Kamis, 15 Mei 2008

MENYAMBUT SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL

MENYAMBUT SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL

Semenjak Negara Indonesia merdeka (“bebas”), banyak lika-liku sejarah yang dilewati dan bahkan hampir terlewatkan begitu saja tanpa ada evaluasi atau koreksi akan kejadian yang terjadi. Para pemimpin Negara ini hanya mementingkan kepentingan kelompoknya saja atau pribadinya sendiri tanpa menaruh kepedulian yang lebih kepada rakyat yang kini menderita oleh karena ulah mereka yang tidak berpihak kepada rakyatnya sendiri. Kebijakan-kebijakan yang kini timbul cenderung menguntungkan para investor-investor asing dan mengabaikan nasib rakyat dengan harapan bahwa kebijakan yang ada akan membuat bangsa ini lebih baik. Dan memang ternyata benar, harapan tinggal harapan tanpa kita tahu kapan harapan itu akan terwujud menjadi sebuah kenyataan yang boleh dinikmati bersama oleh seluruh umat Indonesia.

Mungkin para pelopor bangsa ini tidak cukup jika hanya menangis melihat kondisi bangsa sekarang yang semakin terpuruk tapi mereka akan marah besar dan bahkan akan mencampakkan indonesianer-indonesianer yang tidak berbuat apa-apa terhadap bangsa, yang justru merusak citra murni bangsa ini. Padahal mereka berharap kita para generasi penerus dapat meneruskan perjuangan mereka dengan mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita yang tidak seberat beban mereka dalam mencapai kemerdekaan itu sendiri.

Seiring dengan Menyambut seabad Kebangkitan Nasional, maka sudah seharusnya kita mengembalikan roh bangsa ini pada wujudnya sebab kita telah lama kehilangan roh tersebut. Rasa nasionalisme, patriotisme, kegotong-royongan, musyawarah mufakat, toleransi, sopan, ramah-tamah, dan banyak lagi roh yang harus kita gali.

Budaya korupsi (terlepas setuju atau tidak) adalah bukan roh bangsa kita, tapi mengapa justru korupsi itu yang mengakar kuat di bangsa ini? Dimana letak mental bangsa kita? Apakah kita semua bermental tempe? Apakah kita sudah buta akan kebajikan? Apakah kita harus merugikan orang lain demi keuntungan pribadi? Apakah kita harus terus didikte oleh Negara sebelah? Apakah kita terus bertahan dengan kondisi demikian?

Masih segar diingatan kita masing-masing akan lirik lagu “tongkat ditanam jadi bambu” karya Koes Plus. Artinya negeri ini amat subur, banyak potensi Sumber Daya Alam yang bisa kita manfaatkan demi kesejahteraan bersama. Tapi kenyataan Sumber Daya Manusia kita tidak mendukung. Saya yakin bukan manusia (secara inteligensia) yang bodoh karena dibeberapa ajang olimpiade Internasional Negara Indonesia tidak kalah saing tapi manusia Indonesia saja yang malas dan tidak mau berusaha. Indonesianer-indonesianer yang mempunyai kemampuan ilmu pada kenyataan justru mengabdi di Negara lain dengan alasan gaji atau penghasilan yang mereka peroleh di luar jauh lebih besar dan banyak fasilitas yang mereka dapatkan. Di lain sisi pemerintah kita tidak menaruh perhatian yang serius kepada anak bangsa yang berprestasi. Anak bangsa yang memperoleh prestasi di dunia Internasional baik di bidang olahraga, akademis, sains dan tekhnologi, budaya dan bidang lainnya ternyata tidak diakomodir oleh pemerintah sehingga mereka bisa meningkatkan prestasinya. Atau yang paling ngeri justru Negara lain yang membiayai dan kontraknya harus bekerja untuk dan atas nama Negara mereka juga. Sungguh malu kita akan kejadian tersebut.

Apakah kita harus sepakat dengan judul sebuah buku “INDONESIA BUBAR”. Sungguh sangat ironis perjalanan bangsa ini. Sampai-sampai ada anak bangsa yang berpikiran demikian, yang tidak yakin lagi akan kondisi bangsanya sendiri. Memang semua fakta yang dijabarkan benar adanya dan akurat, tapi haruskah demikian?

Mari berpikir, bersikap, dan berkarya buat bangsa tercinta ini. Karena bangsa ini adalah milik kita bersama, jangan biarkan hanya mereka-mereka saja yang menjamah dan mengobok-obok. Tapi kita juga harus ikut menaruh goresan indah dalam sejarah kelak.

SALAM PERJUANGAN

SINURAT MEKAR.

Jumat, 09 Mei 2008

" Kesempatan Kuliah "


Saya pribadi sangat “’BERUNTUNG”’ boleh kuliah atau mengecam pendidikan di Perguruan Tinggi sekarang. Karena sebelumnya saya terhambat dana dari keluarga. Seandainya pun boleh kuliah paling tidak di daerah Sumatera karena biaya kuliah dan living cost relative masih lebih murah.

Saya akan memaparkan apa yang saya pahami tentang kesempatan kuliah ini. Yang pertama dari sisi filosofi sosialnya. Satu hal yang pasti menurut saya tidak semua orang bisa memiliki kesempatan ini. Banyak factor intern dan ekstern yang berpengaruh di dalamnya. Kalau kita hanya berbicara sebatas “Pendidikan” (Wajar / Wajib belajar) kita boleh menuntut pemerintah yang mencanangkan programnya Wajar sampai 9 tahun bahkan sampai 12 tahun. Tapi yang pengen kita diskusikan disini adalah Kesempatan kuliah>>> Perguruan Tinggi.

Zaman sekarang yang boleh kuliah itu adalah orang-orang yang punya kemampuan atau mapan secara ekonomi, sedangkan yang kemampuannya di bawah rata-rata akan terus didesak kebodohan dan kemiskinan. Itu adalah realita yang bisa kita lihat di setiap pelosok atau penjuru di negeri ini. Program jalur beasiswa yang diberikan oleh pihak pemerintah atau swasta kepada orang yang kemampuan ekonominya lemah hanyalah untuk sebagian orang saja yang “’BERUNTUNG”’ mendapatkannya. Menurut pengamatan saya pribadi pemerintah sekarang kurang konsisten membina system pendidikan nasional. Boleh kita lihat justru pihak swasta yang lebih dominan daripada pemerintah. Makanya kulaitas pendidikan atau sumber daya manusia binaan sekolah swasta daripada negeri cenderung lebih baik didukung oleh fasilitas yang mereka miliki. Seharusnya pendidikan dijadikan nomor satu, setuju gak teman-teman? Para wakil rakyat sekarang yang duduk di parlemen sudah lupa berdiri lagi, dibuai oleh empuknya kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki. Mereka lupa akan janji-janji manis yang mereka tawarkan saat kampanye dulu. (Kalau sudah duduk lupa berdiri lagi: iklan), sehingga pendidikan terabaikan. Kalau rekan-rekan membaca kompas beberapa hari yang lalu, memang sungguh malang nasib pendidikan kita. Kabupaten Kutai sebagai Kota terkaya di negeri ini yang memiliki gedung-gedung mewah disana-sini, pendapatan penduduk yang besar, kantor-kantor yang mempunyai fasilitas wah, dirusak oleh hadirnya sekolah yang atapnya bocor, dindingnya hancur. Itu suatu realita pendidikan bukan?

Kembali ke topic kesempatan kuliah…

Jika saya tinjau dari sudut religionya maka kesempatan kuliah ini adalah sebuah anugerah yang agung dari Sang Whidi kepada kita ciptaanNya. Dia telah memberikan “kuasa” kepada kita atas segala yang ada di muka bumi ini sehingga kita dilengkapi akal budi. Kita semua tahu secara hakiki tujuan kita kuliah buat apa (gak perlu saya utarakan). Makanya kesempatan kulah ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Rekan-rekan jangan mau terjebak dengan fenomena social yang terjadi sekarang, tetaplah berpegang pada paham idealisme masing-masing. Karena negeri ini sudah sarat dengan politik yang kurang mendidik. Jika saya boleh berkesimpulan, Bangsa ini adalah bangsa yang Bodoh (terlepas dari kekecewaan emosional). Knowing minds kita kurang terasah…(pinjam istilah)

Coba rekan-rekan sekalian… perhatikan beberapa Perguruan Tinggi atau Lembaga Pendidikan sekarang. Seringkali terlibat tawuran atau bentrok antar mahasiswa. Pertanyaannya lagi, wajarkah lembaga pendidikan berbuat seperti itu?

Makanya, tak pelak jika pendidikan sekarang menghasilkan lulusan-lulusan yang minus moral yang merupakan salah satu pilar yang dominan di belantara pendidikan.

Okelah rekan-rekan tercinta,,, itu yang bisa saya paparkan. Saya sangat menerima kritik dan saran dari anda jika kurang atau bahkan tidak setuju dengan pendapat saya. Awak hanyalah manusia biasa juga. Maaf juga, konstruksi berpikir saya dalam menulis ini kurang sempurna hingga alurnya agak bergejolak. Tapi saya yakin itu adalah kebiasaan yang bisa dilatih.

Salam Perjuangan dari saya,,, MERDEKA… MERDEKA… MERDEKA!!!

Sinurat Mekar.
Translate
TINGGI IMAN - TINGGI ILMU - TINGGI PENGABDIAN

Visitor