi kualitas? Mungkin dengan segera kita akan menjawab bahwa GMKI mengutamakan kualitas dan kuantitas, tanpa menyadari apa sebenarnya yang terjadi dalam pola pembinaan kader GMKI selama ini. Hal nyata yang bisa saya lihat sebagai realitas GMKI adalah GMKI sudah kekurangan atau bahkan kehilangan nilai jual organisasi. Sehingga dalam praktek open reqruitment keanggotaan mahasiswa ada hal-hal atau nilai lebih yang kita jual kepada calon anggota baru padahal kenyataannya nilai dan sifat itu sudah tidak dimilki GMKI lagi sekarang. Sehingga terkadang kita juga memberi pemaparan tentang cerita sukses para senior GMKI yang telah berkiprah dalam kancah nasional maupun regional dimana kita juga tidak sadar apakah idealism yang dulu dipegang teguh saat mahasiswa masih tetap melekat atau tidak lagi (jatuh dalam budaya KKN). Anehnya lagi walaupun kita sudah lelah dengan mengorbankan tenaga, waktu dan biaya lebih untuk mempresentasikan atau menjual GMKI ini bagi mereka calon anggota ternyata tetap saja sedikit yang mendaftar dan ikut maper. Menjadi menarik untuk diteliti apakah cara kita dalam membungkus konsep GMKI yang kurang menarik atau apakah para kawula muda yang sudah tidak tertarik lagi dengan dunia organisasi. Hal ini menjadi tantangan yang serius bagi para kader GMKI.

Ketika ada anggota baru masuk GMKI dan mau terlibat dalam pelayanan maka kita harus siap mendidik mereka dalam pola atau konsep pendidikan kader (PDSPK) agar mereka mampu menerjemahkannya dalam ketiga medan pelayanannya. Sudah saatnya kita merubah kebiasaan lama yang membiarkan anggota baru tanpa ada perhatian bagi mereka, pemahaman-pemahaman organisasi serta usaha-usaha dalam peningkatan intelektual, keimanan, dan ilmu lainnya merupakan konsepan yang harus kita budayakan dalam berGMKI. Pembenahan dan kemandirian GMKI tidak terlepas dari ide-ide kreatif setiap komunitas cabang, bagaimana setiap cabang mampu mengatur dan memanage setiap potensi dan sumber daya yang ada untuk kebutuhan cabang. Sehingga untuk setiap kegiatan kita tidak selalu “mengemis” pada senior atau bahkan memangkas program-program menjadi seminimal mungkin karena keterbatasan jumlah dana. GMKI Cabang Bandung sendiri mempunyai asset yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh beberapa cabang yang lain. Selain tempatnya strategis tetapi juga mempunyai secretariat sendiri. Tapi itu menjadi biasa atau bahkan buruk ketika para kader-kader yang duduk dalam struktur kepengurusan berdiam diri tanpa memberdayakan asset potensial itu. Hal-hal seperti ini yang seharusnya kita jeli melihatnya. Lebih baik kita biarkan daripada merusaknya.

Melalui tema "Bangkitlah dan menjadi Taruk Bagi Bangsa (Yesaya 11:1-10), dengan sub Tema: Meningkatkan Integritas dan Loyalitas Kader dalam Mewujudkan Tri Panji serta Visi-Misi GMKI, memiliki tujuan/sasaran yaitu agar para peserta dapat memahami pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta mampu bersikap yang tepat terhadap perubahan tersebut dengan tetap bersandar pada Alkitab , maka para kader harus memiliki pemahaman**:

1. Bahwa untuk menjadi taruk (stem, batang muda) yang bertumbuh dan berbuah bagi pribadi, keluarga, gereja, kampus, lingkungan dan bangsa, kader GMKI sudah seharusnya memiliki spiritualitas yang senantiasa dibaharui oleh Roh Kudus, serta senantiasa memperjuangkan track-record kehidupan yang jelas dan baik, sebagaimana hidup Kristus yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.

2. Integritas, kejujuran, iman, kesetiaan dan cara pandang yang utuh, beserta nilai-nilai keutamaan lainnya yang dikandung pada perikop Yesaya 11: 1-11 menjadi nilai-nilai pokok Kekristenan sebagai fondamen utama kader GMKI dalam mengupayakan serta merevitalisasi perannya sesuai konteks tantangan dan peluang kehidupan masa sekarang dan ke depan.

3. Untuk dapat bangkit menjadi taruk bagi bangsa, tentu setiap kader GMKI melalui proses. Yang memungkinkan kader GMKI mampu mengelola perubahan yang sedemikian cepat pada masa sekarang di segala lini. Sehingga semakin dimampukan Tuhan menjadi alatNya menghadirkan perdamaian, keadilan (justice), kesejahteraan dan keutuhan ciptaan sebagaimana digambarkan bagian akhir perikop nats. Aplikasinya mulai dari domain terkecil di lingkungan pribadi keluarga, gereja dan kampus, hingga domain yang lebih luas di tengah masyarakat bangsa, dunia sosial-politik dan percaturan global.

4. Komitmen untuk taat dan setia pada kebenaran firman Tuhan sangat diperlukan dalam menjalani proses pembinaan dari Allah, dimana Allah dapat memakai media apa saja untuk membina dan mengkader/memuridkan anak-anakNya. Paradigma, mindset, pengetahuan, skills, moral dan perilaku kita akan semakin ditambahkan dari sehari ke sehari, termasuk lewat dinamika yang berkembang saat terlibat dalam organisasi GMKI berikut berbagai interaksi dengan komunitas lingkungan lainnya.

5. Dengan demikian, harapannya setiap kita memiliki sikap proaktif, solidaritas terhadap kondisi yang tidak sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Tentu saja sikap tersebut harus dilandaskan pada firman Tuhan seperti teladan tokoh Yesaya dan Yehuda yang tetap bersandar kepada Tuhan dalam berbagai krisis yang dihadapi saat itu. Sikap menjaga kesatuan dan keutuhan, sesuai motto GMKI sejak awal "Ut Omnes Unum Sint" masih sangat relevan dipelihara dan dipertahankan, apalagi dalam konteks pergumulan dan krisis bangsa yang tidak mudah untuk dilalui pada masa-masa sekarang.

Memenuhi pernyataan awal, organisasi ideal ialah jika ia menjadi dirinya, maka memaknai GMKI yang ideal berarti melakukan refleksi atas sejarah kediriannya. GMKI menjadilah pelopor..., GMKI menjadilah suatu pusat sekolah latihan (Leerschool)…,GMKI menjadilah gemainschaft…, inilah prinsip dasar membangun GMKI yang ideal itu, yakni GMKI மேஞ்சடில்.

Rabu, 22 Oktober 2008


















Main bola adalah Hobby ku
Foto ini diambil saat aku dan temen2 ku
Angkatan XIV Yasop berolah raga di Kawasan UI-Depok
Posted by Picasa

Bill Gates

William Henry Gates III atau lebih terkenal dengan sebutan Bill Gates, lahir
di Seatle, Washington pada tanggal 28 Oktober 1955. Ayah Bill, Bill Gates
Jr., bekerja di sebuah firma hukum sebagai seorang pengacara dan ibunya,
Mary, adalah seorang mantan guru. Bill adalah anak kedua dari tiga
bersaudara. Sejak kecil Bill mempunyai hobi "hiking",bahkan hingga kini pun
kegiatan ini masih sering dilakukannya bila ia sedang "berpikir".

Bill kecil mampu dengan mudah melewati masa sekolah dasar dengan nilai
sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran IPA dan Matematika. Mengetahui
hal ini orang tua Bill, kemudian menyekolahkannya di sebuah sekolah swasta
yang terkenal dengan pembinaan akademik yang baik, bernama "LAKESIDE". Pada
saat itu , Lakeside baru saja membeli sebuah komputer, dan dalam waktu
seminggu, Bill Gates, Paul Allen dan beberapa siswa lainnya (sebagian besar
nantinya menjadi programmer pertama microsoft) sudah menghabiskan semua jam
pelajaran komputer untuk satu tahun.

Kemampuan komputer Bill Gates sudah diakui sejak dia masih bersekolah di
Lakeside. Dimulai dengan meng"hack" komputer sekolah, mengubah jadwal, dan
penempatan siswa. Tahun 1968, Bill Gates, Paul Allen, dan dua hackers
lainnya disewa oleh Computer Center Corp. untuk menjadi tester sistem
keamanan perusahaan tersebut. Sebagai balasan, mereka diberikan kebebasan
untuk menggunakan komputer perusahaan. Menurut Bill saat itu lah mereka
benar- benar dapat "memasuki" komputer. Dan disinilah mereka mulai
mengembangkan kemampuan menuju pembentukan micr*soft, 7 tahun kemudian.

Selanjutnya kemampuan Bill Gates semakin terasah. Pembuatan program sistem
pembayaran untuk Information Science Inc, merupakan bisnis pertamanya.
Kemudian bersama Paul Ellen mendirikan perusahaan pertama mereka yang
disebut Traf-O-Data. Mereka membuat sebuah komputer kecil yang mampu
mengukur aliran lalu lintas. Bekerja sebagai debugger di perusahaan
kontrkator pertahanan TRW, dan sebagai penanggungjawab komputerisasi jadwal
sekolah, melengkapi pengalaman Bill Gates.

Musim gugur 1973, Bill Gates berangkat menuju Harvard University dan
terdaftar sebagai siswa fakultas hukum. Bill mampu dengan baik mengikuti
kuliah, namun sama seperti ketika di SMA, perhatiannya segera beralih ke
komputer. Selama di Harvard, hubungannya dengan Allen tetap dekat. Bill
dikenal sebagai seorang jenius di Harvard. Bahkan salah seorang guru Bill
mengatakan bahwa Bill adalah programmer yang luar biasa jenius, namun
seorang manusia yang menyebalkan.

Desember 1974, saat hendak mengunjungi Bill Gates, Paul Allen membaca
artikel majalah Popular Electronics dengan judul "World`s First
Microcomputer Kit to Rival Commercial Models". Artikel ini memuat tentang
komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill
Gates. Mereka menyadari bahwa era "komputer rumah" akan segera hadir dan
meledak, membuat keberadaan software untuk komputer - komputer tersebut
sangat dibutuhkan. Dan ini merupakan kesempatan besar bagi mereka.

Kemudian dalam beberapa hari, Gates menghubungi perusahaan pembuat Altair,
MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Dia mengatakan bahwa dia
dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja
ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode
pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dalam
waktu 8 minggu BASIC telah siap. Allen menuju MITS untuk mempresentasikan
BASIC. Dan walaupun, ini adalah kali pertama bagi Allen dalam mengoperasikan
Altair, ternyata BASIC dapat bekerja dengan sempurna. Setahun kemudian Bill
Gates meninggalkan Harvard dan mendirikan microsoft.

Kisah Bill Gates Meninggalkan Harvard Demi Mengejar Impian

Ketika ia bosan dengan Harvard, Gates melamar pekerjaan-pekerjaan yang
berhubungan dengan komputer di daerah Boston. Gates mendorong Paul Allen
untuk mencoba melamar sebagai pembuat program di Honey-well agar keduanya
dapat melanjutkan impian mereka untuk mendirikan sebuah perusahaan perangkat
lunak.

Pada suatu hari di bulan Desember yang beku, Paul Allen melihat sampul depan
majalah Popular Mechanics, terbitan Januari 1975, yaitu gambar komputer
mikro rakitan baru yang revolusioner MITS Altair 8080 (Komputer kecil ini
menjadi cikal bakal PC di kemudian hari). Kemudian Allen menemui Gates dan
membujuknya bahwa mereka harus mengembangkan sebuah bahasa untuk mesin kecil
sederhana itu. Allen terus mengatakan, Yuk kita dirikan sebuah perusahaan.
Yuk kita lakukan.

Kami sadar bahwa revolusi itu bisa terjadi tanpa kami. Setelah kami membaca
artikel itu, tak diragukan lagi dimana kami akan memfokuskan hidup kami.
Kedua sahabat itu bergegas ke sebuah komputer Harvard untuk menulis sebuah
adaptasi dari program bahasa BASIC. Gates dan Allen percaya bahwa komputer
kecil itu dapat melakukan keajaiban. Dari sana pula mereka mempunyai mimpi,
tersedianya sebuah komputer di setiap meja tulis dan di setiap rumah tangga.

Semangat Allen dan Gates tidak percuma, dan dari sana mereka mendirikan
perusahaan "Microsoft". Berawal dari komputer kecil itulah yang menjadi mode
dari segala macam komputansi. Dan sekarang bisa Anda lihat bahwa Microsoft
telah benar-benar menjadi bagian dari kebutuhan komputansi di seluruh dunia.
Dan hampir setiap orang mengenal Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia
saat ini.

"Orang yang sukses adalah
orang yang memiliki mimpi
dan keyakinan bahwa mimpi itu akan dapat terjadi
berapapun harga yang harus ia bayar…"


Saya dan temen2 sedang berolahraga di Kawasan UI
Posted by Picasa

" Kasih Ibu "

" Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap
kembali bagai sang surya menyinari dunia.." sebuah lagu simpel yang
menggambarkan betapa besarnya kasih ibu kepada kita... ada beberapa hal yang
patut anda renungkan... . sebagai berikut :

pada saat umur ku satu tahun dia yang mengasih ku makan, dia yang memandikan
ku, ku balas dengan menangis sepanjang malam

pada saat umur ku 2 tahun dia yang melatih ku untuk berjalan ku balas dengan
melarikan diri pada saat dia butuh dengan ku,

pada saat umur ku 3 tahun dia selalu bikin makanan yang sangat enak untuk ku
ku balas dengan membuang piring ke lantai,

pada saat umur ku 4 tahun dia kasi ku kertas dan pencil agar ku mulai
belajar ku balas dengan curat-curit dinding,

pada saat umur ku 6 tahun dia yang antar ku ke sekolah ku balas dengan
teriak " nggak mau bergi ke sekolah,

pada saat umur ku 12 tahun dia selalu nasehati ku , berpenampilan yang baik
ku balas dengan kata "ini kan gaul"

pada saat umur ku 15 tahun dia selalu menanti ku pulang dengan penuh kasih
sayang ku balas dengan tutup pintu kamar ku,

pada saat umur ku 17 tahun dia selalu kasih ku uang piknik untuk ke laur
kota ku balas dengan tidak pernah telpon ke padanya,

pada saat umur ku 19 tahun dia selalu serius perhatikan masa depan ku tapi
balasan ku tidak ada perhatian apa pun terhadapnya,

pada saat umur ku 24 tahun dia tanya calon istri ku tentang persiapan nikah
ku marah dengan mengatakan " ibu jagan turut campur urusan kami"

pada saat umur ku 25 tahun dia yang siapkan segala biaya pernikahan kami
dengan susah payah
ku balas dengan tinggal di tempat jahu darinya,

pada saat umur ku 30 tahun dia selalu telpon memberi nasehat tentang
pendidikan anak-anak,
tapi ku berterimakasih dengan mengatakan "ini zaman udah berubah bu!"

pada saat umur ku 35 tahun dia mengasih tahu bahwa dia dalam keadaan sakit
hanya ku berjawab "ya nanti!! aku ini lagi sibuk".

pada suatu hari, ibu ku meninggal,senantias a kasih sayangnya masih ada dalam
hatinya.
segala usahanya yang penuh kasih sayang pada ku, tidak bikin hati ku
bergerak atau perhatian denganya.

ini adalah penyesalan dari seseorang yang ibunya telah pergi.

"wahai teman ku jagan lah antum seperti ku,jika orang tua anda masih ada
selalu lah dekati mereka dan jagan lupa segala kasih sayangnya, berbakti lah
pada mereka dengan sunguh-sunguh, agar mereka bahagia serta mendapatkan
ridanya, anda tidak bakal sukses dalam segal urusan maupun bahagia,jika anda
menyakiti hati dua orang tua anda.wahai teman ku…aku sangat ingin ibu ku
bisa balik hidp
walau pun sekejap,agar aku bisa cium kakinya minta maaf".

ini adalah komentar sahabatnya :

"ku kejamkan mataku prihatin terhadap sahabatku, Bingung seorang ibu itu
adalah karunia yang luar biasa, tapi sayang sekali tidak ada yang menghargai
sebuah karunia ini,kecuali seorang
ibu itu sudah tidak ada. ini adalah kesempatan meraih pahala
sebanyak-banyaknya,
selama dua orang tua kita masih hidup,kapan lagiii, pada hal dalam Hukum Tuhan yang ke lima diperintahkan untuk berbakti
kepada dua orang tua,
Dalam senang dan cemas menanti kelahiran buah hati yang tinggal 2 bulan lagi

artikel ini diambil dari sebuah forum dudung.net dan dimodifikasi sedikit

Senin, 06 Oktober 2008

பெர்கன்தியான் Kapolri

Tindakan pemerintah yang hanya mengusulkan satu calon pengganti Kapolri sebenarnya masih menimbulkan banyak pertanyaan di benakku. Dari obrolan santai sambil minum teh dengan kawan-kawan ada beberapa hal yang menarik dari obrolan kami terkait isu Bambang H.D yang bakal mengganti Jend.Sutanto. hal yang utama adalah terkait kepentingan yang sarat dengan politik. Ceritanya bahwa Pak Bambgan ini dekat dengan Pak SBY juga so, jika dihububgkan dengan Pemilu 2009 yang sudah makin dekat artinya kepentingannya disitu.

Tapi kemudian jika ditelusuri tata cara pemilihan/pengangkatan kapolri ternyata harus melalui uji kepatutan dan kelayakan dari DPR juga. Dan dari berita surat kabar bahwa ternyata DPR secara aklamasi menerima Bambang H.D sebagai pimpinan kapolri, artinya beliau memang kompeten untuk memegang jabatan itu.

Semasa kepemimpinan Bapak Sutanto kita bias lihat judi dan Togel yang hilang dari peredaran. Pungli-pungli yang berkurang dan banyak lagi gebrakan lain yang walaupun tidak berjalan secara total. Namun setidaknya hal itu telah membawa sedikit perubahan citra polisi yang ternyata kemudiasn rusak oleh tindakan polisi uyang sering salah tangkap dan berbuat semena-mena dalam mengadakan pemeriksaan kepada tersangka.

Sekarang kita masyarakat tinggal menunggu apa gerangan gebrakan yang akan dibuat oleh bapak Kapolri yang baru.

RUU Pornografi

Efektifitas pembentukan Undang-undang pornografi seharusnya menjadi sororotan para anggota dewan yang terhormat (terhormat dari sisi apa yaaa???) sehingga mereka tidak asal membentuk Undang-undang. Karena jika kita amati perkembangan isu RUU pornografi yang ada begitu banyak kontroversi yang timbul. Definisi pornografi masih rancu dalam pikiran masyarakat karena pengaruh budaya. Jika misalnya dalam klausul RUU itu disebutkan “mempertontonkan aurat di muka umum” maka akan diberi sanksi. Bagaimana dengan warga Bali yang sehari-harinya “telanjang” untuk mendapatkan nafkah karena Bali adalah kota pariwisata. Bagaimana dengan penduduk yang pekerjaannya melukis yang juga menghasilkan karya seni, apakah RUU pornografi tersebut akan mematikan kreatifitas mereka? Bagaimana dengan warga Papua yang sehari-harinya juga telanjang atau hanya memakai koteka? Berapa banyak penduduk/warga Negara yang dirugikan dengan disahkannya RUU pornografi ini nantinya?

Ataukah kemudian akan ada pengecualian berlakunya RUU ini bagi daerah-dareah tersebut? Padahal seharusnya UU berlaku secara nasional yaitu berlaku bagi seluruh darah Nusantara mulai dari barat hingga ke timur, dari Sabang sampau Merauke. Jika alasan DPR dan Presiden ingin membatasi tingkah laku warga yang sudah semakin parah moralnya secara khusus dalam pornografi seharusnya bisa diakomodir dalam Perda saja sehingga jangkauan berlakunya hanya bagi daerah tertentu saja dan bukan dalam undang-undang.

Tapi ngomong-ngomong terlalu lancang ya DPR/anggota dewan kita yang terhormat mengurusi masalah pornografi yang nota bene beliau-baliau yang terhormat juga “main perempuan” yang justru itu sudah melampaui batas pornografi dan pornoaksi. Seharusnya mereka sadar diri dulu donk biar masyarakat juga bisa berterima. Kata orang bijak” Disiplinkan dulu diri sendiri baru disiplinkan orang lain”.

Saran saya, jika memang kita melihat bahwa pornografi ataupun pornoaksi di Negara ini sudah parah ataupun pada level sangat parah tidak perlu membuat undang-undang yang justru itu menghabiskan buuaannyyaakkk bangat uang rakyat yang disetor kepada Negara. Hal yang perlu kita lakukan adalah peningkatan pemahaman terhadap ajaran agama masing-masing. Karena jika kita sadar dalam ajaran agama kita semuanya menentang perbuatan kotor, jahat, atau tidak baik. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berbuat jahat atau berbuat kotor. Artinya kedudukan dan norma agama yang perlu kita bina melalui ajaran agama masing-masing. Seperti agama Kristen dalam Alkitab mengajarkan hal-hal yang sepatutnya kita perbuat agar semakin dekat dengan TYME, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berjinah, tidak mengingini barang orang lain, hormat pada orangtua, dll. Dan saya yakin ajaran agama yang lain juga pasti mengajarkan demikain.

Jadi jika memang Negara ini mau membangun ketertiban, keamanan atau ketentraman dalam masyrakat marilah kita benahi norma agama, marilah kita taati norma agama masing-masing. Tidak harus mengaturnya dalam undang-undang yang membuat masyarakat justru ribut dan manghabiskan anggaran yang sangat besar. Cobalah untuk berpikir sederhana untuk sementara.

Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor